Chapter 10

6 2 0
                                        

"Kamu percaya nggak kalau kita sebenarnya punya abang?" tanya Zora tiba-tiba.

Cakra mengernyitkan alisnya, "Bukannya kakak anak pertama?" tanya balik Cakra.

Zora tersenyum, "Cakra, kakak nggak tahu persisnya bagaimana, seingat kakak dulu, dulu sekali saat kamu kecil ada satu cowo yang tinggal di rumah kita, kakak merasa dia selalu jagain kakak waktu kakak di bully di sekolah bahkan disaat ada yang ingin menjatuhkan kakak dia yang selalu tolongin kakak. Kakak juga bisa merasakan kasih sayang dia sebagai abang untuk kakak," jelas Zora.

"Kalau benar dia dimana sekarang?"

"Maka dari itu, kakak nggak tau dia dimana, kakak bahkan nggak tahu bahwa ingatan kakak ini benar atau nggak karena itu sudah lama sekali dan saat kakak tanya tentang hal ini ke ibu pun ibu nggak menjawab pertanyaan kakak."

Cakra mengelus punggung tangan Zora dengan lembut, "Kak, mungkin nggak kalau kakak itu cuma halusinasi? Kakak hanya kesepian, kakak hanya butuh kehangatan dari seseorang, kakak hanya ingin di lindungi oleh seseorang, kakak hanya kesepian, kak," jelas Cakra kepada Zora.

"Sekarang ada aku, aku yang akan melindungi kakak. Pokoknya aku akan menjadi garda terdepan untuk kakak," lanjutnya.

Zora menggeleng, "Nggak Cak,  kakak nggak halu, kakak ngga halusinasi. Ada kok buktinya, mau kakak unjuki?" kekeh Zora.

Zora berdiri dari duduknya berjalan menuju rak buku dan kembali membawa buku bersampul hitam. "Ini, ini buku dia, ini buku tulis dia, ini tulisan dia Cakra," kekeh Zora sekali lagi.

Cakra membolak-balik buku tulisan yang hampir usang itu. Tidak ada nama pemilik buku itu dari halaman pertama hingga terakhir. Ia menutup buku itu namun tidak sampai disitu Zora juga memberikan buku tulis dirinya disaat ia duduk d bangku pertama.

"Lihat, kalau kamu nggak percaya, beda bukan? Ini punya dia sedangkan ini punya kakak, Cak."

Cakra menghela napas lelah melihat kakaknya begitu keras kepala tentang apa yang ia ceritakan. "Kak, mungkin saja ini buku punya teman kakak ketinggalan pas kakak kerja kelompok dulu. Kakak tahu kalau kakak itu anak pertama dan kakak nggak punya abang," ucap Cakra menentangnya.

Zora terdiam seribu bahasa karena adiknya tidak percaya dengan cerita Zora. Bukankah Cakra sendiri yang bertanya hal apa yang Zora tunggu, namun Cakra sendiri juga yang tidak percaya dengan cerita Zora.

Zora merampas buku yang masih Cakra pegang. "Kamu yang tamya, kamu sendiri yang nggak percaya!" Ujar Zora pergi meninggalkan Cakra sendiri.

♡ Aozora ♡

"HARI INI AKAN DILAKUKAN RAZIA DADAKAN, HARAP SEMUA BERDIAM DI DALAM KELAS MASING-MASING DAN PERWAKILAN DARI SETIAP KELAS HARAP MENGATUR ANGGOTA KELASNYA DAN TIDAK ADA SEDIKITPUN YANG MENGELUARKAN BARANG DARI DALAM TAS!!"

Semua siswa kaget saat mendengar pengumuman razia dadakan. Dua kata yang ditakuti seluruh siswa khususnya siswi-siswi yang membawa peralatan make up ke sekolah. Tidak hanya itu, Zora juga terlihat kaget mendengar pengumuman tersebut.

"WAH PARAH, ADA ANAK OSIS DISINI TAPI NGGAK BILANG-BILANG KALA ADA RAZIA," celetuk Haikal.

"GUE JUGA NGGAK TAU YA HAIKAL LU NGGAK DENGAR  KALAU INI RAZIA DADAKAN?," teriak Zora tidak mau kalah.

Zora melihat ke tempat duduk Annara. Pagi itu tidak tahu mengapa Annara ingin pindah tempat duduk alasannya karena duduk d belakang tidak kelihatan tulisan dj  papan tulis. Annara yang terlihat memakai rok di atas lutut itu terlihat gelisah. Saat Zora ingin keluar, Angga si ketua kelas langsung menghadang tubuh Zora.

"Eit ... Mau kemana? Walaupun lu anggota OSIS, lu juga nggak boleh keluar, ini perintah, duduk! Nggak dengar apa kalau ini razia dadakan" Kata Angga.

Zora kembali ke tempat duduknya. "Annara, maaf nggak bisa nolong" batin Zora melihat Annara.

BRAKK!

Bukan, itu bukan suara pintu melainkan Haikal yang menggebrak meja Zora hingga Zora melompat kaget.

"APAAN SIH, HAIKAL!" teriak Zora refleks.

Haikal menatap mata Zora lalu, "Lu, ah, harus gua bilangin berapa kali Aozora Randaraa. Dia itu lagi marah sama lu, karena lu terlalu dekat sama Rakha, lagian ya kenapa lu nggak jujur aja kalau lu it-"

"DIAM NGGAK!" tegas Zora menatap tajam dan membekap mulut Haikal lalu mengalihkan pandangannya ke arah Annara. Untungnya saja Hakal tidak menyelesaikan kalimatnya hingga selesai.

"Bisa nggak, sih mulut lu tuh diam gitu. Sudah cukup lu aja yang tahu, jangan sampai rumor yang nggak-nggak tuh tersebar," peringat Zora.

Haikal menaikkan alisnya, "Lho itu fakta, Ra. Fakta bukan yang nggak-nggak,"

"Mau fakta ataupun nggak, lupain hal itu dan anggap gua sama Rakha nggak terjadi hal apa-apa," bisik Zora kepada Haikal.

"Maaf mengganggu ketenangan belajar kalian. Kami sekalu OSIS ingin menggeledah barang kalian karena tadi pagi telah ditemukan bungkusan kecil yang di duga itu adalah narkoba. Kalian harap berdiri di tempat duduk masing-masing. Penggeledahan akan kami lakukan sekarang," jelas Rakha sang ketua OSIS.

Zora terus memerhatikan Annara, walaupun razia kali ini bukan tentang seragam ataupun hal lain, namun sudah bisa dipastikan bahwa seragam tidak lengkap ataupun membawa make up sudah termasuk ke dalam razia.

"Rakha tolong kali ini aja lolosin gue," mohon Annara kepada Rakha yang menyuruhnya maju kedepan karena ketahuan memakai rok diatas lutut.

"Annara, peraturan sekolah tidak membolehkan memakai rok di atas lutut dan lu pakai rok di atas lutut," jelas Rakha.

"Gue kesiangan terus gue salah ambil rok," ucap Annara.

"Gue nggak terima alasan apapun. Maju kedepan," titah Rakha. Annara hanya pasrah menuruti perintah Rakha. Berbeda dengan Zora yang lolos dari razia tersebut.

To be continue...

Terimakasih sudah mampir...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa

Dan tolong support terus akun ini

감사합니다
안영...


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 27, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AozoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang