CHAPTER 11

7 1 0
                                        

Minggu pagi itu udara terasa segar setelah hujan semalam. Pagi yang cerah memberi semangat pada Bulan yang sudah bangun lebih pagi dari biasanya. Sambil merapikan rambut yang sedikit acak-acakan, ia merengek pada nenek dan mamanya untuk ikut ke pasar. Pagi itu, pasar tradisional sedang penuh dengan aktivitas. Pedagang menawarkan dagangannya dengan suara keras, sementara pelanggan berdesak-desakan mencari bahan makanan untuk persiapan makan siang.

Bulan, yang selalu suka ikut ke pasar, punya tujuan yang sangat spesial kali ini. Ia sudah menabung beberapa minggu dan akhirnya bisa membeli sesuatu yang sudah lama diinginkannya—congklak baru. Pasar adalah tempat di mana banyak hal menarik bisa ditemukan, dan di sudut pasar itulah Bulan menemukan tumpukan mainan kayu yang membuat matanya berbinar.

"Mbah, bulan pan sing kue!" serunya sambil menunjuk congklak yang dipajang di atas meja pedagang mainan.
(Nek, bulan mau yang itu!)

Nenek yang sedang melihat buah-buahan segar tersenyum, lalu mengangguk. "Tumbas, Nok. Congklak kie awet ari koen rawat sing bener."
(Beli, Nak. Congklak ini awet kalau kamu rawat baik-baik.)

Bulan yang sudah tak sabar segera menyerahkan uang tabungannya, dan dalam sekejap ia sudah membawa pulang congklak kayu yang masih berbau baru itu. Papan congklak dengan lubang-lubang kecil dan biji-biji kayu yang teratur tersusun rapih begitu menarik hatinya. Ia membayangkan betapa serunya bermain congklak bersama teman-temannya nanti.

Selama perjalanan pulang, Bulan tak henti-hentinya membayangkan permainan seru yang akan dilakukannya. Ia ingin menunjukkan congklak barunya kepada semua orang, terutama kepada Mas Bintang, Mas Arman, dan teman-temannya yang selalu bermain bersama di halaman samping rumah.

Sesampainya di rumah, Bulan segera menaruh barang belanjaan nenek di dapur. Ia melangkah cepat menuju halaman samping, tempat biasanya teman-temannya berkumpul. Halaman itu sering menjadi tempat bermain mereka, dan kali ini Bulan ingin menunjukkan sesuatu yang spesial.

Di sana sudah ada Mas Bintang, Mas Arman, Mas Arya, Abi, dan Ambon yang sedang sibuk dengan tanah liat, membuat rumah-rumahan. Mereka tampak serius, berusaha membangun "bangunan" yang kokoh meskipun hanya dari tanah dan ranting. Mas Bintang yang tampaknya menjadi pemimpin dalam permainan itu mengarahkan teman-temannya untuk menata tanah menjadi bentuk yang lebih rapi.

Bulan mendekat, menyaksikan dengan penuh minat. "Mas, dileng kie! Nyong ndue congklak anyar!" serunya dengan suara ceria.
(Mas, lihat ini! Aku punya congklak baru!)

Mas Bintang menoleh sebentar, tersenyum kecil, lalu kembali fokus pada tanah yang sedang dibentuknya. "Apik, Dek. Tapi dewek lagi sibuk nggawe umah."
(Bagus, Dek. Tapi kami lagi sibuk bikin rumah.)

Bulan merasa sedikit kecewa, tapi ia tak membiarkan itu menghalangi semangatnya. Ia mendekat lebih jauh dan mencoba mengintip apa yang sedang dikerjakan oleh para cowok. "Ih, umah-umahan apa kue? koh mirip kandang ayam sih?" ledeknya sambil tertawa kecil.
(Ih, rumah-rumahan apa itu? Kok mirip kandang ayam sih?)

Ambon yang mendengarnya langsung tertawa. "Ari pengin ngerti, bantoni bae, Bul."
(Kalau mau tahu, bantuin aja, Bul.)

Bulan menggelengkan kepala. "Moh! Nyong pan dolanan congklak karo Mba Pipit bae." Ia merasa lebih senang bermain congklak daripada membuat rumah-rumahan dari tanah.
(Enggak mau! Aku mau main congklak sama Mba Pipit aja.)

Di pojok halaman, Mba Pipit sedang duduk di bawah pohon jambu, memetik bunga liar dan membuat rangkaian bunga yang indah. Meskipun usianya lebih tua, Mba Pipit selalu sabar menghadapi Bulan yang penuh semangat dan tingkah lucu.

"Mba Pipit, yuh dolanan congklak karo nyong!" seru Bulan sambil mengangkat congklaknya.
(Mba Pipit, ayo main congklak sama aku!)

Mba Pipit menoleh dengan senyum. "Wah, congklake apik, Bul. Mbene tumbas, ya?" tanyanya sambil mengamati congklak yang masih baru itu.
(Wah, congklaknya bagus, Bul. Baru beli, ya?)

"Iya, miki nyong tumbas neng pasar. Yuh, dolanan!" Bulan duduk di tikar yang sudah digelar Mba Pipit di bawah pohon jambu.
(Iya, tadi aku beli di pasar. Yuk, main!)

