Gavin memainkan pulpen di tangannya dengan pandangan kosong. Pikirannya masih terpaku pada kejadian malam tadi dimana Jean menyebut dua nama yang terdengar tak asing di telinganya.
Bahkan Gavin tak menyadari jika pelajaran telah usai. Menyisakan para murid yang mulai berlalu lalang menikmati jam istirahat.
Lamunan Gavin buyar saat Dimas menepuk pundaknya, memberitahu jika jam istirahat sudah tiba.
Gavin segera keluar dari kelasnya untuk pergi ke kelas Jean.
Tapi ternyata Jean gak ada di dalem kelasnya yang membuat Gavin merasa bingung.
Gavin berjalan melewati koridor, matanya terus bergulir mencari keberadaan Jean namun tak menemukannya.
Tiba-tiba aja Gavin denger keributan di kantin, pada awalnya dia gak peduli, tapi ketika dia denger suara Angga, perasaannya gak enak.
Dia langsung masuk ke kantin dan nerobos orang yang lagi pada ribut.
Bener aja dugaannya, dia liat Jean yang lagi jongkok dengan keadaan basah kuyup, banyak foto bertebaran di lantai. Nggak, itu bukan foto Jean, tapi tatapan Jean keliatan gak fokus dan mukanya pucet.
Gavin narik kerah baju Angga dan langsung ninju mukanya yang membuat keadaan kantin semakin ricuh.
Gak tanggung-tanggung, Gavin bikin Angga jadi terpojok dan mukulin tanpa henti, sedangkan Jean masih terpaku melihat foto foto yang berserakan.
"BANGSAT! DASAR BANGSAT!!!"
Pukulan demi pukulan terus dilayangkan Gavin hingga Angga mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tak lama setelahnya, para guru datang dan segera memegangi Gavin yang masih mengamuk.
Angga langsung terduduk, matanya melirik ke arah Jean yang masih menampakkan pandangan kosong dengan senyuman smirk.
"Jean"
Suara itu menyadarkan Jean, bahkan Gavin yang sebelumnya memberontak pun tiba-tiba diam dan langsung menoleh.
Jean mendongakkan kepalanya, matanya berkaca-kaca dan napasnya mulai tersengal.
Jean berdiri dan menatap Joan, mulutnya seolah terkunci, tak sanggup mengatakan apapun.
Jean mendorong Joan sambil menyerahkan salah satu foto yang dia ambil dilantai.
Joan menunduk, menatap foto itu, fotonya yang tengah mengungkung seorang wanita.
Bukan hanya satu, ada banyak fotonya bersama wanita-wanita lain yang tak senonoh dilantai.
Joan menatap Jean yang tengah menatapnya dengan air mata yang tak hentinya keluar dan membasahi pipinya.
Jean langsung berlari meninggalkan area kantin.
Gavin melepaskan cengkraman guru dan meraih kerah Joan.
"UDAH GUE BILANG STOP!! LO LIAT JEAN SEKARANG!! SEMUA INI SALAH LO SIALAN!!"
Gavin langsung berlari pergi dari sana untuk menyusul Jean, meninggalkan Joan yang tengah dipandangi oleh mereka yang berada disana.
Jean berlari dengan pikiran kacau, bahkan dia menabrak mobil kepala sekolah yang hendak masuk ke dalam area sekolah.
Tapi, Jean tak memperdulikannya dan berlari keluar dari sekolah.
Gak lama setelahnya, Gavin keliatan nyusul dia dengan panik.
Gavin terus manggil Jean, tapi Jean tetep terus lari, bahkan dia gak noleh sedikitpun, bahkan dia nyadar Gavin manggil aja nggak.
Mata Gavin membulat saat Jean terus berlari menuju jalan yang terlihat ramai.
Jantungnya berpacu semakin cepat, kepalanya yang berdengung sangat menganggunya, namun dia tetap berlari sekuat tenaga.
"Jean!"
Gavin menarik tangan Jean membuat Jean tersadar.
