Chapter 25. Ano

8.5K 627 6
                                        

"Ano, ayo main petak umpet"
"Eje gak usah sembunyi, Ano gak bakal liat"
"Ah Ano jangan kayak gitu, ayo maiinnn sama Ejeee!"
"Ya udah iya"

Tangannya dipegang dan dituntun secara perlahan.

"Ada tangga, Eje hitung ya, satu, dua, tiga, satu, dua, tiga.." ucap anak itu sambil terus menuntun agar ia tak salah langkah.

"Kita dimana?" tanyanya saat merasa hembusan angin yang cukup kuat dan udara yang sejuk, cukup sunyi tidak seperti daerah panti yang dipenuhi suara bising lalu lalang kendaraan dan kerusuhan anak panti.

"Ini di lapangan rahasia deket sawah, Eje kemarin ketemu tempat ini, bagus kan tempatnya?"
"Gelap Eje"
"Oh iya ya"
"Ya udah, Eje mau sembunyi gak?"
"Iya! Hitung sampai sepuluh ya!"

"Satu.. Dua.. Tiga........ Sepuluh, siap atau gak, Ano cari ya"

Ia meraba raba udara, tak menemukan apapun yang bisa ia sentuh. Seolah hanya ada dia disana.
Hembusan angin terus menyapa kulitnya. Ia melangkah entah kemana mencari keberadaan anak itu.

Entah berapa lama ia terus mencari, hingga ia berpikir apakah Eje mengerjai nya?

"UHUK! UHUK!"

Terkejut mendengarnya, ia segera mengikuti arah suara, tangannya terus menerus meraba, berharap bisa menyentuh sesuatu.
Akhirnya!
Ia menyentuh sesuatu, keras, kering dan tidak rata, ini batang pohon.

"Kenapa?"

Ia berjalan mencoba mengelilingi batang pohon itu hingga akhirnya suara itu tepat berada di sampingnya, tangannya meraba raba sampai berhasil menyentuh punggungnya.
Tak tahu apa yang harus dilakukan saat anak itu tersedak sesuatu, ia memukul punggungnya dan batuk anak itu mereda yang membuatnya bernapas lega.

"UHUK!—Kok dipukul sih?"

"Maaf" ujarnya sambil meraba muka itu dan mencubit pipinya pelan.

"HUAAAA ANO! ITU YANG MASUK KE TENGGOROKAN EJE! ITU!"

Anak itu bersembunyi di belakangnya, pasti saat ini dia tengah menunjuk-nunjuk, sayangnya dia tak bisa melihat apa yang ditunjuk oleh anak itu.

"Udah Eje, gapapa, ada Ano disini, itu gak bakal masuk ke mulut Eje lagi" ucapnya, anak itu memeluknya dengan isakan kecil.

...

"Kamu ngomong apa sama Ano?!"
"Ano buta"
"Minta maaf sama Ano!"

Entah apa yang terjadi, keadaan di sekitarnya menjadi sangat ricuh. Anak anak menangis dan berteriak. Tak lama setelahnya terdengar para pengasuh panti yang panik.

"E-eje gak sengaja...hiks" mendengar itu, ia berusaha meraih anak itu namun anak itu berlari entah kemana.

...

"Kenapa? Kamu gak mau ikut papa?"
Langkahnya terasa berat untuk mengikuti pria asing yang tengah memegang tangannya ini.
"Papa bakal operasi mata kamu"
"..Ano mau ketemu orang dulu"
"Ano?"
Terdengar suara yang familiar memanggilnya.

Ia melepaskan tangan pria itu dan mengikuti arah suara. Kemudian ia berhasil menyentuh muka anak itu.
Ia terkejut karena tangannya menyentuh sesuatu yang basah di kedua pipinya.

"Eje?"
"Ano mau ninggalin Eje, Ano juga tinggalin Eje!" anak itu berbalik, berlari.
Ano mengikuti langkahnya dan meraih tangannya.

Salah Pelet [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang