CHAPTER 9

5 2 0
                                        

Pagi itu, udara masih segar, menyelimuti desa yang baru mulai hidup. Di jalanan sempit yang membelah pemukiman, Bulan berdiri di depan rumah, memandang teman-temannya yang sudah berkumpul. Mereka sepakat untuk mandi di sungai yang terletak beberapa kilometer dari kampung, tempat yang sering mereka tuju untuk merasakan kesegaran alami dari alam.

“Bulan, yuh cepet!” teriak Mas Bintang dari ujung jalan, melambaikan tangan dengan semangat yang tak terbendung.
(Bulan, ayo cepat!)

Bulan menghela napas, merasa sedikit ragu. “Ngko ari ana ula pimen?” tanya Bulan dengan suara pelan, sedikit khawatir.
(Nanti kalau ada ular gimana?)

Mas Bintang tertawa lepas. “Ula? kue mukur cerita, Bulan. kali kie aman koh,” jawabnya sambil berjalan ke arahnya, melangkah dengan ringan.
(Ular? Itu cuma cerita, Bulan. Sungai ini aman kok,)

Mas Arman yang sudah lebih dulu berjalan menyusul, melambaikan tangan kepada Bulan. “Aja wedi! Laka sing aneh-aneh ng kali kue.”
(Jangan takut! Gak ada yang aneh-aneh di sungai itu.)

Ambon yang selalu penuh energi berlari-lari kecil di sekitar mereka. “Yuh, yuh! Ora seru aru mukur ngileng-ngileng!” teriaknya, penuh semangat.
(Ayo, ayo! Gak seru kalau cuma lihat-lihat!)

Bulan memandang ke arah sungai yang terlihat dari kejauhan, mengikuti langkah mereka yang mulai bergerak menuju tujuan. Meski sedikit cemas, ia mengikuti, merasa tak enak kalau harus tertinggal. Mereka sudah sering ke sungai ini, jadi pasti aman.

Sungai itu tidak jauh dari kampung, hanya beberapa kilometer, namun cukup tersembunyi di balik hutan kecil yang memisahkannya dari jalan utama. Begitu sampai di tepi sungai, suara riak air yang menenangkan langsung menyapa telinga. Airnya jernih, berkilau di bawah sinar matahari pagi, dan pohon-pohon besar di sekitar memberi teduh. Semua tampak begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Mas Bintang sudah berada di dekat air, melompat tanpa ragu ke dalam sungai. “Yuh, aja kur nonton!” teriaknya sambil mengayunkan tangannya ke arah teman-temannya.
(Ayo, jangan cuma nonton!)

Mas Arya, yang biasanya lebih pendiam, berjalan pelan-pelan di sisi lain, memeriksa kedalaman air sebelum melangkah lebih jauh. Di belakangnya, Mas Arman duduk santai di batu besar, merendam kakinya. Abi, yang tidak bisa diam, segera berlari ke tengah sungai, menyelam dan melompat dengan riang. Ambon, tentu saja, sudah berenang ke sana kemari.

Bulan menggelengkan kepala, merasa sedikit canggung. “Mas, banyune atis!” teriaknya, meski tidak begitu yakin.
(Mas, airnya dingin!)

Mas Arya hanya mengangkat bahu dan tersenyum tipis. “Ari ora atis, malah ora asyik.”
(Kalau gak dingin, malah gak asyik.)

Bulan menghela napas dan melangkah lebih dekat. Perlahan, ia menyentuh air dengan ujung kakinya. Sensasi dingin langsung menyebar, dan bulu kuduknya meremang. Tapi setelah beberapa detik, rasa dingin itu malah terasa menenangkan. Ia menginjak lebih dalam, sampai air menyentuh lututnya.

Ambon, yang sudah berenang jauh di tengah sungai, memanggil Bulan dengan penuh semangat. “Yuh mene! Ora seru ari kur nonton!”
(Ayo sini! Gak seru kalau cuma nonton!)

Bulan tersenyum kecil, meski sedikit ragu. “Tapi nyong ora bisa renang,” jawabnya pelan.
(Tapi aku gak bisa berenang,)

Mas Bintang yang sudah berada di tengah sungai mendengar itu dan langsung tertawa. “Kue ora masalah, Bulan! Ora perlu bisa renang, sing penting coba bae!”
(Itu gak masalah, Bulan! Gak perlu bisa berenang, yang penting coba aja!)

Tanpa berpikir panjang, Bulan akhirnya melangkah lebih dalam ke dalam sungai. Air yang dingin sempat membuatnya terkejut, namun dia segera menyesuaikan diri. Perlahan, ia bergerak menuju Mas Bintang yang sedang berenang dengan gaya bebas.

