The Fairy and the Wolf

117 17 1
                                        

Informasi itu nyata adanya. Hutan di luar istana sungguh hijau nan gelap. Pohon-pohon raksasa menjulang gagah, mencekam. Kabut tebal menyelimuti hutan itu, menyerupai bayang-bayang yang menghantui seisinya. Satu kali setelah mengokang senjata, Chevalier River menginjakkan sepatu botnya ke permukaan tanah perbatasan hutan. Tertulis tanda 'terlarang' berwarna merah pada sebilah papan lapuk. Kendati demikian, larangan itu tak bisa menghentikan River. Ia adalah penguasa di sini. Keturunan sang Raja Serigala. Putra mahkota bisa melakukan apa saja meskipun ayahnya tak akan suka mendengar hobi baru putranya. River baru-baru ini memiliki hobi berburu, namun bukan itu yang membuatnya memasuki wilayah hutan dengan perasaan antusias.

Suara gagak penghuni menyambut kedatangan Chevalier River dengan gembira. River tahu dirinya disambut hangat, diagung-agungkan. Tuan Chevalier si pewaris tahta, begitu gagak-gagak memanggil dirinya. Tak ada yang bisa menyaingi eksistensi River sebab sang raja hanya memiliki satu orang anak. Raja begitu arif dan menjaga kesetiaannya, sebab serigala hanya akan mencintai pasangan yang sedari awal dipilihnya hingga dipisahkan maut. Hal itu pula yang membuat seluruh makhluk menyayangi keluarga kerajaan.

Baru beberapa menit melangkah memasuki hutan, seekor gagak datang menghampiri dan hinggap ke bahunya. River hanya mengabaikan gagak itu tanpa merasa terusik sama sekali.

Oh, lihat betapa menawannya pria ini. River tidak akan tahu gagak itu tengah memuji dirinya. Seekor gagak betina yang kemudian disorot tajam oleh gagak jantan yang bertengger pada ranting sebuah pohon apel liar, kentara cemburu.

"Tidak ada wanita di sini, aku yakin Vegas berbohong padaku. Bisa-bisanya aku percaya padanya." River mengoceh seorang diri. Seekor kelinci putih melompat secepat kilat ke semak-semak saat mendengar suara langkah kakinya. "Wanita mana yang mau tinggal di hutan."

River menebas ranting-ranting dengan pedangnya setiap kali pakaiannya tersangkut. Pedang itu berhasil membuat si gagak betina merasa takut sehingga cepat-cepat mengepakkan sayap dan menjauh. Mungkin Vegas memang membohonginya, tapi River tidak akan keluar dari hutan ini dengan tangan kosong. Dia harus mencari sesuatu sebagai buah tangan.

Seorang pria telah masuk ke hutan ini.

Bisikan gerombol jamur polyporus terdengar ke telinga seekor peri yang sedang melintas. Seorang pria, katanya. Heaven mondar-mandir dahulu sebelum akhirnya kembali ke hadapan para jamur.

"Kalian tadi bilang apa?"

"Kita kedatangan tamu."

Heaven bercekak pinggang sembari terus mengepakkan sayap. "Pria yang beberapa hari lalu datang kemari?"

"Bukan. Temannya. Putra sang raja."

"Aku akan membuatnya tersesat," kata Heaven jengkel.

"Kau akan menyesal berurusan dengannya. Dia sang pewaris tahta. Tuan Chevalier."

"Dia kemari untuk berburu?" tanya si peri penasaran.

"Bukan. Kabar tentangmu sudah terdengar ke telinganya. Dia mencarimu. Jamur-jamur lain yang dilaluinya yang memberitahu kami."

"Kalau aku membuatnya tersesat hingga ke bagian terdalam hutan―"

Para jamur marah, tak senang dengan gagasan tersebut. Mereka mulai saling menyenggol satu sama lain dan menjulurkan kepala ke arah Heaven, berupaya melepaskan diri dari kayu agar dapat mencekal si peri.

Heaven tertawa, merasa terhibur tapi kemudian mengelus kepala jamur-jamur itu dengan perasaan sayang. "Tenang saja, teman-teman. Aku tidak akan mencari masalah." Kalimat menenangkan itu membuat gerombol jamur rileks kembali.

"Kami mengkhawatirkanmu, Heaven."

"Aku bersungguh-sungguh tidak akan mencari masalah." Setelah berujar demikian, Heaven terbang meninggalkan para jamur. Tapi aku jelas akan bermain-main dengan Tuan Chevalier yang dipuja-puja seisi hutan ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 24, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Honey LemonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang