Senja baru berusia sembilan belas tahun saat menikahi Raden Mas Banyu. Saat memutuskan mengakhiri masa lajang, Senja sadar bahwa posisinya tidak akan bisa lebih dari sekedar gundik bagi laki-laki itu. Status sosial mereka berjarak jauh. Jika bukan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku tidak tau darimana semua ini berawal, hidupku terseret dalam arus dinasti yang semula tak pernah tersentuh oleh seorang Senja. Namaku tiba-tiba berubah. Status sosialku naik beberapa hasta. Aku sungguh tidak ingin mempercayai semua omong kosong ini. Harus sampai kapan dunia membuatku berdiri di antara ketidakpastian?
Mereka ingin aku menjadi Puteri Pembanyun, anak terakhir dari Sultan dan mendiang Permaisuri, tapi aku bukanlah dia. Aku adalah Senja, anak dari seorang petani yang lahir dan tumbuh besar di pegunungan Sindoro, Dieng.
Keluargaku hanya keluarga biasa. Utuh dan lengkap. Tidak ada kaitannya dengan penguasa negeri ini. Ya. Kami memang tidak memiliki kuasa apa pun dari sejengkal tanah yang kami injak. Beberapa hari yang lalu petualanganku bahkan baru saja dimulai. Pada akhirnya aku punya kendali atas diriku sendiri setelah mengikat janji pada laki-laki yang kunikahi selama dua tahun terakhir.
Aku akhirnya punya mimpi. Aku punya harapan. Kuabaikan semua perasaan pribadiku yang sempat carut marut setelah melihat suamiku yang bercumbu di depan mataku sendiri. Tetapi bukan itu yang paling membuatku kecewa. Seberapa pun aku berusaha untuk tunduk dan patuh. Kini aku kembali dihadapkan dengan perkara yang sulit kuterima darinya. Laki-laki yang sempat menyentuh hatiku itu diam tak berkutik saat aku diseret masuk ke dalam istana, meski begitu tatapan matanya padaku mengatakan segala hal yang dirasanya. Kebencian, penderitaan, keinginan untuk melawan.
Raden Mas Banyu. Benarkah kehadiranku dalam hidupmu hanya sekedar sebagai jalan untuk membalaskan dendam? Jika benar begitu kenapa kau memberikan aku kesempatan meski sedikit untuk bermimpi? Apa arti dari ciuman-ciuman itu? Apa semua ini hanya permainan bagimu?
"Kamu mungkin harus berpikir berpuluh-puluh kali untuk menaruh kepercayaan. Kadang kala kamu tidak bisa menebak siapa yang akan mengkhianatimu setelah berhasil merebut kepercayaan itu."
"Kalau begitu tidak ada alasan bagiku untuk mempercayaimu juga."
"Aku tidak seperti kakakku yang meminta kesetiaan mutlak padamu. Aku juga tidak akan memohon agar kamu percaya padaku. Harus aku akui, aku telat menemukanmu. Seharusnya mudah bagiku untuk menebak rencananya saat tiba-tiba mendengar pernikahan itu. Seharusnya aku tau, gadis yang selama ini kucari itu adalah kamu. Gadis yang seharusnya menjadi milikku justru dinikahi kakakku sendiri dua tahun lalu."
Aku menatap Abimanyu. Wajahnya. Perkataannya. Membuatku sesak.
"Jika kamu bisa bekerjasama, maka orang tua yang telah mengasuhmu selama ini akan tetap aman. Tak tersentuh."
"Kau mengancamku?"
"Tidak ada tempat bagi penghianat di negeri ini. Apa yang dilakukan keluarga asuhmu adalah penghianatan kepada mendiang Permaisuri."
"Tidak! Mereka pasti tidak tau apa-apa."
"Permaisuri adalah ibu kandungmu, orang yang menukarmu dengan bayi dari keluarga yang membesarkanmu selama ini. Mereka tau siapa kamu sebenarnya Senja. Meski begitu mereka tetap bekerjasama dengan kakakku demi membalaskan dendam mereka."