41. Extra Part

8.5K 200 6
                                        

••••

2 tahun kemudian....

Evin duduk di sebuah taman kecil yang sepi, menatap langit sore yang berubah warna menjadi jingga. Ada rasa hampa yang selalu menghantui dirinya. Dia teringat masa lalu—saat dia sering memainkan peran korban di keluarganya dan sekitarnya.

Dia selalu merasa Evan, kembarannya, adalah favorit keluarga. Kapan pun dia merasa tersisihkan, dia akan berpura-pura menjadi korban agar mendapat perhatian. Oleh karena itu, saat umur 10 tahun Evin sengaja menjatuhkan diri ke kolam renang tanpa memikirkan resiko kedepannya. Namun, strategi itu justru menjadi senjata makan tuan.

"Kenapa aku gak pernah puas? Kenapa aku malah menghancurkan satu-satunya orang yang sebenarnya peduli?"

“Kenapa aku begitu bodoh?” gumamnya sambil mengepalkan tangan. Dia teringat bagaimana Evan sering dimarahi, bahkan dihukum fisik, sementara dia hanya berdiri diam, membiarkan itu terjadi.

"Waktu itu aku diam... Aku tahu aku salah, tapi aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Andai aku bisa memutar waktu, aku lebih baik dihukum seribu kali daripada melihat Evan hancur karena aku."

Sekarang, Evin kehilangan segalanya—keluarga yang dulu sangat menyayanginya, kembarannya yang dia khianati, dan dirinya sendiri. Dia merasa seperti hantu yang hidup tanpa tujuan.

"Aku harus berubah," gumam Evin dalam hati, meski dia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.

“Aku ingin meminta maaf...” ucapnya pelan, meski tahu itu hanya sia-sia. Evan sudah terlalu jauh untuk dia jangkau, dan penyesalan itu akan terus menjadi luka yang tidak bisa sembuh.

"Tapi... kalau pun aku minta maaf, apa itu cukup? Apa semuanya akan memaafkan aku setelah semua ini?"

••••

Di sudut kota yang gelap dan kumuh, Fani berdiri di depan sebuah cermin kecil yang retak. Dia menatap bayangannya sendiri, mencoba melihat siapa dirinya kini, tetapi hanya menemukan pantulan seorang wanita dengan wajah lelah dan mata yang dipenuhi rasa bersalah. Selama dua tahun ini dia hidup dengan penyesalan.

Ya, wanita. Fani pernah mengandung entah anak siapa tapi keguguran saat dia berada di penjara. Fani di penjara hanya beberapa bulan. Vara-Evan dkk. tidak menghukum Fani terlalu berat. Mereka membiarkan Fani hidup, karena yang pasti dengan Fani hidup dia akan tersiksa dengan sendirinya, karena semua kelakuan bejat dia sudah tersebar. Bagaimana? Vara-Evan dkk. baik hati bukan?

"Ini aku? Orang yang tega memanfaatkan orang lain untuk cari perhatian? Betapa menjijikkannya diriku. Apa aku ini monster?"

"Aku ingin memperbaiki semuanya... tapi bagaimana? Semua sudah terlambat," Fani memikirkan kata-kata itu setiap malam.

Fani adalah seorang yang haus akan kasih sayang. Dia sering merasa terabaikan oleh orang-orang, karena anak panti asuhan, sehingga dia mencari perhatian dengan cara apa pun, termasuk berbohong.

"Aku hanya ingin didengar. Aku ingin mereka melihat aku ada. Apa itu terlalu banyak untuk diminta?" pikirnya, menundukkan kepala.

Dia teringat saat-saat di mana kebohongannya membuat orang lain celaka. Salah satunya saat dia melukai dirinya sendiri dan memfitnah orang membullynya. Akibatnya, orang yang dia fitnah kehilangan reputasi, bahkan menjadi bahan cibiran banyak orang.

"Aku tahu aku salah waktu itu. Tapi... kenapa aku tetap memilih jalan itu? Kenapa aku lebih memilih menyakiti orang lain daripada menerima kenyataan dan kesalahan sendiri?"

"Aku cuma pengen diperhatiin... tapi kenapa harus dengan cara itu?" bisiknya.

Fani sering merasa bahwa dia tidak pantas mendapatkan maaf dari siapa pun. Semua yang dia lakukan di masa lalu meninggalkan bekas luka yang dalam, baik untuk orang lain maupun dirinya sendiri.

"Maaf? Aku nggak pantas dapat maaf. Aku ini sampah. Mereka sudah membenciku seumur hidup."

••••

Penyesalan Tanpa Akhir

Evin dan Fani menjalani hidup mereka dengan rasa bersalah dan penyesalan terus menghantui. Mereka berdua hanya bisa berharap—entah kepada siapa—agar waktu dapat menghapus sedikit rasa sakit itu, meskipun mereka tahu bahwa luka yang mereka ciptakan terlalu dalam untuk sembuh begitu saja.

Di dunia yang luas ini, mereka hanya dua orang yang tenggelam dalam penyesalan. Tidak ada pengampunan, tidak ada pertemuan, hanya mereka dan rasa bersalah yang menemani di sisa hidup mereka.

"Apa ini karma? Kalau iya, aku pantas menerimanya..." batin mereka hampir bersamaan, meski mereka berada di dua tempat berbeda.

Meski mereka tidak tahu kapan, atau apakah mereka akan benar-benar menemukan kedamaian, langkah pertama telah diambil—menerima bahwa meski penyesalan adalah beban berat, harapan selalu ada bagi mereka yang ingin berubah.

Dan di tengah keheningan malam, satu hal menjadi jelas: perjalanan mereka belum berakhir. Karena selama mereka masih bernapas, kesempatan untuk memperbaiki diri akan selalu ada.

"Ya kalian benar! Kesempatan akan selalu ada, karena 'All Past is Prologue'. Hidup kita akan terus berlanjut hingga kita meninggal dunia. Tapi ingat ini hanya cerita dan cerita ini sudah SELESAI. Meskipun dunia ini nyata untuk kalian, tapi di belahan dunia manapun kalian tetap fiksi dalam buku novel... Jadi semua orang berpikir, bahwa kesempatan itu tidak akan pernah ada untuk kalian!!"

"So bye bye guys... Saya Exe. Saya pamit undur diri. Dan kita tidak akan pernah bertemu kembali!"

••••

Okey aku tambah Extra Part satu aja...
Jangan lupa juga vote, komen dan follow yaaa....
Dan ya.. tunggu cerita aku selanjutnya
bye byee

Sabtu, 14 Desember 2024
tertanda📍

Lala✨

Lala✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Elvara! (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang