tertanda: gerbang arung

24 2 14
                                        

Tertanda di sana,

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tertanda di sana,

di kursi kayu depan toko buku,

plang besar Gerbang Arung,

kala hujan pukul enam,

gamang yang mendalam,

keraguan,

yang bertuan Hardialas.

***

Selaku mahasiswa yang nyaris menemui semester akhir, tak lengkap rasanya jika tak menjadikan toko buku sebagai rumah kedua.

Meski berakhir membaca sinopsis dan melihat-lihat sampul saja, tapi Falee suka ada di sana.

Terbiasa sendiri, menyumpal telinga dengan AirPods-nya, membuat Falee lupa jika ada seseorang di belakangnya.

"Minta tolong aku, Sayang."

Buku bersampul cokelat itu Bisma ambil dengan mudah, berbeda dengannya yang dengan berjinjit saja masih harus mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Eh... iya. Thank you, Bim!"

Bisma usak surai hitamnya dengan senyum merekah. "Kamu mau cari buku apa, Le? Buat matkul doang?"

"Nope. Mau cari novel juga, tapi bingung mau apa," jawabnya, "Ada rekomendasi?"

Bisma menunjuk dirinya sendiri. "Yakin? Nanya ke aku?"

"Oh... iya. Gak usah. Bacaanmu gak jelas."

Tawa Bisma mengudara, lantas lengannya terangkat untuk merengkuh pinggang sang kekasih mendekat, menunjuk salah satu buku yang berada depat di rak best seller.

"Kamu lack of motivation, kan, akhir-akhir ini? Baca itu, deh." Buku bersampul hitam Bisma tunjuk seraya memberikan usapan lembut di kepala Falee. "Lukacita, ditulis sama Valerie Patkar. Kamu suka sama gaya penulisannya di Nonversation, kan?"

"Loh, penulisnya sama?"

"Yep. Bagus kok isinya, recommended."

Segera Falee datangi, diambilnya buku itu untuk kemudian dimasukannya ke dalam keranjang.

"Kamu udah baca?"

"Udah, dari pertama rilis."

"Demi apa? Kirain bacaanmu kayak wap-"

"Stop, sayang. Jangan bawa politik di tempat umum." Telunjuknya mendarat di bibir Falee dengan air muka jahil yang ia tunjukkan. "Bacaanku gak sejelek itu tau. Kapan-kapan kita baca bareng."

"Mau!"

"Ya ayo, beli dulu itu bukunya."

"Udah kali, ya? Bingung."

Bisma mengangguk, lantas mengekor Falee menuju kasir.

Gerbang Arung bukanlah toko buku besar dan terkenal, tapi toko ini memiliki interior elok dan koleksi buku yang lengkap.

Kondisi toko tak seramai itu, sehingga dua sejoli itu tak terdistraksi untuk menilai sinopsis dari buku yang hendak dibelinya.

"Duduk dulu di sini, nunggu hujan reda."

"Kita pakai mobil?"

"Yaudah, nunggu aku mood nyetir."

Falee terkekeh, memilih menuruti apa yang Bisma minta. Duduk di kursi kayu depan toko buku kala hujan tidak seburuk itu. Petrikor masih menguar, cocok untuk meredakan ruwet di kepalanya.

"We're cool now?" Pertanyaan Bisma yang tiba-tiba membuat Falee mengernyit. "Eh, I mean, kamu udah nyaman lagi sama aku, kan? Gak ada aneh-aneh?"

Falee menggeleng. "Aku gak expect malam itu kamu bakalan ekspos kita depan orang banyak."

"Ekspos?" Bisma tergelak. "Sounds weird. Konotasinya jadi kayak negatif."

"What? Aneh!"

Di tengah gelakak, Bisma merangkul tubuh gadis itu, menyandarkan kepala Falee di bahunya. "Bobo gih, enak."

"Kamu love language-nya physical touch, ya?" tanya Falee, "we're matched, kalau iya."

"Love language aku Indonesia."

Falee cubit pelan pinggang cowok itu. "Udah gak heran. Sabisma."

"Untuk heran, bukan sayang."

"Hah?"

"Udah, sst. Lemot."

"Ish!" Meski begitu, dipeluknya daksa Bisma yang masih merangkulnya. "Kok kamu mau, sih, sama aku?"

"Kebalik, gak, sih?" Bisma menarik salah satu gantung kunci di tas Falee. "Aku gak mirip dia, kok kamu mau sama aku?"

"Kalau nungguin Randy mah bisa-bisa aku jomblo sampai wisuda, Bim."

"Oh, jadi aku second choice? Kalau gak ada Randy, baru milih aku?"

"Gak gitu, Sabisma. Ngeselin!" Falee menegakkan badan, menyilangkan tangannya di dada untuk menatap skeptis ke arah lelaki di depannya. "Balik ke pertanyaan awal. Kenapa mau sama aku?"

"Aku mah emang sayang sama kamu, dari awal juga maunya sama kamu."

"Tapi jadi pakboy dulu, gitu?"

"Ya... iya? Nunggu kamu peka."

Falee menggeleng tak habis pikir. Lantas ia kembali sandarkan kepala di bahu cowok itu. "Tapi pernah mikir gak sih, Bim? Kalau keluarga kamu gak nerima aku gimana?"

Ahh, pertanyaan itu.

Pertanyaan sialan yang buat Sabisma Hardialas berharap hidup di balik layar.

Bukan dikepung media, warga dunia maya, ataupun privilese keluarganya.

Ada rasa takut yang diam-diam hampiri dadanya, menyadari keraguan mulai datangi perempuannya.

***

anak syp yh blio?

clue: bukan anak mama sy.

tanda | br & ffhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang