Eunhye kembali ke Golden Crust Patisserie seperti biasanya. Langkahnya tenang, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi yang mudah dibaca.Meski pelanggan lain mungkin datang untuk menikmati suasana hangat toko, Eunhye hanya datang untuk satu alasan: cheesecake favoritnya.
Namun, sejak pertemuan pertamanya dengan Park Mingyu, suasana di toko itu terasa sedikit berbeda.
Bukan karena kue-kue yang berubah rasa, melainkan karena keberadaan pria itu yang selalu menyambutnya dengan senyum cerah dan suara ramah, sesuatu yang belum pernah ia rasakan dari pemilik toko sebelumnya.
Pagi itu, Eunhye melangkah masuk, lonceng kecil di atas pintu berdering lembut, mengumumkan kedatangannya.
Seperti biasa, dia memesan tanpa basa-basi.
“Classic cheesecake dan matcha latte,” katanya, suaranya datar namun tegas.
Di balik konter, Mingyu yang sedang sibuk menyusun roti segar menoleh cepat.Wajahnya langsung dihiasi senyum yang seolah datang tanpa usaha. “Selamat pagi! Anda datang tepat waktu. Cheesecake hari ini baru saja selesai dipanggang. Saya yakin Anda akan menyukainya.”
Eunhye tidak merespons dengan ucapan. Sebagai gantinya, dia hanya mengangguk tipis dan melangkah menuju meja favoritnya di dekat jendela.
Mingyu, meski sudah terbiasa dengan sikap dingin itu, tetap merasa ada sesuatu yang menarik dalam keheningan Eunhye—sebuah misteri yang ingin ia pahami.
Beberapa menit kemudian, Mingyu menghampirinya dengan nampan berisi pesanannya. Ia meletakkannya dengan hati-hati di atas meja, memastikan semuanya tersaji sempurna.
“Silakan dinikmati. Kalau ada yang kurang, beri tahu saya, ya,” ujarnya ramah.
Eunhye mengangguk lagi, kali ini sedikit lebih pelan. Saat Mingyu kembali ke konter, ia memperhatikan sekilas wanita itu.
Ada sesuatu dalam caranya menyendok cheesecake—perlahan, hati-hati, seolah setiap gigitan adalah pengalaman yang harus dinikmati sepenuhnya.
Hari-hari berikutnya, pola yang sama terus terulang. Eunhye datang dengan keheningannya, dan Mingyu melayani dengan keramahan yang tak tergoyahkan. Namun, perlahan-lahan, interaksi mereka mulai berubah.
Suatu siang, ketika toko sedang sepi, Mingyu memberanikan diri memulai percakapan kecil.
“Cheesecake adalah favorit Anda, ya?” tanyanya sambil membersihkan meja di dekat Eunhye.Eunhye mendongak sekilas, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Iya,” jawabnya singkat.
Mingyu tersenyum, merasa itu adalah kemajuan.“Saya baru saja bereksperimen dengan rasa baru. Cheesecake matcha. Mungkin Anda bisa mencobanya suatu hari nanti?”
Eunhye mengerutkan dahi, jelas tidak terbiasa dengan percakapan santai seperti ini.Namun, ada sesuatu dalam nada suara Mingyu yang membuatnya sulit untuk bersikap terlalu dingin. “Mungkin,” jawabnya, hampir seperti bisikan.
Mingyu tersenyum lebih lebar. Baginya, satu kata itu sudah cukup untuk hari itu.
Hari-hari berlalu, dan percakapan kecil seperti itu mulai menjadi kebiasaan. Kadang-kadang hanya tentang rasa cheesecake, cuaca, atau hal-hal sederhana lainnya. Meskipun Eunhye tidak pernah benar-benar membuka diri, dia juga tidak lagi sepenuhnya mengabaikan Mingyu.
Ada sesuatu tentang pria itu—keramahannya yang tulus, caranya selalu mencoba mencairkan suasana, yang perlahan mengikis dinding yang selama ini Eunhye bangun di sekitarnya.Dan meskipun keduanya belum menyadarinya sepenuhnya, jejak rasa dari pertemuan mereka mulai meninggalkan bekas kecil yang bertaut di hati masing-masing.
Mingyu mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Eunhye—cara dia selalu menggulung lengan sweaternya sedikit saat menikmati latte,

KAMU SEDANG MEMBACA
The sweet taste of love : A Cheesecake Love story in seoul
Roman pour AdolescentsSinopsis "The Sweet Taste of Love: A Cheesecake Love Story in Seoul" kisah romantis yang berlatar musim gugur di Seoul, di mana daun-daun keemasan menghiasi jalanan dan aroma cheesecake memenuhi udara. Cerita ini berpusat pada Eunhye, seorang penul...