Sudah diterbitkan di Teori Kata Publishing.
Tulisan belum direvisi.
[Part tidak lengkap]
FOLLOW DULU SEBELUM BACA‼️
--
Hanya satu pilihan ; "Bertahan hidup."
Ketika kamu harus memilih ego atau rasa perduli yang menguasai diri.
Bertahan atau pertaha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Tolong jangan bungkam.”
————
*Banyak dialog !
—
Disebuah ruang yang tak terlalu besar, beberapa gadis terduduk acak di atas karpet tebal ditengah ruangan.
Rayha, sebagai tertua. Ia duduk tepat di tengah layaknya center dari ke tujuh gadis itu. Setiap wajah terlihat tak memiliki semangat, murung dan sendu seperti baru saja melalui sebuah kesedihan.
Riri contohnya, ia yang paling lesu tampak termenung disamping Rayha dan Haura di setiap sisinya.
Tujuannya mereka berkumpul layaknya sebuah pertemuan di malam ini tak jauh-jauh dari keresahan Rayha beberapa waktu silam. 4 dari mereka yang terkena musibah dan keanehan, beberapa teror yang mereka rasa sudah tak wajar, dan cerita-cerita Riri yang membebani nya.
Malam itu, tepat pada jam 19.00 Rayha memutuskan bahwa tanpa bantahan, hari ini juga, ia akan mendiskusikan masalah mistis ini bersama. Karena tak hanya dirinya yang merasa terganggu, juga rekan-rekannya yang sama berada di rumah ini.
Pertama-tama ia memanggil setiap kamar untuk makan malam bersama, kemudian menahan mereka di ruang tamu ini.
"Saya minta maaf kalau mengganggu waktu luang kalian, tapi, ini sangat penting." Rayha dengan tegap menatap satu-persatu teman-temannya yang duduk melingkar.
Seperti tak tau harus memulai dari mana dahulu, Rayha kembali diam dengan raut wajah rumit, berpikir keras akan memulai nya dari mana. Rayha bukanlah orang yang senang mengulur-ulur dan bertele-tele, ia selalu akan berbicara tepat di pointnya. Tetapi rasanya saat ini lidahnya kelu, tak bisa mengucap satu kata pun.
Riri mulai mendongak menatap Rayha, dia sedikit tersenyum meski masih terlihat menyedihkan dengan tampilannya yang tidak se-rapi biasanya. Riri dikenal fashionable dan elegant ketika berpakaian— kini tak nampak seperti itu.
Mencoba memberi arahan dengan senyuman, dengan lembut Riri berkata, "kamu harus mulai menjelaskan apa yang kita semua rasakan. Setelah itu, ungkapkan semua yang kamu rasakan."
Rayha menarik nafas dalam, sesekali ia tahan lalu hembuskan dengan kasar. "Oke." Ia menegakkan badannya, "dari awal saya dan kalian semua menginjakkan kaki di rumah ini, saya merasa... Janggal."
Hawa dingin yang entah darimana mulai menelusup ke tulang-tulang gadis-gadis itu. Rafa bahkan sontak mengedikkan bahunya, dirinya merasa merinding kala ini.
"Bukan, bukan karena kita yang seperti diasingkan—meski itu juga. Tapi yang paling penting, semua ini semakin jelas ketika ... setiap tragedi yang kalian rasakan." Rayha menarik nafas. "Kamu Aya, kamu adalah awal dari semua yang terjadi. Saya rasa kecelakaan kaki yang tertancap paku itu biasa, tapi tidak biasa ketika paku tersebut selalu ada di setiap jejak kamu."