Jean menatap jalanan di depannya, nyaris aja dia ketabrak kalo Gavin gak narik dia. Jean noleh ke Gavin yang natap dia dengan ekspresi khawatir.
Jean langsung menangis sejadi-jadinya, gak peduli kalo orang mungkin ngeliatin dia dengan aneh.
Gavin narik Jean ke pelukannya, menghela napasnya gusar, perasaannya kacau, dia benar-benar seperti merasakan mimpi buruk.
Hampir aja Jean ketabrak, dan itu benar-benar bikin dia ngerasa takut.
"Gavin...hiks...Joan..." Tangisan Jean memecah lamunan Gavin.
Gavin menunduk, menatap Jean yang masih menangis.
"Tenang dulu ya?" ucap Gavin sambil mengusap pipi Jean yang basah.
Terdengar langkah yang mendekat membuat mereka berdua reflek noleh.
Rahang Gavin mengeras, sedangkan Jean tampak membuang mukanya.
"Gav, bawa gue pergi, gue gak mau liat dia" ujar Jean membuat Gavin mengangguk, dia segera menggendong Jean dan membawanya pergi.
***
Gavin menaruh mangkuk bakso di meja dan menyodorkan mangkuk itu ke hadapan Jean.
Namun, Jean terlihat diam dan tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Je" Gavin menyentuh pundak Jean membuat Jean tersadar dan menatap mangkuk baksonya tanpa selera.
"Gue suapin mau?"
Tak ada jawaban dari Jean, Gavin mengambil alih mangkuk baksonya dan mulai menyendok satu bakso kecil lalu menyodorkan nya ke depan mulut Jean.
Namun, Jean tak membuka mulutnya, masih dengan ekspresi kosong.
"Je—"
"Lo tau soal itu juga?"
Gavin terdiam, tak ada jawaban dari Gavin membuat Jean langsung menolehkan mukanya.
"Iya ya?"
Gavin menaruh sendok itu di mangkuk bakso dan mengalihkan tatapannya. Terdengar helaan napas yang samar dari Gavin.
"Gue bakal jawab asal lo makan dulu"
Jean menunduk, mengusap matanya dan mengangguk pelan. Gavin segera mengambil serta menyendok bakso kecil dan menyodorkannya ke Jean yang kali ini Jean mau membuka mulutnya.
Tak terasa, mangkuk bakso itu pun hanya tersisa kuahnya.
"Gue anter pulang ya?"
"Gue gak mau pulang"
Mendengar jawaban Jean, apalagi melihat muka Jean yang masih tidak menunjukkan ekspresi apapun membuat Gavin mengangguk.
Setelah itu, Gavin memesan taksi online dan memutuskan untuk check-in ke sebuah hotel yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.
Kini, Gavin melihat Jean yang tengah terduduk di kasur dengan pandangan kosong.
Gavin menyentuh tangan Jean dan mengelusnya.
"Lo masih mau nangis? Nangis aja, gue temenin" ucap Gavin yang membuat air mata Jean tiba-tiba turun seolah memahami kalimat yang dilontarkan oleh Gavin.
"Gue gak nyangka Joan kayak gitu..hiks... Dia... Dia tau gue benci... Kenapa...hiks.. Gue benci Joan!! Gue benci mama!! Gue benci mereka..hiks"
Mendengar itu, Gavin terkejut, namun ia tetap berusaha menenangkan Jean dengan menariknya ke dalam pelukannya sambil mengusap punggung Jean.
Tubuh Jean bergetar, isakan demi isakan keluar dari kedua belah bibirnya yang terus mengeluarkan keluh kesahnya, melontarkan rasa kecewanya terhadap kakak angkatnya itu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Salah Pelet [BL]
General FictionAwal pertama masuk SMA, Jean langsung kepincut sama kakak kelasnya yang bohay dan aduhay. Apesnya Jean ditolak sama kakak kelasnya itu. Gak berhenti sampai disitu, Jean malah nekat pake pelet buat kakelnya itu. Sayang seribu sayton, terjadi sebuah i...
![Salah Pelet [BL]](https://img.wattpad.com/cover/355969470-64-k138434.jpg)