Beberapa bulan berlalu, hari ujian sekolah telah tiba. Kelas dua belas yang melangsungkan ujian tersebut sebagai syarat untuk kelulusan setelah dua Minggu sebelumnya terdapat ujian praktek. Alana dan Sabiru juga, pasangan suami istri yang telah melangsungkan pernikahan beberapa waktu lalu. Bukan raut senang dan bahagia di wajah keduanya, melainkan rasa sendu, sedih dan kerinduan yang mendalam.
Keduanya rindu pada sosok yang mereka sayangi. Sosok yang mungkin tidak akan pernah mereka temui lagi. Sosok yang dahulunya memancarkan rasa bahagia kini pergi meninggalkan kesedihan mendalam. Sedih? Tentu saja. Siapa coba yang tidak merasakan hal itu?
Ujian sekolah terasa begitu lama bagi mereka berdua, padahal hanya empat jam setengah di sekolah dengan dua mata pelajaran dan satu kali istirahat. Bayangan bahagia yang dulu terukir indah dalam ingatan harus pupus lantaran Awana yang telah meninggal. Alana memang melanjutkan sekolahnya di SMA Valhalla Academy.
Angkatan mereka juga sudah melakukan acara kenang-kenangan bersama 1 angkatan. Rencananya setelah ujian nasional yang akan dilangsungkan di antara bulan April-Mei mereka juga akan melangsungkan acara wisuda di sebuah ballroom hotel bintang lima, yang tentunya juga akan ada acara-acara lain di sana.
***
"Gimana tadi ujiannya, Ru?" Suara itu menyadarkan Sabiru yang tengah melamun di kantin.
"Eh? Gimana, La?" tanya Sabiru.
Tersenyum paham, Lala yang datang bersama Chika langsung duduk di samping Sabiru. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik, Chik. Tenang saja," balas Sabiru tersenyum sendu.
Lala menepuk pundaknya pelan lalu menyahut, "Kalau ada apa-apa itu cerita, Sayang. Jangan diam saja."
"Ngga ada apa-apa, kok," jawab Sabiru, "cuman agak lelah saja, kok, Chik, La."
"Lelah, kok, melamun?" canda Chika yang langsung dibalas kekehan oleh Lala, sedangkan Sabiru hanya tersenyum menanggapi.
"Sudah-sudah, balik ke pertanyaan awal," lerai Lala, "tadi gimana ujiannya? Ada yang susah?"
"Susah banget, La. Gue sampai puyeng kerjainnya!"
"Bukan lo yang gue tanya, Chika! Gue tanya Sabiru, astaghfirullah!"
"Gue agak santai sih kerjain ujian yang tadi, kalau nanti ngga tau, La." Sabiru menyahut setelah Lala menggeplak tangan Chika.
Lala mengangguk dan kemudian tidak ada obrolan lagi diantara mereka. Entah tidak ada atau memang tidak berminat membuka obrolan. Ketiganya terdiam memakan makanan masing-masing.
"Masih suka ke makam Awana, Ru?" Chika memecah keheningan diantara mereka, tatapannya menunduk dan tangan yang mengaduk-aduk makanan.
Mendengar pertanyaan Chika, membuat Lala menatap keduanya dalam diam. Sesekali menyendok kan makanan ke dalam mulutnya. Sabiru sendiri masih terdiam seolah tidak berniat untuk menjawab, hingga lima menit kemudian mereka berdua mendengar jawaban Sabiru.
"Masih."
"Alana tahu?"
"Hm."
Lala dan Chika menghela napasnya, sepertinya mereka lupa kalau Sabiru memang masih sensitif dengan pembahasan soal Awana.
"Sudah, lebih baik kita ke kelas lagi. Waktu istirahat tinggal lima menit," ajak Sabiru. Membayar makanannya, kemudian menuju kelas meninggalkan dua sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Awan Biru Alana [END]
Ficção AdolescenteTidak ada perjuangan yang sia-sia, yang ada hanyalah takdir yang belum waktunya. Kisah yang awalnya indah tidak mungkin akhirnya akan indah juga, tetapi tidak selalu seperti itu. Ada yang awalnya indah dan akhirnya juga indah, tetapi ada pula yang a...
![Awan Biru Alana [END]](https://img.wattpad.com/cover/367741335-64-k547316.jpg)