Chapter 27. Jawaban dan persetujuan

8.2K 573 15
                                        

Gavin melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan dimana seorang pria tampak duduk di sofa sambil menyeruput teh hangatnya dengan mata yang fokus kepada sebuah berkas di tangannya.

Kedatangan Gavin menginterupsi pria itu, lebih tepatnya Guntur, ayah Gavin.

Tanpa menunggu ayahnya berbicara, Gavin mendudukkan dirinya di sofa dan bersebelahan dengan ayahnya.

"Kemana kamu 2 hari ini? Ketemu anak itu?"

"Papa tau banget kayaknya, papa ngawasin selama ini?"

Guntur mengangguk sembari menaruh gelas teh hangatnya di meja.

"Apa yang pengen kamu tanyain?"

"Papa sengaja bohongin Gavin?"

"Iya"

"Kenapa?"

Guntur menatap Gavin sesaat, matanya yang menampakkan kantung mata terlihat menyorot dengan tatapan tajam.

"Papa pikir saat itu seharusnya kamu gak usah deket sama anak itu"

"Kenapa?"

Guntur menolehkan wajahnya, menatap putra semata wayangnya itu dengan ekspresi datar.

"Kamu gak tau siapa ibunya?"

"Siapa?"

"Orang yang udah bunuh ibu kamu, ibu kandung kamu Gavin"

..

"Sari!! Kamu mau ngapain?!" Wanita berambut panjang itu tampak memeluk bayinya dengan erat, merasa takut dan khawatir jika wanita bernama Sari itu akan melukai bayinya.

"Aku udah bilang sama kamu Sarah, aku mau bunuh kamu" ucap Sari dengan wajah yang menyeringai.

"Kenapa Sar?! Kamu temen aku! Kenapa kamu—"

"DIEM!!" Bentak Sari membuat Sarah terdiam, kedua kakinya yang terluka mengeluarkan darah segar yang membanjiri lantai.

"Aku gak pernah sekalipun nganggap kamu temen, aku benci sama kamu Sarah!" Sari melangkahkan kakinya perlahan mendekati Sarah.

"Sialan, kenapa kamu lebih cantik dari aku? Kamu lebih kaya, kamu lebih bahagia dari aku sedangkan aku harus jual diri kesana kemari cuma buat makan sedangkan kamu cuma enak enakan nikmatin hidup kamu!! Kamu bahkan bisa dapetin cowo yang baik!! Kenapa ini gak adil?! Aku muak dibandingin sama kamu sialan!! Harusnya kamu mati aja!!!" Sari menarik dagu Sarah dengan kasar, matanya menyorot, menatap bayi digendongan Sarah dengan seringai.

"Bahkan anak kamu sempurna.. orang sempurna kayak kalian SEHARUSNYA MATI!!!"

Gubrak

"AKHN!!!"

Sari meringis di lantai, baru saja ia merasakan benda keras memukul punggungnya. Matanya terbuka, menatap Sarah yang digendong oleh seorang pria.

Pria itu hendak membawanya pergi, namun ia tak akan membiarkannya.

Sari merangkak dan menancapkan pisaunya di kaki pria itu membuat pria yang tak lain adalah Guntur terjatuh bersama Sarah.
Sari tak diam saja, berkali kali dia menancapkan pisau itu di kaki Guntur.

Guntur menggerakkan kakinya untuk menendang Sari, kemudian dia menahan Sari dan menyuruh Sarah untuk pergi.

Namun sialnya, Sari berhasil menusukkan pisau itu ke perutnya beberapa kali membuat Guntur lengah dan Sari berhasil melepaskan diri.

Guntur merangkak, menyeret kedua kakinya yang terluka parah dengan susah payah.
Meskipun sulit dan sakit, Guntur tetap mencoba bangkit. Istri dan anaknya tengah dalam bahaya saat ini.

Namun, tak lama setelahnya, dia mendengar sebuah teriakan yang membuat ia semakin mempercepat langkahnya yang terus bertumpu pada dinding.

Guntur terjatuh karena tubuhnya mulai tak mampu lagi menahan. Ia telah mencapai batasnya.

...

Guntur membuka matanya, menatap dokter dan suster yang tengah memeriksa keadaannya.

Guntur mengalami koma selama 2 tahun lamanya, kepolisian mengabarkan jika istrinya telah tewas terlindas mobil sedangkan putranya mengalami kebutaan dan kini berada di sebuah panti karena ia tak memiliki kerabat.

...

Guntur menatap putranya yang tengah terduduk di sebuah kursi bersama dengan salah satu pengurus panti.
Hatinya terasa perih melihat keadaan putranya yang harus merasakan kegelapan dan kesendirian tanpa kasih sayang ayah atau ibunya saat ini.

Guntur belum bisa menemui putranya, namun dia tetap menemui pengurus panti dan mengatakan jika suatu saat dia akan membawa pulang putranya. Dia hanya takut jika putranya akan diadopsi oleh orang lain, beruntung pengurus panti asuhan setuju dan bersedia membantu.

...

5 tahun berlalu, Guntur menikah dengan wanita bernama Citra yang merupakan seorang wanita kaya.
Dan disitulah dia baru bisa menjemput putranya karena akhirnya putranya bisa menjalani operasi mata.

Lalu apa yang ia lihat?
Putranya terlihat bahagia bersama dengan seorang anak.

Sebagai seorang ayah, tentunya dia merasa senang jika melihat putranya bahagia.

Sampai akhirnya dia mengetahui ibu dari anak itu.

Kemarahan dan rasa dendamnya memuncak, dia tidak akan pernah lupa atas apa yang dilakukan Sari kepada istri dan anaknya.

...

"Apalagi sewaktu kamu kecelakaan gara-gara dia dorong kamu, papa makin kebawa emosi dan maksa kamu buat lupain dia"

Gavin terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh ayahnya.

"Terus sekarang mau papa apa? Papa mau Gavin tinggalin dia? Lupain dia? Balesin dendam papa?"

Guntur tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.

"Gak perlu"

Gavin menaikkan sebelah alisnya, agak kaget denger jawaban dan reaksi ayahnya.

"Itu udah jadi masa lalu, papa udah ikhlas, papa gak mau memperpanjang dendam lagi" balas Guntur membuat Gavin terlihat memberikan tatapan bingung.

"Kamu ada hubungan apa sama anak itu?"

"Namanya Jean pa, pacar Gavin"

Melihat reaksi Guntur yang terlihat diam, Gavin tersenyum kecut.

"Mau ngusir Gavin?"

Guntur menggeleng pelan, "kamu dari dulu emang bandel" ucapan Guntur membuat Gavin hanya memberi senyuman masam.

"Tapi kamu tetep anak papa" mendengar itu, Gavin menolehkan wajahnya.

"Papa gak bakal ngelarang hubungan kamu sama dia, kalo kamu emang serius, jangan ngecewain dia" ujar Guntur.

"Itu artinya papa setuju?"

"Iya, tapi sebelum itu, papa minta satu hal"

Gavin mengernyitkan dahinya, menunggu apa yang hendak dikatakan oleh ayahnya.

"Bawa dia kesini, papa mau ngomong sama dia"

***

Salah Pelet [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang