"Gav?" Jean semakin bingung karena Gavin tak melepaskan pelukannya sejak tadi, bahkan pelukannya terasa semakin erat seolah Gavin gak mau lepasin dia.
"Gavin?" Pundak Jean mulai basah, tarikan nafas dari Gavin yang lebih ke isakan membuat Jean semakin merasa cemas.
"Gavin, lo kenapa? Lo mimpi jelek?" Jean perlahan berusaha melepaskan pelukan Gavin, ia benar-benar merasa cemas sekarang.
Namun Gavin malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Gavin—"
"Gak, jangan, jangan tinggalin Ano lagi"
Jean mematung, matanya bergetar, ia langsung melepaskan pelukan Gavin dengan paksa dan menatapnya dengan kedua mata yang terbelalak.
"Maksud lo apa?"
"Ini Ano"
"Gak usah bercanda Gavin, gak lucu"
"Ini beneran Ano"
"Gavin please"
"Ini Ano, Eje, Ano-nya Eje—"
"GAVIN!!" Mata Jean berkaca-kaca, bahkan air di pelupuk matanya turun dengan sendirinya.
"Eje gak percaya sama Ano?"
"GAVIN! STOP!!—gue... gue mohon, jangan bercandain nama Ano... Gue tau Ano udah meninggal... Jangan lakuin itu Gav, gue mohon" lirih Jean membuat Gavin segera berdiri dan tiba-tiba menaikkan bajunya, menampakkan sebuah bekas luka di pinggang kirinya yang telah lama mengering.
"Ini luka sewaktu Ano jatuh dari tangga, Eje inget kan? Eje yang bantuin Ano dan setelah itu Ano jadi temen Eje, Eje gak lupa kan?"
Jean terdiam, dia jelas tau betul dengan luka yang ditunjuk oleh Gavin. Bagaimanapun, bukan sekali dua kali dia dulu bantuin Ano pake baju, jadi dia hafal banget sama posisi dan bentuk lukanya.
Jadi... Gimana mungkin luka itu bisa sama persis sama seperti yang dimiliki oleh Ano?
"Ano gak meninggal Eje, Eje salah paham"
Jean menatap kedua mata Gavin, dia gak ngeliat letak kebohongan dari tatapan mata Gavin.
"..buat gue yakin"
Gavin memejamkan matanya, tangannya terulur dan menyentuh kepala Jean dengan perlahan, mengelus pucuk kepalanya dengan lembut dan tersenyum tipis.
"Ano sayang Eje"
Tangan Jean bergetar, sekilas, dia dapat melihat bayangan Ano yang selalu melakukan itu kepadanya, mengelus pucuk kepalanya dan memberikan senyuman manis yang hangat.
Jean menyentuh pipi Gavin dengan tangan gemetar.
Merasakan sentuhan tangan Jean, Gavin membuka matanya dan menggenggam tangan Jean yang menempel di pipinya.
"..Ano?"
"Iya Eje"
"Ano!!" Jean memeluk Gavin dengan erat, tangisannya keluar begitu saja tanpa bisa dihentikan.
Begitupun dengan Gavin yang juga memeluk Jean sama eratnya.
Ini rasanya seperti mimpi, Gavin gak percaya kalo sesuatu yang membuat dia gelisah selama bertahun-tahun ternyata ada di hadapannya saat ini.
Eje, anak yang selama ini muncul sebagai mimpi dan ingatan aneh di dalam kepalanya, anak yang selama ini menghilang dari hidupnya kini berada di hadapannya, di pelukannya.
***
"Eje dikasih tau siapa kalo Ano meninggal?" Mendengar pertanyaan Gavin, Jean terlihat diam membuat Gavin merasa heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salah Pelet [BL]
Narrativa generaleAwal pertama masuk SMA, Jean langsung kepincut sama kakak kelasnya yang bohay dan aduhay. Apesnya Jean ditolak sama kakak kelasnya itu. Gak berhenti sampai disitu, Jean malah nekat pake pelet buat kakelnya itu. Sayang seribu sayton, terjadi sebuah i...
![Salah Pelet [BL]](https://img.wattpad.com/cover/355969470-64-k138434.jpg)