Chapter 7 - Man in the Movie

573 59 4
                                        

Since I have you, I don't want anything else.

This moment just feels perfect, I'm a man in a movie.

-

Dalam industri entertainment, beauty standard yang semakin lama semakin tak masuk akal membuat mereka yang dianggap tak memenuhi 'selera' pasar tersingkir duluan. Jika jarak antara kedua mata yang terlalu lebar saja bisa dinilai sebagai cela, hanya mereka yang dianggap kecantikannya di luar nalar lah yang mampu bertahan. Kemudian, keberuntungan hampir selalu menyertai mereka yang rupawan. Beauty privilege – keistimewaan jadi orang yang cantik – didahulukan, diprioritaskan, diperhatikan, dan dipilih dan sejuta keuntungan lainnya yang mereka bisa dapatkan tanpa perlu bersusah payah.

Namun di dunia ini, wajah rupawan dan beauty privilege saja tidak cukup. Ketika semua orang rupawan dan beruntung ini berkumpul di dalam satu tempat, belomba-lomba untuk mendapatkan peran maupun kesempatan, mereka butuh satu hal lagi yang lebih kuat: koneksi.

Koneksi menentukan siapa yang terlibat dan siapa yang diabaikan. Memilih siapa yang diajak dan siapa yang ditinggalkan. Menunjuk siapa yang layak dipertahankan dan siapa yang layak dibuang.

Koneksi menjadi dinding tinggi tak kelihatan antara mereka yang telah memiliki nama besar dan mereka yang baru datang. Menjadi kekuatan bagi siapapun yang memilikinya, dan menjadi kelemahan bagi yang tidak. Koneksilah yang memberikan kekuatan kepada artis sekelas Min Sera untuk mendapatkan segala keinginannya. Dan pada akhirnya, koneksi jugalah yang membuat Ryu Sunjae dan Im Sol tak bisa melawan keinginan tersebut.

Ryu Sunjae dan Sol duduk saling berhadapan pada satu meja di toko es krim itu. Cup es krim yang berada di depan mereka seolah hanya properti – tak ada yang peduli meski setengah isinya sudah meleleh. Tak satu suapan pun berhasil mampir masuk ke mulut. Meski mereka saling berhadapan, mata mereka tak saling berpandangan.

Im Sol menyandarkan bahunya ke kursi, melamun, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sementara Sunjae memandang lurus ke arah Sol, seraya menopang dagu dengan tangan kirinya.

"Sol-ah," Sunjae memandang Im Sol dengan khawatir. Sunjae tak menyesal karena telah membela Sol. Tak boleh ada orang yang memperlakukan Im Sol nya seperti itu – termasuk Min Sera. Namun, setelah mengetahui konsekuensi atas kemarahannya barusan, perasaan bersalah mulai merayapi dirinya. Ia mulai mempertanyakan jika sebenarnya ada cara yang lebih tak ceroboh daripada apa yang dia lakukan. Ia tak masalah kalau dirinya yang menerima akibatnya, namun, jika Sol harus ikut menanggung konsekuensi dari tindakannya yang sembrono, bagaimana bisa Sunjae tak merasa bersalah?  "Gara-gara aku... Maafkan aku... ya?"

Sol menoleh, gadis itu balas memandang Sunjae dengan tatapannya yang kosong. Diam-diam, Sunjae mempersiapkan diri kalau-kalau Sol akan memakinya habis-habisan. Bagaimanapun, Sol punya hak untuk marah. Oleh karenanya, dengan kepala tertunduk, Sunjae memandang Sol dari balik bulu matanya, takut-takut.

Namun, alih-alih marah, pandangan Sol tiba-tiba melembut. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah Sunjae, pandangannya seolah menuntut Sunjae untuk menatap matanya dengan keberanian yang sama. Im Sol tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.  "Sunjae-ya, kau tidak perlu minta maaf."

Sunjae berusaha mencari jejak kepura-puraan pada matanya, pada ekspresi wajahnya, pada suaranya. Namun nihil. Ada berbagai macam emosi di dalam sorot mata gadis itu – namun amarah bukanlah salah satunya. "Memang sayang sekali kita dikeluarkan dari drama itu. Tapi yah... bad days do happen sometimes."

Sol mengulurkan tangannya, menyentuh ubun-ubun kepala Sunjae, mengelusnya perlahan sembari tersenyum kecil. Awalnya, Sunjae kira dialah yang lebih mengkhawatirkan Im Sol, bahwa Sunjae lah yang harusnya menghiburnya, yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, lalu bertanggung jawab untuk memperbaiki semuanya. Awalnya, Ia lah yang berpikir Ia yang seharusnya menghibur Im Sol dan bukan sebaliknya. Namun Sunjae salah. Dari cara Sol mengelus kepala Sunjae lembut, Sunjae menyadari bahwa Im Sol juga merasakan  hal yang sama dengannya. Tak peduli dengan seberapa mengkhawatirkannya posisi mereka saat ini, bukan diri sendirilah yang mereka cemaskan.

The Fox RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang