tertanda: senar alessandria

26 2 10
                                        

Tertanda di sana,

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tertanda di sana,

di tengah lapangan boulefall,

dekorasi panggung dominan merah,

mengiring petikan senar gitar

yang diberinya nama Alessandria.

***

"Lo mau bawain lagu Niki?"

"Ni-ki apa Niki?"

"Niki Zefanya, lah, goblok. Walaupun muka gue emang kek idol kepop, tapi gue kaga bisa joget."

Perkataan itu disambut tawa oleh Sabisma yang kini tengah mengotak-atik keyboard untuk penampil pertama. Memastikan suaranya tak terlalu kecil, juga terlalu besar.

"Lo rombongan apa nyolo?"

"Apanya?"

"Perform-nya."

"Oh, bertiga sama Regan sama Ghani."

"Confess kaga?"

"Hah?"

"Confess gitu, nembak cewek. Biar gaul kek orang-orang. Masa mau single mulu."

"Gue single?"

"Lah, si goblok. Emang ada cewek?"

Alisnya tertaut heran. Bagaimana bisa kabar kencannya dengan Falee tidak ia sebar pada kawan seprodi, sementara hubungan mantannya dahulu bahkan sampai ke telinga beberapa dosen.

"Lo gak pernah liat gue sama cewek?"

"Heh, lu kalo pacaran kan gak pamer gak hore. Terus pernah lu bilang kalau lu demen jalan ama orang, tapi as long as tuh orang gak lu up di snapgram, pake AKUN LU, bukan REPOST, berarti cuman tuh orang yang demen sama lu, lu nya kaga."

Oh, Gosh. No way.

"Tapi pernah liat?"

"Pernah. Tempo hari lu ama anak FKIP kalo kaga salah."

"Gue repost?"

"Hooh. Lu repost doang, sok ngartis. Tapi tuh cewek keknya ada ngeklaim kalau lu cowoknya sampe pernah di-salty-in."

"No fucking way!"

Baru saja ia beranjak dari jongkoknya, hendak berlari ke luar arena, tapi namanya sudah diserukan oleh ketua panitia.

"Sabisma Hardialas, stay. Gak usah aneh-aneh. Acara mulai 5 menit lagi, lo tampil kedua. PREPARE!"

Langkah beratnya ditarik kembali, meraih gitarnya sebelum menuju ke belakang panggung, melihat bagaimana orang-orang yang sedari tadi mengantri di luar akhirnya masuk, dan salah satunya ialah perempuan dengan kardigan biru muda yang membalut kaus putihnya.

Fika Faleesha Hanum ada di sana.

***

"Dua menit aman?"

"Aman."

Lagu We Broke Up in A Dream milik Blake Richardson dialunkannya lembut, menjaga atmosfer si panggung tetap hangat dan kondusif.

Tatapan netra Bisma sepenuhnya terarah pada Falee yang berdiri tepat di barisan depan, mengulas senyum tipis seiring jari Bisma memetik senar gitarnya.

Hingga lagu itu berakhir, hening tercipta karena Bisma yang menarik mikrofonnya.

"Next song yang bakalan kita bawain, secara pribadi, sama gue akan sepenuhnya didedikasikan buat cewek kardigan biru dengan gantung kunci photocard Randy Martin." Ia melambaikan tangan. "Fika Faleesha Hanum, pacar gue."

Debar hadir gila-gilaan ketika petikan gitar mulai terdengar lagi. Kali ini Bisma tampil dengan tangan kosong, menyerahkan hal terkait aransemen pada Ghani dan Regan.

"Sunrise with you on my chest
No blinds in the place where I live
Daybreak open your eyes
'Cause this was only ever meant to be for one night
Still, we're changing our minds here
Be yours, be my dear."

Satu semester ini, Fika Faleesha Hanum dan pikirannya berasumsi jika eksistensinya selaku kekasih disembunyikan dengan sengaja.

"So close with you on my lips
Touch noses, feelin' your breath
Push your heart and pull away, yeah
Be my summer in a winter day, love
I can't see one thing wrong
Between the both of us."

Satu semester ini, Fika Faleesha Hanum dan pikirannya beranggapan jika ia di mata seorang Sabisma Hardialas ialah selingan semata, objek penghilang bosan.

"Be mine, be mine, yeah
Anytime, anytime.
Ooh, you know I've been alone for quite a while
Haven't I? I thought I knew it all
Found love but I was wrong
More times than enough
But since you came along."

Satu semester ini, Fika Faleesha Hanum dan pikirannya secara naif mengambil kesimpulan jika kekasihnya enggan tunjukkan mesra pada dunia sebab ia jauh dari batas layaknya.

"Baby, you (yeah)
Are bringing out a different kind of me
There's no safety net that's underneath, I'm free
Fallin' all in you."

Satu semester ini, Sabisma Hardialas dengan gaya kencan barunya kerap dilanda kikuk. Buatnya seolah enggan meski rasa dalam dadanya meledak-ledak.

"Fell for men who weren't how they appeared, yeah
Trapped up on a tightrope now we're here, we're free
Fallin' all in you."

Satu semester ini, Sabisma Hardialas berharap hidup di balik layar. Namun, rasanya terlalu rugi jika dunia tak melihat indah yang disandang kasihnya.

Maka malam ini, menyambut satu semester bersamanya dua insani dimabuk  cinta, lapangan Boulefall dimeriahkan sinar senter ponsel para audiens yang bergerak mengikuti irama.

Berbahagialah,
Sabisma dan Faleesha.

***

wdyt endingnya gini aja?

tanda | br & ffhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang