Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tertanda di sana,
sidik jari di sebelah kiri
kusen jendela fakultas hukum
posisi kedua dari kanan
lantai tiga.
***
"Pake kereta we ke sininya."
"Anying, meni 'ba gaya."
"Atuh pan karunya daripada macet waé."
"Bongan saha imahna beda planet."
"Goblog."
Sabisma Hardialas hanya terkekeh ketika teman-temannya berebut kontribusi untuk membantu ia keluar dari masalah klasik orang Indonesia itu. Tapi sejujurnya, ia tak terlalu mengindahkan usulan-usulan iseng mereka, yang ia lirik berkali-kali justru dara di kantin teknik yang tengah khusyuk menikmati bekalnya.
Pipinya mengembu lucu, alisnya sesekali bertaut seiring munculnya hal entah-apa di layar laptopnya.
"Kata maneh gimana, Bim?"
"Cewek."
"Hah?"
Dua kali tepuk di bahu seolah jadi pesan pamit implisit. Ia tinggalkan apapun yang tengah diperdebatkan oleh cowok-cowok berprinsip kudu-kudu (kuliah-dugem kuliah-dugem) itu untuk menghampiri objek elok rupa yang mencuri fokus netranya sedari tadi.
Ragu-ragu is duduk di hadapannya, melihat bagaimana sosok itu masih tak menyadari eksistensinya di sana.
Bibirnya masih sesekali mencebik, sesekali terkekeh remeh, sesekali mengembus napas kasar, sesekali menyentil layarnya sendiri. Sesekali, segalanya, hingga akhirnya ia sadar kursi depan tak lagi diisi kekosongan saja.
"Eh?"
"Eh?"
Gelakak kecil muncul di antara keduanya. Bisma daratkan usakan lembut di surai legam cewek itu, lantas mengusap noda selai di samping bibirnya.
"Kamu kemarin beneran kena?"
"Kena apa?"
"Kena omel... kan yang datang kurang dari seratus lima puluh."
Lelaki dengan kemeja kotak-kotak merah itu mengangguk kecil. "Cuman diomelin dikit doang kok. Gak ngaruh."
"Dikit doang karena sisanya dihukum?"
"Ehehe."
Falee berdecak kesal. Dirogohnya tas cokelat itu tanpa melepas pandang dari layar laptop yang masih menampilkan sosok pria dengan baju abu-abu tengah heboh memukul keyboard komputernya.