Caine pandang bunga-bunga di taman belakang rumahnya dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya.
Menggigit bibirnya saat mengingat kembali percakapan dengan Rion sebelumnya.
Hari ini mereka akan kencan, lihat saja pakaiannya yang rapih dengan stelan jas.
Namun, sudah hampir satu jam menunggu, pria itu masih belum menampakkan batang hidungnya.
"CAINE!!"
Caine tersentak kaget mendengar teriakkan gin yang terlihat tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Kenapa? Ada apa?" Sirat khawatir terdengar dari nada bicaranya.
"Rion.... Rion" suara gin tersendat, pakaiannya lusuh dengan beberapa robekan yang dipenuhi darah.
Caine membisu, pikirannya seakan tahu apa yang akan disampaikan oleh gin. Tidak, jangan sampai apa yang ia pikirkan adalah hal yang nyata.
"Tadi di perjalanan pulang ada beberapa mobil yang nembakin mobil dia. Rion emang berhasil nahan setengah nya, tapi tetep aja dia kalah jumlah"
"Ngga usah bertele-tele gin!" Ujar caine menuntut.
"Tubuhnya kena beberapa tembakan-"
"Tapi ngga parah kan? Dia cuma lagi di-"
"Caine"
"Jangan bilang dia ud-udah.. " nafasnya tercekat.
Gin menggeleng, "sabar ya, dan tolong apapun yang terjadi nanti lo harus terima"
Matanya memanas, rasa sakit menghantam dadanya. "Gw mau liat dia"
Anggukan kecil caine dapat sebagai jawaban, "ayo"
.......
Mobil hitam milik gin berhenti di parkiran gedung pencakar langit, bantingan pintu mobil yang ditutup kencang oleh caine menimbulkan suara keras.
"Relax.."
Caine mengatur nafasnya, berjalan beriringan dengan gin yang kemudian melangkah di depannya memimpin jalan. Menyusuri lorong-lorong gedung sambil memilin ujung bajunya, caine takut. Salah satu pintu besar ruangan gedung itu terbuka lebar dengan banyak orang berlalu lalang.
Pikirannya berkecamuk, kaki yang semula kuat itu mulai lemas ketika melihat dalam ruangan tersebut. Perasaan takutnya menjadi nyata saat sebuah peti mati terlihat oleh matanya. Lelehan air mata menetes deras tanpa isaknya, lebih sakit karena tak bersuara.
Suara Isak tangis didalam sana semakin menyayat hatinya, caine rasanya ingin berteriak. Meluapkan emosi dalam hatinya, apalagi melihat salah seorang disana yang ia kenal.
Mulutnya mencoba berbicara, kelu. Hatinya seakan diremas ketika hendak mengeluarkan suara. Deras air mata membuat pandangannya buram, "Rion.." cicitnya lirih. Kaki nya hendak melangkah masuk sebelum suara gin menghentikannya.
"Kenapa berhenti?" Ucap gin saat caine tak mengikuti langkahnya.
"Mau Rion.."
"Iya sabar ya.. ikut gw dulu"
"Ngga mau, mau Rion.."
Gin tersenyum tipis, "iya makanya ayo ikut dulu, baru nanti bisa ketemu. Oke?"
Kakinya yang semula terhenti kembali melangkah, kali ini matanya menangkap pintu besar lainnya disana.
"Ayo masuk"
Caine kembali membeku saat melihat punggung seorang pria dengan surai ungu di ujung ruangan, banyak nya orang-orang diruangan itu tidak membuat atensinya teralih dari punggung lebar itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
{END} mine
Fiksi Remaja"Gw tau siapa Lo sebenarnya" Tatapan tajam si surai merah berikan pada pria didepannya. Sedangkan yang ditatap terkekeh sambil mengangguk kecil. Kedok yang selama ini dia sembunyikan diketahui oleh si surai merah, susahnya untuk hanya sekedar menye...
