tertanda: seratus lima puluh

31 2 5
                                        

Tertanda di sana,

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tertanda di sana,

di kedalaman air

seratus lima puluh centi,

lima lewat dua belas,

sabtu sore.

***

"Awas jatuh, Le." Bisma meraih tangan berhias gelang manik-manik milik Falee, menghalau jatuhnya ia ke dalam air kolam setinggi tujuh puluh lima centimeter itu. "Kamu bawa baju ganti, kan?"

"Bawa, cuman lagi males basah kuyup aja, jadi gak ikut nyebur," jawab Falee seraya menerima tarikan pelan Bisma untuk sedikit menjauh dari area kolam, "kamu kok gak ikut berenang?"

"Dingin."

"Bohong banget, kamu aja keringetan gitu sampai lepek rambutnya."

Cengiran lebar Bisma tunjukkan pada pujaan hati yang dipacarinya sejak kurang lebih dua bulan lalu.

"Kamu kenapa, sih, Le?"

"Kenapa apanya?"

"Bilang ke aku, kamu mikirin apa."

Falee mengulum bibirnya, lantas perlahan telunjuknya naik, mengarah pada kolam dengan tulisan seratus lima puluh centimeter di dindingnya. "Mau ke sana," ungkapnya.

"Are you sure?"

"No. Cuman mau aja."

Pada akhirnya Bisma mengiyakan, ikut dengan kasihnya ke pinggir kolam. "Duduk di pinggirnya aja, ya?"

Falee mangangguk. Toh, ia tak berniat menceburkan diri sama sekali, hanya... entahlah, pikirannya mengarah ke sini.

"Yang lain terlalu dangkal, ya?" tanya Bisma tiba-tiba, "apa mau coba masuk aja? aku pegangin."

"Takut. Di sini aja."

Ada rasa asing yang menjalar hingga ke ubun-ubun. Bisma berulang kali melirik cewek itu, memastikan air mukanya tak berubah murung—atau makin murung? Entahlah, Bisma bingung.

Ketika akhir pekan, area berenang milik departemen keolahragaan ini disewakan untuk mahasiswa umum. Seminggu setelah Bisma menyatakan cinta, mereka berkunjung ke sini juga, dengan atmosfer yang jauh berbeda.

"Kamu bisa berenang, gak, tapi?"

"Bisa. Cuman suka parno duluan."

"Di kedalaman berapa maksimal?"

"Seratus tujuh lima juga sebenernya ayo aja, tapi harus dipegangin dulu. Maksimal lancar di tujuh lima kayaknya, di seratus lima puluh harus loading dulu aku."

"Sekarang di sini, takut, gak?"

"Enggak."

"Kan baru masuk?"

"Kan ada kamu."

Entahlah pergi ke mana manis itu.

Entahlah hanya Bisma yang merasakan raibnya, atau Falee juga berpikiran sama?

"Mau coba nyebur, gak? Aku bawa baju lebih kok kalau kamu mau pake."

Falee tersenyum kecil dalam gelengannya. "Enggak deh, takut."

"Kan ada aku?"

Hening menerobos di antara mereka.

Tangan Falee ia kuyupkan di air, meraba dinginnya yang tak karuan. Lantas sesekali ia lirik mahasiswa lain di kolam berbeda tengah bersuka cita.

"Kita ke sini sama temen-temen kamu."

Bisma menyamakan pandang. Apa? Tak ada yang salah, menurutnya.

"Kenapa kamu gak ke sana, Bim?"

"Kenapa aku harus ke sana, Le?"

"You should be having fun over there with your friends, go mess around, crack some jokes, do anything instead of sit here with me, your so-called girlfriend, who's thinking bad stuff about you the whole time."

"Tell me, then."

"What?"

"Tell me. What do you think?  What kind of bad stuff?"

"No, you don't have to know, Bim. I—"

"I do have to know." Bisma rengkuh pinggang Falee untuk mendekat padanya. "Kemarin kamu ngerasa aku jauh, kan? Kali ini tentang apa?"

"No..."

"Kenapa no, sayang? Buruan kasih tau aku sebelum aku nyebur terus nyipratin airnya ke kamu."

Ragu-ragu ia lirik iris kekasihnya yang menyorot pendar hangat. Tiada sampai hati ia menghalau hangat itu dari sana.

Tapi seiring usapan lembut di bahunya, ia mengalihkan pandang ke arah kolam.

"Cuman... penasaran. Aku gak seberani itu untuk masuk ke kolam ini sendirian." Ia menggerakkan kakinya di dalam air.  "Aku takut kehilangan pegangan ketika aku belum siap."

"Ya? And then?"

"Aku di sini sama kamu, sama teman-teman kamu juga. Tapi... apa kamu mau terus pegang tangan aku semisal aku nyebur ke kolam ini?"

Tanpa aba-aba, cowok dengan kaus merah itu melompat ke dalam air, menyisakan Falee yang terbelalak di tepi.

"Bisma, what the fuck?!"

Muka basahnya muncul ke permukaan, tersenyum lebar sebelum mengangkat tangannya. "Sini, cobain."

"Bim, no..."

"You sure?" Ia raih jemari Falee untuk dikecupnya pelan. "Ada aku, sayang. Sini."

"Bisma."

"Yes, dear?"

"What if I drown?"

"With me around, the only thing you'll ever drown in is my love, Falee."

Maka dengan itu pula Falee memutuskan ikut, untuk mendapatkan takutnya ditepis Bisma dengan sesuatu di luar dugaannya.

"Bim, wait."

"The hundred and fifty centimeter pool isn't so bad with my kiss, is it?"

"It is."

***

kak fell kalo enek bilang.

tanda | br & ffhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang