Chapter 8

1.4K 78 23
                                        

Ada banyak pantai yang indah di pulau Jeju. Namun, beberapa yang terindah biasanya letaknya tersembunyi di belakang hotel-hotel mewah menawarkan pemandangan yang eksklusif bagi para tamunya. Namun, binar di mata Im Sol saat gadis itu memandangi foto salah satu pantai cantik tersebut di sebuah blog, Sunjae memutuskan mereka tak boleh melewatkannya. Di foto, pantai itu kecil, berpasir putih, dengan air laut berwarna toska, didekorasi dengan megahnya beberapa kincir angin yang membuatnya berbeda.

Sol sempat ragu, tak yakin apakah pantai itu bisa dikunjungi meskipun mereka tidak menginap di hotel. Sunjae lalu mencari tahu sekilas lewat SNS, menemukan satu postingan yang memberikan tips cara berkunjung ke pantai itu tanpa harus jadi tamu.

Tak sampai lima belas menit, di sinilah mereka. Bus yang mereka tumpangi berhenti di salah satu hotel chain termewah yang dimiliki oleh konglomerat nomor satu Korea. Sejujurnya, Sunjae pikir bus akan berhenti di halte di sekitar hotel, namun ternyata prediksinya salah. Bus itu berhenti tepat di lokasi drop-off hotel membuat mereka seperti benar-benar tamu hotel. Beberapa bellboy langsung sigap menghampiri bus yang mereka tumpangi. Pemandangan tersebut sejujurnya membuat nyali Sunjae agak ciut dan mempertanyakan kembali idenya.

"Sunjae-ya, kau yakin kita turunnya di sini?" Sol berbisik, matanya awas menghitung bell boy yang menunggu mereka di luar bus. "Jangan-jangan pantainya memang eksklusif hanya untuk yang nginap..."

Sunjae menegakkan badannya, mengecek keadaan di luar. Meski Sunjae jadi sedikit ragu, di depan gadisnya, Ia tak boleh terlihat begitu. Sol bahkan tidak minta sesuatu yang mahal, setidaknya Sunjae bertekad bahwa Ia bisa mengajak Sol ke tempat yang Ia mau. "Pasti bisa. Kita coba turun dulu saja,"

Sunjae beranjak dari tempat duduknya, melangkah keluar bus, yang diikuti dengan Sol. Ketika melewati para bellboy di luar bus, Sunjae dan Sol memberikan senyum tipis sebelum melewati mereka. Sunjae mengangkat dagunya sedikit, pura-pure pede, pura-pura cuek. Ia mengamit tangan Sol saat gadis itu turun, kemudian berjalan bersamaan menjauhi pintu masuk hotel. Keduanya tak lagi menoleh ke belakang, menghindari para bellboy yang mungkin sedang menatap mereka sambil bertanya-tanya.

Mereka mengedarkan pandangan, mencari jalan setapak sesuai rekomendasi blog yang mereka baca dengan buru-buru. Orang itu bilang, meskipun letak pantainya berada di belakang hotel, sebenarnya pantai itu tidak private-private amat. Siapapun bisa datang ke sana dengan melewati jalan setapak menurun yang membelah tebing di samping hotel. Katanya, batas area hotel dan yang bukan cukup jelas. Jadi, asal mereka tidak melompati pagar, seharusnya tidak akan kena masalah.

"Sol-ah, sepertinya di situ," Sunjae menunjuk sisi pojok kanan hotel. Sesuai yang dibacanya, di balik tanaman rimbun itu, ada jalan menurun kecil. Sunjae mempererat genganggamannya, kemudian mempercepat langkah ke arah yang ditunjuknya barusan.

Sunjae benar. Jalan setapak itu memang ada. Jalannya memang sedikit terjal dan tak beraspal, namun kelihatannya tetap bisa dilewati. Saat mereka menapaki jalan menurun, Sunjae tak henti-hentinya berbalik badan, mengecek keadaan Im Sol meskipun genggaman tangan Sol tidak kunjung Ia lepaskan. Sunjae memastikan Sol memijak tanah yang aman, menjaganya sampai pijakannya cukup stabil sebelum gadis itu melangkah ke anak tangga yang selanjutnya.

Mata Im Sol tertuju pada punggung Sunjae yang lebar. Ia tersenyum kecil. Apa yang Sunjae lakukan padanya, perhatiannya, penjagaannya, semuanya selalu sukses membuat hatinya berdesir hangat. Segala afeksi yang lelaki itu tunjukkan terasa begitu tulus dan tak dibuat-buat. Sol tahu, bisa jadi Ia menyimpulkannya terlalu cepat – mereka baru pacaran, dan seperti kata orang – sedang hangat-hangatnya. Tapi Sol percaya, atau dia ingin percaya, bahwa Sunjae bukan orang seperti itu. Kehangatan dan perhatiannya bukan sesuatu yang fana.

Semilir angin musim dingin yang bercampur dengan aroma air laut tercium ketika penampakan pantai yang mereka tuju sudah di depan mata. Sunjae merasakan genggaman tangan Sol perlahan berubah menjadi erat, menandakan antusiasme gadis itu yang kian meningkat. Tak mau kehilangan pemandangan yang berharga, Sunjae melirik ke wajah Sol, mendapati wajah gadis itu yang berbinar-binar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 30, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Fox RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang