Sudah diterbitkan di Teori Kata Publishing.
Tulisan belum direvisi.
[Part tidak lengkap]
FOLLOW DULU SEBELUM BACA‼️
--
Hanya satu pilihan ; "Bertahan hidup."
Ketika kamu harus memilih ego atau rasa perduli yang menguasai diri.
Bertahan atau pertaha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Diam adalah bentuk pengendalian diri"
----
"Dia bernafas" satu kalimat yang membawa helaan nafas lega dari lima orang yang berdiri mengelilingi kasur milik Rayha.
Riri kemudian beranjak selepas mengecek keadaan Rayha yang masih tak sadarkan diri di bangkar nya. Memberikan ruang untuk gadis yang tak sadarkan dengan balutan perban di perutnya.
Untunglah yang melukai perut ramping Rayha hanya sebuah pena milik Rafa, jika itu sebuah pisau maka endingnya mungkin sangat buruk. Bisa saja mereka akan kehilangan Rayha.
Di tempatnya, Rafa menatap Rayha dengan kondisi wajah yang penuh air mata, ia tak berhenti menangis sedari tadi, sesaat setelah ia sadar dari pingsannya.
"Udahlah Ra, kan lo nggak sadar, jangan nangis lagi deh." Haura yang berada di sampingnya merangkul Rafa, memberikan sedikit kalimat penenang. "Kak Rayha kuat kok, pena doang mah kecil," lanjutnya sambil menjentikkan jarinya.
"Nggak ada yang bakal mati, udah diem." Kali ini Aya yang menyahuti, setelah berucap ia bergerak mendekat ke arah Riri.
"Kak,"
"Ya?"
"Gajadi."
Riri mendengus mendengarnya, tetapi Riri tetaplah Riri ia tak akan mengambil pusing kekonyolan Aya. Tetapi kekesalan itu malah muncul di diri Haura. Ia mendekati temannya lalu menoyor kepala Aya.
"Yang jelas, tai." Umpatnya, jujur saja Haura kesal karena ia penasaran juga, apa yang mau di ungkapkan oleh Aya.
Pasalnya beberapa hari ini ia memperhatikan Aya sedang menyembunyikan sesuatu, seperti ada yang ia simpan sendiri. Hal itu tentu tak susah untuk Haura sadari, mengingat betapa lengketnya mereka berdua selama ini, tak sulit untuk menyadari perubahan sikap Aya baginya.
Beberapa kali ia juga memergoki Aya yang melamun sendiri, meski itu sudah jadi habitatnya tetapi menurut Haura ada yang berbeda dengan lamunan Aya.
Kembali ke Aya yang bertele-tele, setelah menerima toyoran maut dari Haura, ia menatap sinis teman sekelasnya itu, kemudian beranjak mendekat ke Ceysha di samping Aisha. Sejak kejadian beberapa waktu tadi, ia merasa ingin selalu dekat dengan adik kelas yang dulunya ia anggap sangat menyebalkan itu.