Tujuh

1.2K 175 7
                                        

Pandangan Nessa hanya terpaku pada sepasang pengantin baru yang tengah menyalami para tamu undangan di depan sana. Pagi tadi, Arion telah mengucap ijab kabul di depan penghulu. Kakak laki-lakinya itu akhirnya resmi menikahi Lovita. Perjodohan orang tua mereka untuk ketiga kalinya berjalan tanpa ada tentangan. Meski tak yakin Arion menerima perjodohan ini karena mencintai perempuan itu, sesungguhnya Nessa masih dibuat penasaran dengan alasan di baliknya.

Kenapa akhirnya Arion menerima perjodohan ini? Pertanyaan itu terus bergumul di kepalanya. Jika tidak ada cinta di sana, seharusnya kakaknya itu tidak akan semudah itu menerima perjodohan ini, bukan?

"Kamu nggak mau makan dulu?" tanya seseorang yang berdiri di sebelah kanannya.

Nessa hanya menoleh sekilas, sebelum kemudian menggeleng pelan. "Nanti saja."

"Aku lihat dari tadi kamu belum nyentuh makanan sama sekali, Gemintang."

"Aku belum minat makan sekarang."

Gibran hanya mengangguk paham, tidak lagi memaksa Nessa yang masih belum ingin makan sekarang.

"Tapi, aku udah lapar." Tiba-tiba, Magani yang berdiri di sisi kirinya bersuara. "Temenin aku ke sana, yuk! Kita ke stan makanan sekarang." Tanpa menunggu persetujuannya, Magani langsung merangkul tangannya, lalu menariknya menuju stan-stan makanan.

Saat menyadari Gibran tidak mengikuti langkah mereka, Magani menoleh ke belakang. "Kamu nggak ikut sekalian?"

Gibran tampak terkejut dengan pertanyaan Magani barusan. Sejurus kemudian, laki-laki itu tersenyum sumir. "Tentu."

Sejak Gibran dan Magani saling follow di Instagram, keduanya kini menjadi dekat. Dekat dalam artian sebagai teman. Seperti yang pernah dikatakan Magani beberapa bulan lalu, alasan kenapa Gibran sampai mengikuti akun Instagram Magani, itu tidak lain karena Nessa. Dengan fakta ini, seharusnya Magani merasa dirinya telah dimanfaatkan Gibran. Namun anehnya, alih-alih merasa tersinggung, temannya itu justru malah berusaha mendekatkan Nessa dengan laki-laki itu.

Sepanjang acara resepsi berlangsung Gibran hampir selalu berada di dekatnya. Berkat Magani, Gibran tak lagi segan untuk berdiri di sisinya. Laki-laki itu sepertinya tidak lagi mempersoalkan apakah Nessa nyaman atau tidak karena ada Magani yang selalu bersama mereka.

"Kamu punya kerja sampingan di Upwork?" tanya Gibran pada Magani setelah mereka duduk di kursi pada meja bundar.

Magani mengangguk. "Sebagai expert physics problem solver di sana," terangnya sembari menyantap bakso di depannya.

"Kelihatannya kayak meyakinkan banget. Kamu nulis itu di profilmu?"

"Nessa yang bantu nulis di profilku, biar calon klien jadi tertarik pakai jasaku."

Ketika namanya disebut, tatapan Gibran beralih kepadanya. Tatapan yang selalu tampak berbeda jika dibanding saat dia berbicara dengan lainnya. Senyum laki-laki itu terulas lembut. Nessa segera memutus pandangan mereka ke arah lain.

"Upwork itu platform semacam broker tempat ketemunya orang yang ngasih proyek dengan pekerja freelance yang bisa ngerjain proyek itu, kan?" tanya Gibran kembali melanjutkan.

Magani lagi-lagi mengangguk. "Upwork itu tempat kumpulnya orang-orang yang punya skill macam-macam dan unik-unik."

Meski berada di meja yang sama, Nessa memilih tidak ikut masuk dalam obrolan mereka. Bukan karena enggan, dia hanya tidak bisa seluwes Magani yang bisa akrab dengan siapa saja. Meski terpaut usia tujuh tahun, Magani bahkan bisa dengan mudahnya mengobrol dengan Gibran seolah mereka teman sebaya.

"Kalau Gemintang, gimana?" Pertanyaan tiba-tiba Gibran sontak mengalihkan perhatian Nessa dari es krim di depannya. Saat tatapan Nessa terarah pada Gibran, laki-laki itu kemudian bertanya, "Kamu juga punya kerjaan sampingan di Upwork?"

Inertia (TAMAT - LENGKAP)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang