Jangan lupa vote, dan follow yaa! Happy reading!
***
"Nggak sabar banget buat liat cogan dari sekolah lain! Katanya kapten voli dari SMA Merdeka tuh ganteng banget, bisa nggak ya gue jadian sama dia?" ucap Tia, teman Nara.
Nara yang mendengar itu, sontak menghentikan langkahnya. Pikirannya menebak seseorang, tapi dia juga tidak yakin.
"SMA Merdeka? Siapa namanya?" Nara bertanya pada Tia.
"Elandro! Gue jamin lu bakal demen!"
"Hah?!" Nara berharap pendengarannya sedang rusak. Jika benar adalah orang yang sangat dikenalnya, maka ia harus bersiap untuk menjadi tontonan banyak orang.
Tia tiba-tiba menarik tangan Nara dan membawanya ke lapangan tempat kompetisi voli akan dimulai. Lapangan sudah sangat ramai dan hampir sebagian besar diisi oleh perempuan. Tia membawa Nara pada posisi penonton di baris depan.
"Di belakang aja ..."
"Ogah! Gue pengen lebih Deket buat liat Elandro." Nara hanya bisa memutar kedua bola matanya malas.
Setelah sepuluh menit, pertandingan voli akhirnya dimulai. Satu persatu tim bersaing. Dan pertandingan berlangsung hingga tiga jam sebelum akhirnya penentuan final besok. SMA Merdeka dan SMA Jaya menduduki peringkat teratas yang artinya besok kedua sekolah itu akan bersaing pada babak final.
Seluruh penonton perempuan bersorak atas kemenangan Elandro, termasuk Tia. Sedangkan Nara hanya menatap heran pada kaum hawa yang begitu menggemari Elandro.
Saat sedang meminum air mineral dari botol, tidak sengaja Nara menatap ke arah El yang sedang mengeringkan keringatnya dengan handuk. Tatapan keduanya bertemu, El tersenyum smirk menatap Nara.
Entah kenapa, tiba-tiba Nara merasa bahwa El sangat seksi saat ini. Padahal ia sering melihat adegan itu sejak kecil mereka berteman. Karena terpesona, Nara tidak menyadari jika El sudah mendekat ke arahnya. Hingga El tiba-tiba menyambar botol minumnya dan meneguknya hingga habis.
"Heh?!"
"Gue tau, gue ganteng. Segitunya natep gue."
"Apasih! Air gue kenapa dihabisin?"
"Iya nanti gue beliin yang baru."
"Ck!" Nara mengerucutkan bibirnya. Tia terkejut melihat interaksi keduanya yang seperti sudah akrab sangat lama.
"Kalian saling kenal?" tanya Tia.
"Nggak!" Jawab Nara.
El hanya tersenyum smirk dan menyodorkan tangannya ke arah Tia untuk berjabat tangan.
"Lu temennya Ara kan? Kenalin, gue calon masa depannya dia..." Tia terperangah mendengarnya.
"Dih!"
Nara mengambil botol yang isinya sudah dihabiskan itu dan meletakkannya di samping tempat duduknya. Kemudian ia bangkit dan menarik handuk yang tadi El gunakan untuk mengusap keringat. Kemudian ia usapkan pada bagian tubuh El yang masih terdapat keringatnya.
El hanya menurut, sedangkan Tia semakin dibuat kaget. Nara yang sekarang sangat berbeda dari yang ia kenal sebelumnya. Jangankan menyentuh cowok, berbicara saja sangat jarang dilakukan.
"Ara emang judes, tapi gue tau dia sayang sama gue." El terkekeh sambil membetulkan poni Nara yang sedikit berantakan.
Nara langsung melempar kembali handuk itu ke wajah El begitu menyadari tindakannya kini sudah menjadi tontonan banyak orang.
"Mandi sana, bau!"
Nara menarik Tia untuk pergi ke arah kantin. Sedangkan El sudah kembali berkumpul dengan teman-temannya. Tia sejak tadi tersenyum menatap Nara. Walaupun ia mengagumi El, setidaknya dia tahu jika Nara masih normal.
"Gila lu senyum Mulu dari tadi?" Nara menatap jengah
"Gue ikut seneng ..." Tia menggoda.
Setelah kejadian di lapangan, banyak siswa yang membicarakan Nara dengan El. Meski begitu banyak yang mendukung dan tidak keberatan dengan hubungan keduanya. Justru terlihat sangat cocok. Sama-sama primadona sekolah.
Nara memutuskan untuk pergi beristirahat di UKS, sedangkan Tia memilih untuk lanjut menonton pertandingan lainnya. Tia bisa memaklumi Nara yang memang kurang suka keramaian. Nara segera memasuki ruang UKS yang tertutup. Ia melangkah ke dipan paling ujung agar lebih tenang beristirahat.
