Chapter 5 - Sweet Chaos

506 57 2
                                        

When you see me
Maybe I might seem like a fool
But I don't care
I like it anyway
It's a sweet chaos

I'm anxious
About everything
But I like

-

Ryu Sunjae merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar dengan pikirannya yang kosong. Seperti film yang diputar mundur, berbagai hal melintas di kepalanya: kehadiran  Im Sol yang tiba-tiba di tempatnya manggung, pesan Im Sol saat Ia ketinggalan bus pulang, perjalanannya menuju pension bersama Im Sol, lalu... bagaimana dia bisa lupa dengan apa yang terjadi di dalam mobil?

Sunjae memeluk bantal, seraya menutup wajahnya yang terasa panas. Seolah-olah dengan begitu, Ia bisa mengusir segala macam pikiran yang berlalu lalang di kepalanya. Pikiran-pikiran yang membuatnya meragukan julukan yang diberikan abeoji padanya: 'lelaki semurni oksigen'. Dibalik bantal yang Ia dekap erat menutupi wajah, Sunjae susah payah menyebunyikan senyumnya. Tentu saja, Ia gagal. Semurni oksigen apanya?

Kehadiran Im Sol membuat Sunjae merasakan berbagai hal baru yang tak pernah dirasakannya. Bagaimana sosok seseorang bisa membuat hatinya berdebar tak terkendali, bagaimana senyuman seorang wanita bisa memancing kupu-kupu di dalam perutnya berterbangan tak karuan, sekaligus menyadari bahwa rasa cemburu bisa menjadi begitu menyebalkan.

Dalam sekejap, senyuman Sunjae menghilang. Tak pernah ada dalam bayangan Ryu Sunjae kalau suatu saat seorang Baek Inhyuk akan membuatnya cemburu. Sunjae mengenal Inhyuk lebih dari separuh masa hidupnya. Baek Inhyuk tahu segala hal tentang Sunjae, sebagaimana Sunjae tahu segala hal tentang Baek Inhyuk. Inhyuk yang merantau sendirian dari Danpo-ri ke Seoul membuatnya sudah seperti saudara Sunjae sendiri. Saat SMA, abeoji mengajaknya makan bersama di rumah setiap hari. Inhyuk practically sudah seperti tinggal di rumah Sunjae.

Jika dipikir-pikir, meskipun Inhyuk bercerita tentang semua hal pada Sunjae sejak SMA, Inhyuk tidak pernah bercerita tentang hubungan romantisnya dengan siapapun. Di kepala anak itu, hanya ada musik. Impiannya menjadi musisi membuatnya nekat hidup sendiri sejak SMA. Impian menjadi musisi membuat Baek Inhyuk tak berpaling kemana-mana. Jika saja Sunjae dulu tak cedera, fokusnya menjadi atlet renang pasti sama seperti fokus Baek Inhyuk untuk menjadi musisi.

Sunjae tak pernah cerita pada Inhyuk karena memang sebelum bertemu Im Sol, dalam hidupnya memang tak pernah ada siapa-siapa. Tapi mungkin, Baek Inhyuk tak pernah cerita karena Sunjae tidak pernah bertanya.

Sunjae mengacak-acak rambutnya, masa 'sih dari seluruh perempuan yang ada di dunia, harus Im Sol orangnya? Sunjae tahu terlalu dini untuk menganggap Inhyuk menaruh perasaan istimewa pada Im Sol, tapi kemungkinan kecil kan bukan berarti tidak ada.

Sunjae tahu semua hal tentang Baek Inhyuk. Karenanya, Sunjae jadi gusar. Sunjae seolah melihat benang merah tak kasat mata antara Baek Inyuk dan Im Sol. Impian Inhyuk untuk menjadi musisi serta impian Im Sol untuk menjadi aktris: dua orang yang punya tekad dan mimpi yang sama besarnya.  Mimpi dan tekad, adalah dua kata yang sudah bertahun-tahun menjadi asing baginya.

Sunjae menghela nafasnya dengan berat, mungkin seharusnya Ia tidak meminta Im Sol untuk datang ke acara fansign. Dengan begitu, Baek Inhyuk tidak akan berkenalan dengan Im Sol, mereka tidak akan saling bertukar cerita, dan membuat Sunjae merasa ditinggalkan. 

Tidak tahan, Sunjae bangkit dari tempat tidurnya. Ia merebak selimutnya dengan satu hentakan kasar, lalu memakai slippernya dengan terburu-buru. Asumi-asumsi ini membuatnya hampir gila. Ini tidak bisa dibiarkan. Pada akhirnya, pikiran impulsive Sunjae menang.

Sunjae membuka pintu kamar, melangkahkan kakinya dengan terburu-buru ke kamar Inhyuk. Sesampainya di depan pintu kamar, Sunjae hanya mengetuk sekali – tanpa menunggu respon balasan dari Inhyuk, Sunjae langsung membuka pintu lalu masuk ke dalam kamarnya.

The Fox RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang