tertanda: perbatasan

22 2 17
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

"Terkait kasus korupsi sang Ayah, Sabisma Hardialas dipanggil sebagai saksi ke pengadilan."

Fika Faleesha Hanum melamun di depan danau fakultas kedokteran, bertemankan Ghani dan Regan yang sedari tadi mengekor di belakangnya.

"Neng, balik yuk? Banyak yang ngeliatin." Ajakan Regan ditolak cepat oleh Falee dengan gelengan. "Makan aja dah, ayok. Neng mau apa? Gudeg? Opor?"

"Kaga ada gituannya, goblok."

"Lu mendingan diem dah, Gan." Tepukan Regan dengan lihai mendarat tepat di lengan Ghani. "Ayo, Neng. Pindah deh."

Pada akhirnya Falee bersuara, "Kenapa harus Bisma?"

"Kalau Morgan udah left soalnya."

"Tolol banget, sumpah. Bukan gue yang jawap, yak. Lu kalo nampol  Ghani, tampol aja, Neng."

Falee menoleh ke arah keduanya, tatap jengkel ia sudutkan tepat di iris salah satunya. "Gak usah nge-jokes, gak guna. Gue nanya beneran ini. Kenapa harus Bisma yang jadi saksi? Dia pulang aja setahun sekali, dikasih duit jarang, deket sama bokapnya aja enggak!"

"Kelihatannya mah iya, Neng. Tapi Bisma, mau gimanapun, tau situasi nyatanya. Dia gak mungkin biarin Papanya disalahin kalau posisinya gak salah." Dua jari Ghani terangkat membentuk peace. "Kita-kita juga sebenernya mah kaga mau dia ikut-ikutan gituan. Tapi kita memposisikan diri aja. Kalau bokap kita yang digituin, gak mungkin kita diem, kan?"

Bahu Falee turun kecewa.

"Ayo dah, sama kita-kita dulu aja. Ghibahin kelakuan si Bisma mumpung kaga ada orangnya."

Dengan itu akhirnya Falee setuju, dibawa dua sekawan itu menuju ke mobil Regan.

"Drive-thru aja, ya? Takut ada kamera."

"Naspad mana bisa drive-thru, anying."

"Yaudah, ntaran lu aja yang keluar. Gue sama Neng tunggu di mobil."

"Neng mau naspad emang, Neng?"

"Apa aja, Ghani."

"Noh, yaudah yang bisa drive-thru."

"Manusia konyol."

Mobil mulai melaju membelah jalanan di siang yang teriknya bukan kepalang.

Ghani dan Regan di kursi depan sibuk bersenandung mengiringi lagu yang terputar di radio mobil, sementara Falee masih saja larut dalam pikirannya.

Adalah keputusan yang baik untuk ia menerima Bisma kala itu, menghadirkan hari-hari cerah nan berwarna selama isinya hanya mereka berdua saja.

Namun, kini baru terpikir betapa naifnya ia menyambut tanpa melihat lebih jauh. Ada hal riskan di belakang namanya. Hardialas jelas tak sejajar dengan ia yang bahkan tak pernah menyentuh uang seratus ribu sampai usia lima belas tahun.

Tapi di lain sisi, Falee pun tak bisa mengelak bahagianya ia memiliki Bisma sebagai tambatan hati.

Ditanyai kenyamanannya di tiap keadaan, dihalau resahnya di tiap kesempatan, lalu didekap seluruhnya di tiap waktu daksanya hentak meluruh.

"Neng, mangan nasi ayam aja mau?"

"Nasi ayam apa?"

"Onoh, deket kang service ac."

"Yaudah."

Meski sempat menolak, Ghani putuskan keluar juga dari mobil, menuju warung makan yang dipilihnya tadi, meninggalkan Regan dan Falee dirundung canggung.

"Le."

"Ya?"

"Semuanya bakal baik-baik aja."

"I know."

"Lo mikirin apa deh? Ngelamunnya betah banget sejak masih di kampus."

"Nothing."

Regan mengangguk, seolah mengerti sekat yang dibuat cewek itu. Lo gak perlu tau, secara implisit tersampaikan.

"Jaga-jaga aja, takutnya lo berpikir seperti apa yang gue duga." Regan kembali angkat bicara. "Bisma gak pernah nyesel pacarin lo, ini kali pertama dia pacaran selama ini dan seserius ini. I know itu gak bisa jadi takaran buat ngeliat sayangnya dia sama lo. Tapi... ah susah jelasinnya. Intinya, lo gak perlu merasa kalau sayang lo sepihak. Bisma gak peduli siapa dia, siapa keluarganya, apa nama belakangnya. Bisma tetap sayang lo selayaknya lo adalah satu-satunya hal yang dia punya di dunia ini."

Falee masih perlu menyerap perkataan Regan ke dalam kepalanya. Namun, Ghani dan makanan di tangannya sudah memasuki mobil.

"Gera marakan, gengs, bisi marati."

***

Tertanda di sana,

di perbatasan cemas

dan hujanan kasih.

Betulkah apa yang kudengar,

bahwa miliki aku adalah

hal yang tak pernah kau sesali?

hal yang tak pernah kau sesali?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
tanda | br & ffhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang