Awan hampir menggelap, menandakan sebentar lagi sore hari akan berganti malam. Setelah kejadian pingsannya Zora di pusat perbelanjaan, Rakha maupun Haikal membawa Zora menuju rumah sakit.
Jujur saja Rakha sudah mempunyai fealing tidak enak kepada Zora sejak pagi melihat kondisinya yang tidak memungkinkan. Perasaan Rakha saat ini bercampur aduk antara kesal dan sedih melihat keadaan Zora.
Apa penyebab Zora seperti ini? Itu pertanyaan yang sedari tadi menghantui kedua insan itu. Rakha yang melihat Zora dari jendela terus membenturkan kepalanya ke jendela. Berbeda dengan Haikal yang hanya melihat punggung Rakha tanpa berucap sepatah katapun.
Hampir 15 menit berlalu dan dokter baru selesai mengecek keadaan Zora. Di sisi lain terlihat Cakra yang menghampiri Rakha.
"Bang Rakha, kan?" tanya Cakra memastikan.
Rakha yang merasa terpanggil itu menengok. "Cakra, kan?"
"Iya. Bang Rakha ngapain di-?" tanya Cakra.
"Cakra, Cakra aku tinggal sebentar ya? Nanti aku balik lagi," potong Eunchae meninggalkan Cakra sendiri.
Rakha yang melihat punggung gadis itu bertanya kepada Cakra. "Siapa, Cak?" tanyanya.
"Ceritanya panjang. Bang Rakha lagi apa disini?" tanyanya sekali lagi.
Rakha berdehem menghinglangkan rasa panik yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya. "Ngga, anu, itu ... HAIKA-" Rakha menggantungkan kalimatnya sesaat setelah ia membalikkan badannya. Haikal yang sedari tadi bersamanya tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Lah, cepat banget hilangnya," gumamnya pelan.
"Ini teman abang tadi pingsan, terus abang bawa kesini. Kamu kenapa di kursi roda? Terus ini kenapa kepalanya diperban seperti ini?" tanya Rakha mengalihkan pembicaraan.
Bukannya ia tidak mau jujur kepada Cakra. Melihat kondisi Cakra, Rakha takut jika Cakra mengetahui bahwa sebenarnya yang berada di dalam ruangan tersebut adalah kakaknya yaitu Zora.
"Nggak tahu, aku nggak ingat. Yang aku ingat aku habis pergi sama Eunchae di dekat danau," ucapnya.
Rakha mencoba mengetikkan pesan kepada seseorang dan setelahnya ia mengajak Cakra menuju taman.
♡ Aozora ♡
"Kak?" panggil Cakra yang sedang melihat Zora termenung.
Cakra dibantu oleh Eunchae menghampiri Zora. Zora tidak merespon panggilan Cakra.
"Kak!" panggil Cakra sekali lagi. Zora mengalihkan pandangannya langsung menatap Cakra yang terlihat khawatir kepada Zora.
Mata yang layu serta kantung mata yang menghitam jelas menandakan bahwa perempuan yang berada di depannya jauh dari baik-baik saja. Mata Cakra sudah berkaca-kaca melihat raut wajah lelah dari kakaknya itu.
Berbeda dengan Zora yang justru mengembangkan senyumnya kala melihat adiknya yang berada di depannya. "Hei, kamu sudah sadar?" tanya Zora mengelus rambut Cakra.
"Kak, Bang Rakha sudah bilang semuanya. Kak, ayo pulang aja," ajak Cakra menggenggam tangan Zora. Pulang yang Cakra maksud adalah pulang bersama untuk tinggal bersama ibunya di Bandung. Cakra ingin sekali kakaknya terbebas dari terror ibu tirinya yang selalu menghantui kakaknya.
"Kakak ngga apa-apa. Kakak hanya kecapekan aja, kok. Maafin kakak ya pas kamu sadar kakak ngga ada."
Tatapan itu. Tatapan kekhawatiran, kekesalan serta kesedihan bercampur menjadi satu. Cakra mengetahui bahwa keluarga baru ayahnya terus menerus meneror kakaknya. Karena terlalu sering dan Zora tidak mengeluarkan emosinya akhirnya hal itu menjadi sangat biasa bagi Zora.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aozora
Teen Fiction"Orang tua kita yang bersalah namun mengapa semesta yang menghukum kita, Ra? ~~~ Annaya Aozora Randara namanya, gadis berusia 17 tahun yang tengah menginjak bangku menengah atas itu harus merasakan kesepian karena harus berpisah dari orang tuanya...
