Sudah diterbitkan di Teori Kata Publishing.
Tulisan belum direvisi.
[Part tidak lengkap]
FOLLOW DULU SEBELUM BACA‼️
--
Hanya satu pilihan ; "Bertahan hidup."
Ketika kamu harus memilih ego atau rasa perduli yang menguasai diri.
Bertahan atau pertaha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Ayo bermain bersama"
————
"Sialan!"
Umpatan Aya berhasil menghentikan aktivitas Ceysha dan Rafa yang tengah memasak bersama. Mereka sedang membuat dua mie goreng level pedas yang tersedia di lemari.
"Kak?" Masih trauma dengan bentakan Ayana tadi malam, Ceysha bertanya dengan hati-hati.
Rafa hanya menoleh sebentar, ia lebih sibuk dan fokus dengan masakannya kini, membuat dua porsi mi goreng dengan berbagai eksperimen. Mungkin jika tak di awasi Ayana, dapur ini sudah berubah menjadi kapal pecah, gudang, tempat pembuangan sampah, dan lainnya.
Lihat saja, berbagai macam bumbu yang mereka gunakan kini tersebar bebas di setiap penjuru dapur.
Ah, kembali kepada Ayana yang mengumpat.
Ceysha yang tak mendapat jawaban tak ambil pusing, ia kembali sibuk memberikan arahan komando kepada Rafa yang bergelut dengan kompor.
"Ceysha." Panggil Ayana cepat, yang dipanggil menoleh dengan cepat.
"Iya kak?" Ayana turun dari atas tempat duduknya, di samping rice cooker. Sedikit tidak sopan memang. Ia kemudian mendekati dua sejoli itu. Tetapi Rafa lagi-lagi tak menghiraukan, fokusnya seratus persen terhadap masakannya.
"Sini deh," Ceysha mendekat, kemudian ia mundur selangkah ketika wajah Ayana mendekat. "K-kak ..." Ayana melihatnya berdecak kesal, ia kemudian menarik Ceysha dengan cepat. "Deketan sini, gue mau bisik-bisik!" Ceysha hanya ber-oh ria. Sepertinya otaknya perlu sedikit siraman rohani.
"Jangan kasih tau siapa-siapa, oke? Gue mau ngajak lo ke kamar gue sebentar. Ada hal penting." Bisiknya, Ceysha kembali gugup, anak pubertas ini kembali berpikir yang tidak-tidak.
"Ng-ngapain kak ..." Tolong tahan Ayana untuk tidak membanting tubuh Ceysha, ia mulai emosi dengan kegugupan berlebihan dari adik kelasnya itu.
"Lo masih kecil udah kotor aja! Gue mau kasih lihat hal yang bener-bener penting! Ikut aja udah, cuman lo yang paling aman." Di kalimat terakhir, ucapan Ayana sedikit memelan.
Ia juga yakin sepertinya Rafa yang sangat sibuk itu tak akan peduli juga. Lihat saja sekarang dirinya masih sibuk dengan mie yang sudah mulai menghitam. Baiklah, sepertinya sebelum meninggalkan anak ini sendirian, ia akan memanggil orang lain untuk menemaninya memasak. Takut rumah ini akan mulai membara nanti jika ditinggal sendiri.