Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tertanda di sana,
di ambang pintu kediaman,
menyambut rindu tak berkesudahan.
Tertanda di sana,
di mana Sabisma membiarkan
lukanya yang mengelupas
Faleesha lihat dengan jelas.
***
"Teteh dicariin Abim tadi."
"HAH?" Muka bantalnya menganga, tak percaya dengan kalimat yang keluar dari lisan sang ibu. "Kapan?"
"Tadi, pagi-pagi banget. Kamu belum bangun. Jadi, Abim nganterin bubur doang, tuh."
"Kenapa gak bangunin aku?"
"Abim yang minta. Katanya nanti siang ke sini lagi." Ibu memberinya segelas air putih. "Minum dulu. Beler gitu muka."
"Ish, Ibun mah!"
Wanita yang dipanggilnya Ibun itu terkekeh. "Udah berapa hari gak ketemu?"
"Seminggu lebih. Please. Kangen. Berat. Banget. Kayak gak bisa napas."
"Lebay!" Adiknya menyahut. "Tapi kasusnya ceunah belum beres."
"Gak pa-pa, yang penting ketemu."
"Bulol. Geuleuh."
"Bokem mending diem deh."
Cepat-cepat Ibun menengahi. "Udah Aa mandi duluan sana. Teteh nanti aja, soalnya gak ke mana-mana, kan?"
"Emang Ibun sama si bokem mau ke mana?"
"Jenguk Bu RT ke RS, gak enak atuh dia suka ngasih kita berkat tiap Jum'at."
"Terus Teteh sendiri atuh?"
"Nanti, kan, ada Abim."
Oh, benar juga.
Tapi, tunggu.
Berdua? Aja? Rill?
***
Fika Faleesha Hanum menepuk kedua pipinya beberapa kali, memastikan ia terlihat cantik setelah satu pekan tanpa eksistensi kekasihnya itu.
Entahlah apa yang akan terjadi nantinya, meski mungkin maskaranya akan luntur tak karuan, perona pipinya malah akan membuatnya terlihat bengkak, Falee tak masalah.
Tok tok tok!
Ia dengan lekas beranjak menuju pintu, berharap penuh jika Bisma ada di sana dengan senyum mengembang untuk kemudian memberikannya pelukan hangat.
"Sayang..." Kata itu, untuk pertama kalinya, keluar dari lisan Falee kala melihat bagaimana berantakannya rupa lelaki yang selalu mengisi pikirannya. "Hey, what happened? Kamu kenapa pucet banget?"
Bisma sempat menggeleng, sebelum kemudian menghambur pada dekapan erat Falee, berulang kali menghela napas di sana.
"You okay? Bim?"
"No... I guess... not yet." Bisma masih bertahan pada posisinya. Namun, bahunya mulai gemetar. "I'm sorry, really sorry. I disappeared from you. I left you tangled in danger and shame, left you with nothing but the wreckage I caused. And without even having the strength to tell you I miss you, I look like some pathetic, useless fool. The weakest person you've ever known."
"No,kamu gak gitu, Bisma. Aku ngerti kita gak bisa sering ketemu dulu, aku gak bisa keliatan aktif di medsos. Aku ngerti..." Usapan lembut Falee daratkan di punggung lelaki yang dirindukannya itu. "Aku gak kenapa-napa juga, kan? Kamu minta Ghani sama Regan jagain aku, kamu gak biarin aku sendiri. I'm the one who supposed to say sorry. I can't do anything to truly help you, Bim."
Di ambang pintu kediaman Falee, rindu yang menyesakkan benak akhirnya melebur, berbaur dengan segala hal lain yang turut datangi kepala dan hati keduanya.
Di ambang pintu kediaman Falee, Bisma yang senantiasa tegap akhirnya izinkan Falee lihat sejauh mana ia terjerembab dalam nelangsa.
Di ambang pintu kediaman, keduanya mengudarakan harap untuk dapat menemui realitas baik sebagaimana yang mestinya mereka hadapi.