Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tertanda di sana,
meja dua puluh kantin teknik,
percakapan sederhana,
tentang apakah yang diperlukan
untuk tetap berjalan.
Di jalur sama,
bersama-sama.
***
Bisma dengan kemeja birunya duduk di salah satu bangku kantin dengan tulisan angka dua puluh.
Kantin fakultas teknik selalu ramai, banyak mahasiswa fakultas lain berkunjung ke sini karena keberagaman makanannya.
Termasuk Faleesha. Ini tempat pilihannya.
"Eh, Bim? Sendirian aja?"
"Enggak. Nunggu cewek gue."
Dipertegas olehnya mengenai batasan untuk berinteraksi. Bisma terlalu muak dengan siapapun mendekat tanpa peduli dekat yang sudah ia buat.
"Oh, masih lanjut?"
"Selalu."
"Kemarin gue liat SG lo beda."
"Itu tante gue."
"Ohh, kirain. Gak biasanya lo naksir yang sefakultas dan seprodi. Mana enak dipantau mulu tiap waktu."
"Beda kelas."
"Tapi emang enak sama anak–"
"FALEE SAYANG! DI SINI!"
Persetan dengan rasa malu. Bisma hanya ingin terbebas dari keberisikan perempuan entah siapa—tapi pernah ia posting ulang fotonya—itu.
"Bim... malu-maluin."
"Biarin, sini." Bisma menepuk kursi di sebelahnya. "Udah ada cewek gue. Mau ngapain lagi di sini?"
Bola mata perempuan asing itu diputar malas, kesal, sebelum akhirnya melangkah pergi dari meja Bisma dan Falee.
Masa bodoh. Bukan urusan.
"Siapa?"
"Gak tau. Gak jelas."
Falee turut tak mengindahkan. Perempuan itu datang membawa dua porsi nasi bakar dengan cumi-cumi asin sebagai lauk.
Mulanya, dua sejoli itu membiarkan senyap mengiring acara makan siang bersama mereka. Namun, akhirnya Falee melemparkan topik pembicaraan.
"Cara biar gak kena skandal gimana?"
"Hah?"
"Iya. Kan tempo hari Momma kamu udah ngewanti-wanti."
"Oh, jangan terlalu sering up di medsos publik, paling. Yang aman-aman aja."
"Bikin second account aja, ya?"
"Boleh."
Gadis itu mengangguk. "Terus, yang lainnya ada lagi? Di kampus gimana?"
"Ya... biasa aja?"
"Nanti ke-gap media gimana? Aku perlu jauh-jauh gitu, gak? Jaga-jaga."
Bisma menaruh sendoknya, ia raih tangan Falee untuk digenggamnya. "Takut, ya?"
"Enggak."
"Gak usah bohong, sayang." Tiap-tiap ujung jemari itu disentuhnya dengan ibu jari. "Media sosial aja yang dibatasin, di sini jangan. Toh, kalau ada apapun, ada aku. No need to worry."
"Karena ada kamu, jadi aku begini." Falee turut menaruh sendoknya. "Jadi kalau ada apa-apa nanti, kamu aja yang kena. Aku gak usah."
Mendengar itu, Bisma terkekeh. "Enggak perlu gimana-gimana. Lagipula sekampus udah tau kamu pacar aku."
"Lebay."
"Fakta."
"Iya, sih." Bibir cewek itu maju. "Tapi, Bim, seriusan. Aku perlu ngapain aja, ya?"
Bisma bisa melihat bagaimana cemasnya cewek itu meski berlaku layaknya abai. Ia raih kembali jemarinya, kali ini untuk diam-diam dikecupnya.
"Stop overthinking atau kita kawin lari?"
"Gila."
Bisma tersenyum simpul. "Makanya, jangan terlalu dipikirin. We got each other, Falee. Kalau ada apa-apa, aku gak akan ngebiarin siapapun nyalahin kamu."
Falee mengembus napas pelan, memilih kembali fokus pada makanannya yang tak lagi hangat.
Simpul-simpul di kepalanya tentang keberlanjutan hal di antara ia dan Sabisma seolah tak pernah membiarkan ia tenang.
"Gak nyaman, ya, jadi pacar aku?"
"GAK GITU!"
Oopsie. Falee menutup wajahnya, malu bukan kepalang setelah tidak sengaja berseru kencang.
"Makanya jangan dipikirin terus." Bisma berucap tenang, sebisa mungkin menampakkan teduhnya. "Kamu yang kayak gini seolah nunjukkin ketidaknyamanan kamu, Le. Udah, ya?"
"Tapi, not gonna lie, aku takut."
"I'm here, Falee. Percaya sama aku, gak?"
"Percaya..."
"Kamu ada di feed aku, berarti aku udah siap akan konsekuensinya, dampaknya. Aku siap jagain kamu dan pastiin nama kamu bersih. Percaya?"
"Percaya."
"Kamu mungkin sempat terpikir untuk merepotkan diri, jagain aku biar kamu gak keseret buruknya. Mungkin juga kamu terpikir buat pergi, udahlah ribet, begitu. Bener?"
"Yang kedua enggak."
"Justru yang kedua yang bakalan aku wajarkan, Falee." Bisma mengetuk meja makan beberapa kali. "Yang pertama itu gak perlu. Di sini posisinya aku yang buat kamu berat karena ada di posisi ini. Limpahin semua baik-buruknya ke aku aja. Kamu gak perlu ikut-ikutan repot selama ada aku, ya?"
"Jadi aku gak guna?"
"Says who?"
"You keep me safe all the time, it's like… what do i even do for you?"
"Hey, I wouldn't be me without you. You're my whole point, Faleesha."