Nara cukup terkejut begitu membuka tirai, di sana terdapat El yang sedang berbaring. Sepertinya El sudah tertidur cukup lama. Nara melihat sekeliling dan mengecek masing-masing dipan di balik tirai. Tidak ada orang lain. Di ruang pengawas juga tidak ada. Nara memutuskan mengunci ruang UKS dari dalam.
Kemudian Nara mendekati El, ia menatap wajah tampan El. Teringat tentang pikirannya siang tadi yang menganggap El cukup seksi. Nara mencoba membuka kaos yang El gunakan, ia ingin melihat perut kotak-kotak itu. Benar saja, otot perut itu terbentuk sangat bagus.
Saat tangannya hendak menyentuh otot perut itu, tiba-tiba ditahan oleh tangan orang lain yang membuatnya terkejut bukan main. Ia reflek melihat ke arah El yang kini sudah menatap intens dirinya dan tersenyum smirk.
"Apa gue lagi dilecehin?" El bangkit dari posisinya setelah melepaskan tangan Nara. "Lu suka otot perut gue? Padahal kalo lu mau gue izinin loh. Nggak usah diem-diem gitu."
"Siapa suruh lu tidur ...." Mendengar jawaban Nara, El terkekeh geli.
El menarik lembut tubuh Nara dan ia posisikan dalam pangkuannya dan menghadap dirinya. Kemudian El memeluk erat tubuh Nara. Nara tidak bisa menolak, ia juga ingin melakukannya. Tangan Nara mengelus rambut kepala El, memberikan kenyamanan.
"3 tahun kita udah jarang interaksi. Gue kira lu bakal berubah ..." El semakin mengeratkan pelukannya.
"Siapa yang bisa berubah kalo orang yang disayang bahkan banyak fans di beberapa sekolah ..."
Mendengar jawaban Nara, El sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap ke Nara yang juga menatapnya. Ia tersenyum kemudian mengecup sekilas pipi Nara.
Nara memegangi wajah El, ia menatap intens kedua manik itu menyalurkan kerinduan. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.
Cup!
Nara mengecup pelan bibir El. Hanya terpisah beberapa Senti sebentar, kedua bibir itu kembali menyatu. Keduanya mulai bercumbu dengan ciuman yang lembut. Membuka mulut, saling mengeksplor dan berbagi Saliva. Keduanya hanyut dalam kenikmatan. Hingga setelah beberapa menit, Nara memberi instruksi untuk berhenti karena kehabisan nafas.
Dahi keduanya masih menyatu, mencoba menetralkan nafas mereka yang lelah karena berciuman. Wajah El terlihat cerah dari sebelumnya. Akhirnya, penyemangat hidupnya bisa kembali ke pelukannya.
"Ra, kenapa lu nggak pindah ke sekolah gue? Atau gue aja yang pindah?" El menatap wajah Nara, ia merapihkan rambutnya.
"Jangan ngaco, beberapa bulan lagi udah mau kelulusan."
"Jadi harus nunggu lagi ..." El sejak tadi terus menatap kedua payudara Nara. Sesekali terlihat ia meneguk salivanya. "Ra, mau ..."
Nara yang sudah paham dengan permintaan El, segera melepaskan baju olahraga ketatnya yang cukup menampilkan payudara besarnya.
"Kayaknya mereka tambah gede ya ..." El mengamati kegiatan Nara yang melepaskan bajunya dan juga bra yang dipakainya.
"Iya, siapa lagi pelakunya ..."
"Hehe investasi, biar bisa nampung banyak. Jadi nanti anak kita puas nyusunya."
El segera meraih dua payudara yang menggantung dan menantang itu. Ia remas dengan lembut dan perlahan agar Nara tidak kesakitan. Nara terlihat menikmati sentuhan El. Hingga beberapa saat, El kemudian memasukkan puting payudara itu ke mulutnya. Ia mulai menghisapnya seperti bayi yang kehausan.
.
.
.
Selengkapnya di karyakarsa!
Jangan lupa mampir ke link yg ada di kolom komentar yaa!
KAMU SEDANG MEMBACA
One/Two Shoot [END]
RomansaJangan cuma baca, wajib Vote! Pastikan untuk follow terlebih dahulu! Lebih bagus kalo ngasih komentar atau request cerita bisa langsung DM yaww! Cerpen dewasa, bocil dilarang mampir. hanya untuk 21+ dosa tanggung sendiri. Diusahakan update setiap ha...
![One/Two Shoot [END]](https://img.wattpad.com/cover/363969115-64-k366972.jpg)