404! : Kematian Pertama

707 86 11
                                        

————

10.

“Jangan percaya apapun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Jangan percaya apapun.”

————


Pagi ini keadaan rumah tidak sepi dan tidak ribut. Semua orang melakukan aktivitas seperti biasanya, seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya.

Meski begitu, mereka tetap tak akan melupakan satu fakta penting tentang hidup mereka.

Terjebak di rumah ini.

Persetan dengan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang seharusnya mungkin saat ini dilakukan penutupan, sudah hari ketiga dari awal keberangkatan mereka. Baru tiga hari, tetapi rasanya sangat lama untuk tujuh orang gadis yang menempati rumah besar ini.

Omong-omong LDK, bagaimana keadaan di Villa yang diisi penumpang bus satu? Bukankah mereka bertujuh tak kembali kesana dalam tiga hari ini? Apakah mereka dikatakan hilang?

Mereka bahkan tak memikirkan hal itu, urusan 'terjebak' masih menjebak mereka disini.

Haura dan Aya--seperti biasa-- sibuk berdua, sesekali terdengar senandung lagu yang mengayun indah, membuat telinga siapapun yang mendengar serasa dibelai-belai. Sangat merdu.

Mereka mengikuti satu ekstrakulikuler yang sama, Seni Musik. Disana diajarkan mengenai segala jenis musik, yang sangat mereka cintai. Hal itu pula yang menjadi alasan, Ayana dan Haura cukup dekat sebagai teman sekelas.

"Jangan highnote, Aya. Ini bukan ruang musik," ucap Haura menghentikan Aya yang sudah ancang-ancang meninggikan suaranya. Aya mendelik kan matanya, ia kemudian membalik buku tipis yang isinya lirik-lirik lagu. Ini harta karun.

"Lagunya nggak ada yang bagus lagi, masa gue nyanyi lagu daerah?" Balasnya, Haura melirik melihat isi buku yang sedari tadi mereka pampang.

Tertulis disana sebuah judul 'Panggelan' dan liriknya dibawah.

Haura mengernyit. "Panggelan artinya apa?" Ayana mengedikkan bahunya, ia tak tau. "Ini nama desa, atau nama apa deh. Familiar tapi aneh," lanjutnya.

Menghiraukan hal itu, Haura kembali mencari lirik lagu yang menurutnya ia hafal. Mencintai musik kemudian mendapatkan sebuah buku berisi beberapa lagu di dalam lemari adalah harta karun bagi mereka. Ya, setidaknya untuk saat ini.

"Panggelan itu panggilan, lebih tepatnya kata untuk menyuruh seseorang memanggil 'sesuatu' yang akan dipanggil. Disetiap bait liriknya akan di selipkan nama 'sesuatu' itu sambil dinyanyikan. Konon, katanya sih bakalan dateng." Haura tersentak ketika sebuah kalimat panjang ikut masuk kedalam pendengaran nya.

Dibelakangnya, Rafa sudah menyengir lebar dengan gummy smile kebanggaan nya. Ia ikut bergabung duduk diantara dua orang tadi, Rafa kemudian bersedekap layaknya seseorang yang angkuh.

Penginapan 404! [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang