The Case of Revenge Under The Moonlight - Ranpoe

90 10 25
                                    

Tengah-tengah hari cuaca sangat terik apalagi matahari berada tepat diatas kepala hingga membuat setiap sisi leher dan kening ku dibasahi dengan keringat. Ku kibas-kibaskan pakaian ku namun tetap saja angin buatan itu tak dapat mengusir rasa gerah yang ku rasakan saat ini. Walau begitu, aku sedikit bersyukur sekarang aku sudah menginjakkan kaki ku di depan sebuah bangunan yang menjadi tujuan ku. Ya, gedung ini adalah tempat ku bekerja sebagai seorang detektif.

"Ah ... Selamat siang, Nathaniel ... " Sapa ku pada salah satu rekan kerja ku dengan canggung. Aku selalu canggung pada orang-orang meskipun bisa dibilang kami sudah cukup dekat dan juga sering bekerja sama.

Lalu rekan ku yang bernama Nathaniel itu hanya tersenyum kecil dan membalas, "Ya ... selamat siang juga, Poe."

Kemudian dia melanjutkan, "Hari ini rasanya sangat panas, ya? ... "

Aku mengangguk pada perbincangan yang sekedar basa basi ini. "Iya."

Benar sekali, cuaca di Amerika saat ini jauh lebih panas dari tahun sebelumnya. Belum lagi es di kutub Utara terus meleleh hingga menyisakan sisa 30-40% pada tahun 2050 ini. Matahari rasanya seperti bisa melelehkan apa saja sekarang sedangkan air laut terus semakin menggila untuk menumpahkan isinya pada seisi dunia. Musim dingin sekarang juga sudah tidak sedingin dulu. Begitupun pada musim gugur seperti sekarang yang tetap panas karena iklim cuaca yang tidak menentu. Belum lagi setiap sisi kota dipenuhi dengan bangunan-bangunan pencakar langit hingga tersisa sedikit pepohonan sebagai salah satu sumber oksigen.

Jika saja bangunan ini tidak dipenuhi dengan pendingin ruangan, ku pikir kami semua sudah ditemukan mati terpanggang sampai kering sejak dulu.

Dengan urusan yang berbeda, aku menekan tombol lift menuju lantai 6 tetapi tiba-tiba lift tersebut terbuka di lantai tiga dan memperlihatkan sosok pria dengan tinggi hampir 2 meter berdiri tegak di depan pintu lift. Pria itu adalah bos ku.

"Oh, Poe. Kebetulan sekali kita bertemu ... " Ujarnya pada ku.

Pria tinggi kaya raya dengan surai pirang khas nya disertai dengan aroma uang sudah melekat seperti parfum abadi dalam dirinya, atau mungkin bisa dibilang sudah menjadi bagian dirinya. Francis Scott Fitzgerald, itulah namanya.

"Apa kau tau berita terbaru?, katanya ditemukan sisa tulang belulang yang berada dalam semen di bawah lantai kayu pada salah satu rumah di Dagenham saat rumah itu dalam proses di runtuhkan ... Tulang-tulang itu menyatu dalam fondasi bangunan." Lanjutnya.

Aku mengangkat salah satu alisku dengan penasaran, "Dagenham?. Itu di bagian London timut, kan?."

Ia mengangguk, "Ya, tapi sepertinya kau akan tertarik dengan kasus ini." Jawabnya tanpa memberikan sedikit penjelasan maupun pencerahan.

Lalu ia berdehem, "Ini akan jadi perjalanan yang jauh dan melelahkan tapi aku pikir kau akan menikmati saat-saat menyelidiki dan memecahkan misteri yang akan segera terkuak. Lagian ... Kau kan adalah salah satu detektif paling hebat yang ku punya." Ia merangkul lalu menepuk-nepuk pundak ku.

Aku menyimak penjelasannya dan menyahut, "Menyelidiki? ... Tunggu, jadi maksudnya anda ingin mengirim saya untuk menyelidiki kasus tersebut? ... Anda akan mengirimkan saya ke Dagenham?."

Saat itu aku mengernyitkan dahi ku tetapi dia malah terkekeh geli, "Ya dan tenang saja, setiap biaya termasuk biaya keberangkatan maupun biaya mu sehari-hari selama kau berada di sana akan ku tanggung semuanya," Jelasnya.

Kemudian dia mendekatkan bibirnya ke telinga ku, "Tapi ku harap kau menyelesaikan tugas mu dengan sangat baik." Bisiknya. Terdapat sedikit penekanan nada yang berbeda pada akhir kalimat itu hingga membuat ku merasa sensasi aneh seperti merinding.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 16, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Stray Dogs Diary (One-shot)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang