404! : Mannequin Sialan

499 71 6
                                        

————

14.

“Surat Untuk Liam”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Surat Untuk Liam

————

"Beneran Kak, ada tangan manusia. Tanya aja Kak Aisha, dia liat juga kok"

Haura bersikeras meyakinkan Riri yang tampak masih tak terpengaruh, ia tetap fokus membersihkan kamarnya, bahkan tangannya yang ditarik-tarik oleh Haura ia abaikan. Rafa yang juga berada disana menemani Haura ikut meyakinkan Riri.

Perihal tangan tadi ... Haura dan Rafa langsung berlari menuju kamar Rayha, menemui Riri dan Aya untuk memberitahu temuan mengerikan mereka. Tetapi bukannya menemukan Riri, mereka malah menemukan Aya yang tertidur pulas di samping Rayha. Lalu mereka memutuskan menemui Riri dikamarnya sendiri.

Dibawah, Ceysha sudah menangis di pelukan Aisha.

Bagaimana tidak, saat Aisha berteriak tadi, mereka semua sama-sama ikut mengecek bawah meja seperti yang dikatakan Haura, dan benar saja, ada sebuah tangan laki-laki yang terpisah dari badannya. Hanya sepotong saja.

Kondisi tangan itu sudah membusuk, beberapa bagian terkelupas tapi tak mengeluarkan darah, tangannya bisa ditebak berasal dari seorang lelaki tua, sebab fisik tangannya yang cukup kekar.

Meski sudah diceritakan se rinci itu oleh Haura dan Rafa, Riri masih skeptis, ia masih menimbang-nimbang apakah harus mengikuti mau dua anak ini--menyusul kedapur-- atau tidak. Riri takut ia hanya dikerjai, jadi ya, dia memilih untuk tak menghiraukan.

"Patung kayaknya itu," ucapnya santai, lalu melanjutkan kegiatan merapikan kasur miliknya. Haura dan Rafa mendelik, mereka lalu menarik paksa kedua tangan Riri, membuat sang empu terhuyung ke belakang.

"Mana ada patung dagingnya robek, Kak. Ikut aja ayo!"

"Aduh, aduh, iya-iya ini aku liat," Riri menahan tubuhnya, "jangan tarik-tarik deh," sambungnya.

"Ayo, Kak. Ikut." Haura terus menarik Riri, hingga mereka sampai di lorong yang menyambungkan ruang tamu dengan dapur.

Mereka bertiga berjalan cepat, seperti tengah tergesa-gesa, Riri juga sudah tidak mereka tarik-tari lagi. Jarak kamar Riri dan dapur seharusnya tidak sejauh itu, tetapi entah kenapa sekarang rasanya jaraknya sangat jauh. Mereka bahkan tidak sampai-sampai sedari tadi. Rafa menghela nafasnya.

"Ini berapa kilo sih jauhnya," keluhnya, Haura menanggapi dengan mengacuhkan bahunya. "Aneh." Tambahnya.

Merasa janggal, Riri memberhentikan langkahnya, hal itu menarik atensi Haura dan Rafa, mereka ikut berhenti. Riri terlihat menggerakkan telapak tangannya seperti gerakan menutup dan membuka. Ia mengerutkan dahi, kenapa tangannya kaku?

Melihat hal itu, Rafa merasa aneh, kemudian bertanya, "kenapa Kak?"

"Tangan aku kram kayaknya," jawabnya singkat. Riri lalu menolehkan kepalanya ke sekeliling lorong, entah kenapa matanya terpaku kepada sebuah cermin bulat besar yang bertengger di tengah-tengah dinding lorong. Sangat tidak strategis.

Penginapan 404! [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang