Senja baru berusia sembilan belas tahun saat menikahi Raden Mas Banyu. Saat memutuskan mengakhiri masa lajang, Senja sadar bahwa posisinya tidak akan bisa lebih dari sekedar gundik bagi laki-laki itu. Status sosial mereka berjarak jauh. Jika bukan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Katakan saja aku memakai seluruh keberuntungan dalam hidupku malam ini. Semua berjalan begitu mudah dan tanpa halangan berarti. Aku berhasil kabur dari kamar yang terasa seperti penjara dengan bertukar posisi dengan Garini. Sepertinya para pengawal dan seluruh penghuni istana ini belum hapal paras wajahku. Meski aku menghilang dalam waktu yang cukup lama para pengawal tidak akan curiga karena bayanganku tetap akan terlihat dari bilik kamar.
Garini mengatakan Abimanyu sedang berada jauh dari istana karena jenderal Gajahwong memanggilnya. Aku bisa tau berapa besar pengaruh jenderal Gajahwong setelah bertemu dengannya beberapa hari lalu. Seluruh pasukan negeri ini tunduk padanya. Mungkin kini dia adalah orang yang paling kuat di tanah Mataram sebab jika rumor itu benar, bahwa kesehatan Sultan kian memburuk, maka penggantinya harus segera ditetapkan. Tetapi Sultan tidak memiliki anak laki-laki. Anak terakhirnya justru terlahir sebagai perempuan dan kini kembali dengan keajaiban.
Aku merunut semua cerita Wastu dan Dahayu. Keberadaan Raden Mas Banyu merupakan ujung tombak negeri ini. Meski Sultan berhasil menemukan pewaris takhta selanjutnya, orang itu akan berada di bawah tekanan. Anak laki-laki pertama dari garis keturunan Puteri Sekartaji mungkin tidak mudah untuk diterima mengingat bagaimana fitnah yang ditujukan padanya.
Namun aku tidak pernah melihat Raden Mas Banyu tertarik menempati posisi itu. Jika mengingat semua prilakunya, sulit sekali untuk percaya bahwa dia haus kekuasaan. Sikapnya terlalu serampangan. Sangat berbeda dari adiknya, Abimanyu yang terlihat lebih tenang dan tanpa cela. Meski begitu aku tidak ingin mudah lagi menaruh kepercayaan. Aku tidak ingin gegabah dengan mengerucutkan yang kupikirkan sekarang sebagai sebuah kebenaran. Aku harus mencari sendiri jawaban dari semua pertanyaanku.
Langkah kakiku melewati lorong panjang bawah tanah dengan ditemani satu obor yang kuambil di pintu masuk. Lorong ini menuju penjara tersembunyi yang dibentuk untuk mengurung tahanan negara. Begitulah yang kutau dari Garini. Aku bisa masuk dengan membawa tanda pengenal gadis itu. Kupelankan langkahku agar para tahanan yang meringkuk di dalam masing-masing sel tidak terbangun. Penjara bawah tanah ini lembab dan pengap. Aku hampir tidak bisa mengenali dimanakah suamiku berada.
Walau kegelapan menjadi selimut, aku mencoba menyibaknya dengan instingku. Di sel terpojok dan paling gelap langkahku benar-benar berhenti. Wajah laki-laki yang kutemani selama dua tahun sebagai pasangan hidup, terlelap dalam mimpinya sendiri. Aku mensejajarkan tubuh dengannya. Di bawah sinar obor yang temaram. Kerutan keningnya muncul, di antara kerutan itu bulir-bulir keringat muncul. Darah yang belum kering menghiasi ujung bibirnya.
Kuberanikan diri menggerakkan jari jemari untuk menyentuh kegelisahan dalam mimpinya. Setelah apa yang kulihat kemarin, sepertinya kini aku benar-benar perlu mengenalnya. Mengenalnya secara utuh tanpa campur tangan perkataan orang lain. Semua masa lalunya, semua keinginannya. Apa yang dia pikirkan, apa yang hendak dia lakukan. Aku akan mencari tau semua hal yang perlu kutau. Jika bukan sebagai istrinya, aku akan menjadi teman atau musuhnya.