Tiga hari pasca di rawat Verapun ahirnya di perbolehkan pulang.
"Sementara kita tinggal di rumah mbak Nila dulu Ver, maklum rumah kita masih dalam proses perbaikan. (Mbak Nila adalah kaka kandung mbak Nayla mereka dua bersaudara) Vera hanya diam Nayla menyadari jika sang adik kini sedang memikirkan sesuatu hal.
"Kamu kenapa? kamu jangan terlalu di bawa banyak pikiran nanti malah bikin kamu sakit lagi.
"Aku. Aku cuma inget Tania mbak aku sedih sekarang Tania udah ngga ada mba padahal malamnya kita berencana mau tidur di rumahnya mba malah kejadianya gini
"Iya mbak ngerti kamu pasti merasa terpukul tapi satu hal yang harus kamu inget Ver, setiap yang bernyawa pasti akan mati pun juga dengan kita ntah kapan waktunya. Disini tugas kita adalah menyiapkan bekal sebanyak banyaknya bukan begitu?
Udah sekarang kamu makan terus minum obat dan langsung istirahat, nanti kita ke makam Tania setelah kamu udah benar benar sehat.
"Mbak mau kewarung depan sebentar mau belanja terus bantu bantu mba Nila dan ibu ibu lainnya masak buat makan siang orang yang kerja di rumah kita. Oh ya Ver nanti malam kamu tidur sama Intan ya" Vera hanya mengangguk setelah selesai membantu Vera Naylapun gegas pergi ke warung ia membeli tiga papan tempe.dua bungkus tahu berikut beberapa sayuran juga kebutuhan memasak lainya. Setelah di rasa cukup Nayla lekas membayar jumlah total belanjaanya dan segera pulang dengan sepeda motornya.
"Ini masakanya udah beres Nay tinggal mbak bikin sambal dulu bentar habis itu kita antar ke rumahmu Nay.
"Iya mbak, tapi tadi katanya biar mas Budi aja mbak yang bawa kesana.
"Oalah yo wes skarepmu aja gimana baiknya. Ujar ibu ibu yang lainnya yang ikut rewang di rumah Nila. Jarak rumah Nila dengan rumah Nayla lumayan jauh jika dengan berjalan kaki karna beda kampung. Nayla sangat bersyukur karna meski kini ia tak lagi tinggal di sini namun ibu ibu di kampungnya masih sangat peduli bahkan mereka akan dengan suka rela bergotong royong membantu jika ada tetangga yang sedang tertimpa musibah.