Mas Arya tetap berdiri di dekat tepi, sesekali menyentuh air, namun tampaknya ia lebih suka mengamati keadaan dari sana. Sementara itu, Mas Arman tetap duduk santai di batu besar, tidak tertarik ikut bermain air, hanya menikmati pemandangan yang tenang.

Tiba-tiba, sesuatu yang bergerak cepat di bawah permukaan air menarik perhatian mereka. Mas Arman yang duduk terperanjat melihatnya. “Awas!” teriaknya, mengangkat tubuhnya sedikit, khawatir.

Semua terdiam sejenak, memandang ke arah gerakan itu. Namun, yang muncul bukanlah ular atau sesuatu yang berbahaya. Itu hanya ikan besar yang melompat keluar dari air, menyembur ke udara dengan gemuruh sebelum mendarat kembali.

Ambon yang ada di tengah sungai tertawa keras. “Dileng! Kue mukur iwak!” teriaknya, mengolok-olok ketegangan yang sempat terjadi.
(Lihat! Itu cuma ikan!)

Bulan merasa lega, meski agak malu karena sempat cemas. “Hah, jebule kur iwak,” gumamnya, sedikit tertawa.
(Hah, ternyata cuma ikan,)

Mereka melanjutkan bermain air dengan lebih lepas. Bulan mulai merasa nyaman, tertawa bersama Mas Bintang dan teman-temannya yang lain. Mereka saling bercanda, membuat gelembung-gelembung kecil di permukaan air, dan saling mencipratkan air satu sama lain. Momen itu terasa begitu sederhana, namun sangat berarti. Bulan bisa merasakan kebersamaan yang hangat, seolah semua beban yang biasanya mengekangnya hilang begitu saja.

Saat matahari mulai tinggi, mereka semua merasa lapar. Mas Bintang yang tidak pernah mau kalah dalam soal berbagi, membuka bekal yang mereka bawa. Sambil duduk di tepi sungai, mereka makan bersama, berbagi jenis jajan dan mie yang dibawa oleh Abi. Suasana semakin hangat, meski udara sekitar mulai terasa lebih panas.

“Bulan, seru ohya adus neng kene?” tanya Mas Bintang sambil menyodorkan buah yang sudah dikupas.
(Bulan, seru kan mandi di sini?)

Bulan tersenyum lebar. “Iya, seru juga, Mas. ”

Mas Arya yang sejak tadi hanya diam, akhirnya ikut berbicara. “Laka sing bisa luwih ayem sing kene,” ujarnya dengan suara rendah, namun semua bisa mendengarnya. Senyum tipis di wajahnya seperti menunjukkan bahwa ia sangat menikmati ketenangan tersebut.
(Gak ada yang bisa lebih tenang dari sini,)

Bulan mengangguk setuju. “Bener juga, Mas. Rasane kabeh dadi luwih enteng.”
(Bener juga, Mas. Rasanya semua jadi lebih ringan.)

Ambon yang semula sibuk berenang, kini ikut bergabung dengan mereka yang duduk di tepi sungai. “Dewek kudu sering-sering teke meng mene,” katanya sambil menyeruput air dari tangan yang membasahi tubuhnya. “Ana apa maning sing luih apik sing alam kaya kie?”
(Kita harus sering-sering datang ke sini,)
(Ada apa lagi yang lebih baik dari alam begini?)

Abi yang duduk di dekat Ambon, melirik sejenak. “Sering-sering sih olih, asal dewek ora ngrusak. Alam kie penting nggo dewek kabeh.”
(Sering-sering sih boleh, asal kita gak merusak. Alam ini penting buat kita semua.)

Bulan terdiam mendengarkan. Kata-kata Abi membuatnya berpikir, bahwa di balik kesenangan ini, ada tanggung jawab yang harus mereka jaga. Mereka bisa menikmati alam, tapi juga harus melindunginya.

Dengan angin yang perlahan berhembus, suasana semakin hangat. Matahari di atas semakin terik, dan mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di tepi sungai. Semua tertawa dan berbicara tentang berbagai hal, dari sekolah hingga mimpi-mimpi mereka di masa depan. Terkadang, dalam kebersamaan seperti ini, masalah atau kekhawatiran terasa begitu jauh, seakan semuanya bisa diselesaikan dengan tawa dan kehadiran teman-teman.

Hari itu, tanpa sabun, handuk, atau baju ganti, mereka menikmati kebersamaan yang sederhana, tetapi penuh arti. Mereka menyadari bahwa dalam hidup, ada momen-momen kecil seperti ini yang akan selalu dikenang, dan itulah yang membuat segalanya lebih berarti.

Bulan merindukan BintangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang