Hingga tumbuh dewasa, Sabisma mulai pasrah jika mesti diikuti wartawan secara tiba-tiba hanya karena nama keluarganya yang sering muncul di majalah-majalah, seolah menjadi kiblat untuk membangun keluarga sentosa yang bergelimang harta.
Hardialas adalah mereka yang berkuasa di kalangan orang berkerah putih dengan fokus bertumpu di ranah fesyen, tapi seiring anggota keluarga bertambah, industri perfilman pun ikut terjamah.
Sabisma lahir dua tahun setelah seorang aktor nasional yang bergerak mendunia dan setahun sebelum seorang penyanyi muda yang digandrungi remaja-remaja karena lagu relatable yang dibuatnya.
Sabisma berada di tengah, selaku anak dari pasangan pebisnis yang bahkan tak pernah mengajarinya cara menjadi anak tapi mesti tetap dipanggilnya orang tua.
Sabisma yang memeluk erat Faleesha ialah Sabisma yang tengah melarikan diri.
Tapi melihat notifikasi yang muncul di ponselnya dua jam lalu membuat Sabisma beralih posisi.
Sabisma kini, yang tengah menggenggam jemari Faleesha di teras kediamannya, adalah Sabisma yang enggan perempuannya dihantam nestapa.
"Momma–"
"Faleesha, ya? Sudah berapa lama sama Sabisma?"
"Satu... semester? Enam bulanan, Tante."
Sabisma betulan tak diberi kesempatan bicara kali ini. Di antara dua wanita yang juga menguar canggung.
"Faleesha tau siapa Sabisma?"
Anggukan yang Faleesha beri buat Sabisma takut tak karuan. Ingin rasanya ia tarik gadis itu menjauh untuk menghindari tatapan maut dari ibunya.
"Tau? Siapa?"
"Mahasiswa semester lima."
"Selain itu?"
"Ketua angkatan dua puluh dua."
"Lalu?"
"Ketua sub bidang olahraga himpunan mahasiswa pendidikan bahasa Inggris."
"Soal Hardialas? Gak kamu cari tau?"
Faleesha melirik Sabisma, takut-takut apa yang hendak dijawabnya akan mengundang skakmat.
"Gak aku kasih tau, Ma."
"Kan harusnya nyari tau?"
"Emang apa kaitannya?"
"Karena dia pacar kamu."
"Seiring waktu juga bisa kenal sendiri? Aku juga belum ketemu keluarga Falee."
"Beda, Sabisma."
Ahh, sudahlah.
"Bedanya apa? Karena kita 'terpandang'? Karena kita dikejar-kejar orang pelanggar privasi kayak media? Itu Momma sama Dadda aja, aku gak ada hubungannya."
"Kamu anak Momma lho ini? Walaupun kamu membangkang dengan cara enggan ikut jejak kami, kamu tuh tetap Hardialas."
"Kalau bisa keluar, juga, aku udah keluar dari keluarga ini, Ma."
Ingin rasanya Faleesha menghilang dari sana.
"Nyatanya kamu gak bisa, kan?" Wanita dengan emas di pergelangannya itu kembali menatap Faleesha. "Kamu pernah sekali muncul di akun Sabisma, tandanya kamu sudah terekspos oleh publik."
Faleesha hanya mengangguk kecil, tak tahu mesti bereaksi seperti apa.
"Saya tidak setuju pun nantinya akan merusak nama Sabisma semisal kalian putus, karena anggapan publik sudah tegak, kamu pacar dia." Ia berdiri dengan embusan napas kasar. "Jaga sikap. Saya titipkan Sabisma ke kamu, jangan sampai saya dengar berita aneh soal kalian."
Langkahnya dibawa menjauh, meninggalkan dua insani itu termangu di teras. Kikuk.
"Le."
"Ya?"
"Maaf."
"Kenapa?"
"Ketar-ketir, ya?"
"Dikit." Faleesha terkekeh. "Artinya aku diterima, kan? Yaudah."
"Tapi begitu."
"Gak pa-pa. Udah telanjur."
Sabisma menatapnya tak percaya. "Hah?"
"Aku gak perlu takut buat gak diterima lagi. Momma kamu secara gak langsung say yes, kan? Yaudah."
"Gak pa-pa? Really?"
"Asal kamu jangan aneh-aneh, aku bakalan baik-baik aja sama mereka." Faleesha melihat bagaimana cemasnya lelaki itu, menatapnya penuh ragu. "Aku gak terbebani sama amanah Momma kamu. Justru harusnya kamu yang begitu, kan semua berpusat di kamunya."