41

2K 161 41
                                        

Lantunan bait lagu mengalun lirih dari mulut caine. Tangannya bergerak menggosok tubuhnya dibawah shower, caine memejamkan matanya. Pikirannya melayang seakan tak ada ujungnya.

"Sial!!" Sebuah bogem mentah ia layangkan pada tembok didepannya.

Kenapa ini semua harus terjadi. Apa yang harus dia lakukan kali ini? Memikirkan untuk menikahi wanita itu saja caine merasa sakit. Bagaikan air laut yang pasang surut atau ribuan sengat lebah yang menyakiti, itulah gambaran hatinya saat ini.

Perasaannya seolah di aduk hingga menimbulkan mual yang mengganggunya akhir-akhir ini. Caine tundukkan kepalanya, menatap kepalan tangannya dibawah sana.

Matanya mulai buram dengan lelehan air yang mengalir dari matanya. "Hahh.. air dari shower kan ini? Hahaha" usapan pada pipinya terasa dingin, caine tertawa sejenak sebelum menyelesaikan mandinya.

Caine berdiri didepan cermin besar di kamarnya, merapihkan sedikit pakaian nya yang terlipat.

"Mana ya...?" Bibirnya mengerut dengan jari-jarinya yang bergerak kebingungan untuk memilih parfum mana yang akan dia gunakan kali ini.

Kepalanya mengangguk dan setelahnya tangannya itu terlihat sibuk menyemprotkan parfum dari ujung kepala hingga kaki beberapa kali. Merapihkan sedikit rambutnya dan berpose pada cermin besar didepannya.

"Masih kurang ga ya?" Monolog nya sendiri takut-takut jika nanti malah bau badan yang tercium oleh orang lain.

Gerakan tangannya yang hendak kembali menyemprotkan parfum terhenti saat suara klakson mobil terdengar nyaring, dengan terburu langkah kakinya keluar dari kamar.

"Mau kemana?"

Suara sang ayah terdengar samar saat caine mulai dekat pada posisi berdiri mereka.

Gerakan kakinya tergesa-gesa tidak sabar untuk bertemu kekasihnya. Bahkan langkahnya seperti berlari kecil sembari menuruni tangga.

Netranya menangkap punggung tegap milik yang tercinta, yang tengah berbincang dengan sang ayah.

"Iyonnn~~"

Yang empunya nama menoleh dengan senyum yang merekah. "Jangan lari-lari nanti jatuh"

"Humpt!" Caine peluk erat Rion yang kini terkekeh kecil.

"Nakal.." tangan besar itu mengusap surai merah caine lembut.

"Jadinya kalian mau kemana?" Ayah menatap dua pria didepannya malas, dia jadi iri.

"Kita mau dinner, ayah" Rion alihkan perhatiannya pada ayah sejenak.

"Ohhhh, pantes dari pagi ini anak senyum-senyum ngga jelas. Kaya orgil" tawa konyol terdengar hingga membuat caine mendengus sebal.

"Jadi aku orgil? Ayah mau punya anak orgil!?" Caine menatap malas ayahnya.

"Kenapa sewot banget ya? Ayah cuma bicara fakta..."

"AYAHH!!" Pukulan kecil mendarat pada lengan sang ayah yang semakin mengencangkan tawanya.

"Aduh... Udah-udah sana cepet, ayah ga tahan"

Caine mendengus melihat ayahnya yang seolah-olah akan memuntahkan isi perutnya, "bilang aja ayah iri kan karena jarang berduaan bareng ibu"

"Yeee, sok tahu kamu mah. ayah juga pernah muda wlee.."

Kali ini bukan hanya ayahnya yang tertawa, karena Rion bahkan ikut menertawakan dirinya.

"Apasih ayah!" Pukulan kecil pada pundak ayah membuat kedua orang tadi semakin mengencangkan tawanya.

{END} mineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang