Senja baru berusia sembilan belas tahun saat menikahi Raden Mas Banyu. Saat memutuskan mengakhiri masa lajang, Senja sadar bahwa posisinya tidak akan bisa lebih dari sekedar gundik bagi laki-laki itu. Status sosial mereka berjarak jauh. Jika bukan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pada hari-hari pertama kami sampai di kota, Raden Mas Banyu langsung menghilang tanpa jejak. Bayangannya tidak bisa kulihat. Dia hanya mengirimkan beberapa buku pengetahuan dasar dalam berdagang melalui seorang pelayan agar aku menghabiskan waktu dengan bebas tanpa perlu memikirkannya. Namun pada lembar kertas terakhir yang kubaca, aku sadar, mencari pengalaman secara langsung merupakan bagian yang terpenting.
Pasar di pusat kota tidak menggunakan hari tertentu sebagai hari pasaran. Para perempuan berbaur dengan santai di antara laki-laki. Bercengkrama dengan bebas. Beberapa perempuan yang berpakaian mewah seperti kaum ningrat pada umumnya dikawal oleh batur, seorang pembantu yang akan setia memayungi dan membawakan belanjaan mereka.
Aku melihat ada perempuan yang berdagang kain, dan hiasan rambut, atau menjajakan makanan, tapi aku tidak menemukan ada perempuan yang menjual tembakau dan cengkeh. Ternyata hal tabu semacam itu tetap berlaku di sini. Aku harus berpikir lebih keras bagaimana caranya menjual tembakau cengkeh, menawarkan pada pembeli dan membuat mereka kembali datang kepadaku.
Rintik hujan jatuh di antara langkahku yang sempat bersemangat lalu layu. Kian lama, kian berubah semakin deras. Bagai tirai yang menutupi jalan-jalan pasar menjadi berkabut, aku hampir tidak menemukan tempat untuk berlindung dari amukkan langit yang bergemuruh selain kedai minuman yang berada di ujung jalan masuk pasar. Aku mengibaskan kain penutup dadaku sebab bajuku basah sebagian. Kuselimuti diriku sendiri sambil mengintip ke arah langit.
Apa mungkin ada yang jatuh selain air hujan?
"Melihat apa?"
Hampir aku meloncat dari tempatku berdiri saat medengar seseorang bertanya padaku.
"Kenapa tidak membawa payung?"
Pertanyaan itu tidak kujawab. Dia lebih dulu tersenyum padaku, ada dua lesung pipi yang muncul di antara bibirnya seperti cawan yang melengkung dalam. Wajahnya ramah sekali, hampir terlihat humoris. Sekilas aku seperti mengenal garis-garis wajahnya yang familier. Dari penampilannya, dia bukanlah orang biasa. Tubuhnya dibalut dengan beskap berwarna gading yang dihiasi bros emas dan berjarik corak hitam.
"Masuklah."
Aku melirik sekilas ke arah kedai minuman yang menjadi tempatku berlindung dari hujan. Kedai itu belum terlalu ramai, di antara semua laki-laki yang duduk, ada satu gadis yang tengah menatap ke arah kami sambil melambaikan tangannya dengan gerakan santai. Gadis itu berpakaian sama seperti laki-laki di depanku. Mewah dan berkelas.
"Perkenalkan nama saya Wastu. Dan dia, Dahayu."
Gadis yang bernama Dahayu itu tersenyum lebih ramah padaku. Saat aku melihat Dahayu, laki-laki bernama Wastu mendorongku agar masuk ke dalam kedai. Memaksaku untuk duduk.
"Bagaimana menurutmu, Dahayu? Kakak ipar kita manis sekali, mirip dhele."
"Aku selalu penasaran selera Kang Banyu, rupayanya dia suka gadis manis dan sederhana."