Sudah diterbitkan di Teori Kata Publishing.
Tulisan belum direvisi.
[Part tidak lengkap]
FOLLOW DULU SEBELUM BACA‼️
--
Hanya satu pilihan ; "Bertahan hidup."
Ketika kamu harus memilih ego atau rasa perduli yang menguasai diri.
Bertahan atau pertaha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tolong, jangan munafik!"
----
"Ray ... ini surat apa?"
Sekali lagi Riri baca surat itu, ia dipaksa berpikir keras, setiap kata yang tertulis membawa beban di pundaknya.
"Jawab Rayha!" Bentaknya. Kini surat bertinta darah itu ia genggam kuat-kuat, hingga kertasnya remuk ditangan gadis lembut itu.
Surat itu masih basah, masih baru. Tintanya yang terbuat dari darah kental masih segar berbau khas, bahkan kini darah-darah itu mengotori tangan putih Riri, tulisannya sudah acak-acakan tak terbaca di genggamannya.
Ayana panik.
Panik akan tangisan perdana Rayha, teriakan Riri dan panik dengan surat itu. Rasa kantuknya melebur seketika. Semuanya berkecamuk sekali, seakan-akan tengah mencekiknya sekarang. Dadanya sesak tak karuan.
"Kak Rayha, jawab Kak. Semua ini kenapa, aku bingung," ucapnya ikut serta sembari mematut wajah pias Rayha yang kini menunduk. Aya tak berhenti disitu, ia terus bertanya-tanya
"Kenapa ... kenapa harus semuanya mati, kenapa ada kalimat itu, Kak. Apa maksudnya?"
"Kita semua akan mati?"
"JAWAB KAK! KAMI SEMUA AKAN MATI?!"
Ayana tak karuan. Tak pernah ia merasa seperti ini. Dirinya yang selalu tidak peduli sekitar, sekarang berubah total. Jujur saja, yang ia khawatirkan bukanlah dirinya sendiri, tetapi mereka bersama, ke enam teman-temannya yang kini berbagi atap bersama. Entahlah, Ayana juga tak tau kenapa ia mulai merasa peduli.
Beberapa kejadian akhir-akhir ini telah menumbuhkan rasa kemanusiaannya.
Riri terdiam dengan hentakan Aya, ia yang tadi sudah meluap emosinya kini kembali tenang, emosinya sudah diserap penuh oleh Aya sepertinya.
Kemudian Riri menahan Aya agar tetap tenang, tak mungkin pertengkaran akan terjadi di waktu-waktu seperti ini. Disaat nyawa mereka sedang diancam oleh sesuatu yang tak tau apa itu.
Riri termenung sebentar, sesuatu seperti mulai tergambar jelas di kepalanya. Dengan cekatan tak menunggu lama, ia beranjak dari depan Rayha yang masih menunduk.
"Tenang Aya." Ia menyentuh bahu gadis itu sebentar, lalu Riri berjalan kearah pintu kamar, dengan kertas surat yang ia genggam erat-erat sedari tadi. Saat tangannya mulai membuka knop pintu, ia samar-samar berucap, "aku paham apa yang sedang terjadi."