Pipit tersenyum dan mulai menyusun biji congklak. "Okelah, tak dileng sapa sing luwih pintar," katanya sambil tertawa kecil. Bulan yang penuh semangat segera mengatur biji congklaknya dengan cekatan, menjelaskan aturan permainan kepada Mba Pipit yang terlihat sudah cukup berpengalaman.
(Baiklah, kita lihat siapa yang lebih pintar)

"Dolanan congklak kue gampang, Mba. Tapi ari pen menang, kudu pinter ngatur langkah," kata Bulan, sambil memasukkan biji pertama ke dalam lubangnya.
(Main congklak itu gampang, Mba. Tapi kalau mau menang, harus pintar ngatur langkah)

Mba Pipit tertawa pelan. " di ileng bae ngko, Bul. Nyong wis sue ora dolanan congklak."
(Kita lihat saja nanti, Bul. Aku sudah lama nggak main congklak.)

---

Di sisi lain, para cowok terus sibuk dengan rumah-rumahan mereka. Tanah yang mereka gunakan semakin halus karena digerus tangan mereka, dan ranting yang digunakan untuk membuat pagar rumah juga semakin rapi. Mas Arya yang biasanya pendiam diam-diam merasa terganggu dengan suara tawa Bulan dan Pipit. "Kok kae ribut nemen, sih?" gumamnya pelan.
(Kok mereka ribut banget, sih?)

Abi yang mendengar hanya tertawa. "Mbelin bae. Ngko ari congklake rusak, mbene kae meneng."
(Biarkan saja. Nanti kalau congklaknya rusak, baru mereka diam.)

Mas Arman, yang sedang berdiri di samping Mas Bintang, melirik ke arah Bulan dan Pipit yang sedang asyik bermain congklak. "Bulan, congklake olih tak coba?" tanyanya sambil tersenyum ke arah Bulan.
(Bulan, congklaknya boleh aku coba?)

Bulan memandangnya dengan sedikit ragu. "Tapi Mas Arman kudu ganti Mba Pipit ari kalah," jawab Bulan sambil tertawa, mengingat bahwa Mas Arman sering kalah jika bermain dengan Bulan.
(Tapi Mas Arman harus ganti Mba Pipit kalau kalah,)

Arman mengangkat alisnya. "Oke, siap!" jawabnya, menerima tantangan itu.

---

Pertandingan congklak pun dimulai, dan semua teman-temannya mulai berkumpul untuk menyaksikan. Bulan dengan percaya diri menyusun biji congklak, sementara Mas Arman terlihat sedikit bingung. Tawa Bulan tak bisa dihentikan setiap kali melihat ekspresi Arman yang bingung memilih langkah.

"Mas Arman, congklak kue dudu kur soal dolanan. Kudu nggo strategi!" ledek Bulan sambil memutar biji congklak di tangannya.
(Mas Arman, congklak itu bukan cuma soal main. Harus pakai strategi!)

Mas Arman mengernyitkan dahi. "Ya Allah, kie dolanan ne bocah wadon koh angel nemen!" keluhnya, membuat semua orang tertawa. Mas Arman memang jarang bermain permainan tradisional seperti itu, tetapi ia tidak ingin terlihat kalah.
(Ya Allah, ini permainan anak perempuan kok susah banget!)

Mba Pipit yang duduk di sebelah mereka tertawa melihat kekacauan yang terjadi. "Ayo Arman, aja kalah karo bocah cilik," ujarnya dengan suara lembut.
(Ayo Arman, jangan kalah sama anak kecil,)

Bulan yang merasa semakin percaya diri, memainkan langkah demi langkah dengan penuh semangat, dan akhirnya ia pun menang. "Horee! Nyong menang maning, Mas!" serunya sambil melompat kegirangan. Semua orang tertawa, menyemangati Bulan yang selalu ceria.
(Horee! Aku menang lagi, Mas!)

---

Di sisi lain, Mas Arya yang pendiam akhirnya memutuskan untuk mencoba permainan tersebut. "Oke, nyong coba," ujarnya pelan, yang membuat Bulan melompat kegirangan.
(Oke, aku coba)

"Ayo, Mas Arya! Aja kalah, ya!" tantang Bulan. Tapi ternyata, Mas Arya juga kalah. Bulan yang tidak bisa berhenti tertawa, akhirnya berkata, "Wah, nyong emang etor keh dolanan congklak."
(Ayo, Mas Arya! Jangan kalah, ya!)
(Wah, aku emang jago nih main congklak.)

Sore itu, halaman samping rumah Mas Arman semakin ramai dengan tawa dan kebersamaan. Rumah-rumahan dari tanah tetap berdiri kokoh, meski para cowok lebih sibuk memperhatikan permainan congklak Bulan. Congklak baru itu, yang awalnya hanya sebuah permainan, ternyata berhasil mempererat persahabatan mereka.

Hari itu ditutup dengan tawa dan kebahagiaan sederhana, di mana Bulan merasa puas bisa menunjukkan sesuatu yang baru kepada teman-temannya. Congklak bukan hanya permainan, tapi juga cara mereka untuk berkumpul, berbagi cerita, dan merasakan kebahagiaan yang tak terhingga.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Bulan merindukan BintangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang