"sampe kapan Lo mau gini terus yon?"
"Apa?"
Gin mendengus, "ngga usah pura-pura bodoh deh, kapan Lo mau jujur soal dia ke caine?"
Rion berdehem, "nanti" jarinya yang semula terhenti kembali disibukkan dengan tanda tangan pada setiap lembar kertas diatas mejanya.
"Kalo lo ngga bilang sekarang malah bahaya, apalagi kalo caine tahu dari orang lain"
Rion memijat pangkal hidungnya, pening mendera kepalanya yang kini berisik. "Aku takut menyakitinya gin"
"Kalo Lo ngga bilang dari sekarang malah lebih nyakitin dia yon, sampe kapan Lo mau nyembunyiin cewek itu?"
"...."
"Dia temen gw, kalo kayak gini gw merasa ikut andil sama masalah Lo ini. Pikirin kedepannya dong yon, kalo cewek itu bilang yang nggak-nggak ke caine gimana?"
"Caine tidak perlu tahu, aku tidak mau tunangan ku sedih"
Gin berdecak kesal, "jangan bertingkah bodoh deh, cewek itu hamil yon! Dan bayinya butuh sosok ayah!"
"Gin-" ucapan Rion terpotong saat ponsel miliknya berdering.
Diambilnya ponsel miliknya dan menatap gin sejenak, "load speaker"
"Halo"
"Halo Mr. Kenzo" suara wanita terdengar lembut lewat ponselnya.
"Ada apa?"
"Aku mau kue pie"
"Nanti supir saya akan memberikannya kepada anda"
"Saya maunya ayah dari anak saya yang memberikan langsung"
Rion dan gin saling memandang, sebelum Rion kembali menghela nafas. "Saya usahakan"
"Terimakasih Mr. Kenzo"
Tut~
"See?" Gin menatap Rion remeh.
"Aku pergi dulu"
________
Caine meminum es jeruk miliknya hingga tandas, memandang hamparan bunga pada halaman belakang rumahnya. Kakinya berayun karena tidak sampai pada tanah saat duduk di pendopo.
Biasanya jam segini dia masih tidur siang, tapi entah mengapa perasaan tidak enak menghantuinya. Caine menunduk melihat kakinya yang berayun pelan, perasaannya jadi tambah tidak enak.
"Sayang"
Suara berat tunangannya membuat caine mendongak, "loh, kamu udah pulang? Tumben siang-siang begini" caine melihat arloji pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 13.17.
"Iya, kangen kamu"
"Utututu, sayang akuu" caine menarik Rion dalam pelukannya, sedikit merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu udah makan?" Caine sentuh wajah tampan itu dengan lembut.
"Belum"
"Jangan kebiasaan deh, mau makan apa biar aku masakin"
"Makan kamu saja bagaimana?"
Pukulan kecil pada pundaknya membuat Rion berdesis, "kok dipukul?"
"Siapa suruh mesum!"
KAMU SEDANG MEMBACA
{END} mine
Novela Juvenil"Gw tau siapa Lo sebenarnya" Tatapan tajam si surai merah berikan pada pria didepannya. Sedangkan yang ditatap terkekeh sambil mengangguk kecil. Kedok yang selama ini dia sembunyikan diketahui oleh si surai merah, susahnya untuk hanya sekedar menye...
