Apakah bekerja di perusahaan konstruksi itu selalu berada di luar ruangan?
Ravindra Gibran • Mengikuti
ST di Teknik Sipil, Universitas Indonesia . 20 Okt
Nggak juga kok. Tergantung posisinya sebagai apa. Saya sendiri bekerja di perusahaan konstruksi sebagai staff komersial, tapi lebih sering berada di dalam ruangan. Sebagai staff komersial, tugas saya itu seperti mengelola keuangan proyek, mencari peluang bisnis, laporan, pengadaan dan kontrak. Meski lebih sering di kantor, pada saat tertentu terkadang memang harus ke lapangan, misalnya untuk mantau progress proyek, identifikasi kalau ada masalah komersial di lapangan atau opname stok material strategis yang ada di gudang.
Kalau posisinya sebagai site engineer (pelaksana lapangan) memang seringnya ke lapangan karena harus mengawasi progress pekerjaan di lapangan. Meski lebih banyak di lapangan, kadang dia juga akan berada di dalam ruangan, seperti rapat, mengerjakan adminitrasi dan sebagainya.
Parisya Magani mendukung naik ini
Dukung Naik . 7
Nessa hanya menekuri layar ponselnya dalam diam. Tatapannya terus tertuju pada jawaban terakhir yang ditulis Gibran tiga bulan lalu di Quora. Di berandanya, hanya ada beberapa jawaban yang pernah ditulis laki-laki itu. Meski tidak banyak jawaban yang dibagikan di Quora, Gibran adalah pengikut Nessa yang tak pernah absen memberikan upvote untuk mendukung naik jawaban-jawaban yang ditulis Nessa di aplikasi tanya jawab itu.
Setelah kepergian Gibran, tak ada lagi notifikasi yang memberitahu adanya dukungan naik dari laki-laki itu. Dulu, Nessa menganggap upvote Gibran hanyalah hal yang biasa tiap kali ada pemberitahuan itu. Namun, kini setelah notifikasi itu sudah tidak lagi muncul di layar ponselnya, diam-diam dia justru menantikan datangnya notifikasi itu.
Nessa mendesah pelan. Lebih baik dia menyingkirkan ponselnya dan kembali pada layar laptop untuk mengerjakan revisi skripsinya. Seharusnya dia bisa lebih fokus setelah kepergian Gibran. Namun, pada kenyataannya dia justru seringkali terdistraksi karena laki-laki itu.
Seseorang tiba-tiba duduk di sisi kanannya. Dari sudut mata Nessa, seseorang yang mengenakan hijab itu tengah mengeluarkan laptop dari dalam tas, lalu menaruhnya di meja.
Saat Nessa spontan menoleh, perlu waktu beberapa detik baginya untuk mengenali perempuan yang memakai pashmina berbahan kaus berwarna cokelat susu itu adalah seseorang yang dikenalnya.
"Gani?" Ada nada keterkejutan dari Nessa saat menyapa Magani yang duduk di sampingnya.
"Ini kita lagi di perpus. Tolong pelanin suaramu!" ingat Magani dengan suara pelan. "Kenapa? Pangling?" tanyanya kemudian.
"Kamu sekarang ... pakai hijab?" Nessa kini bersuara lebih pelan dari sebelumnya.
"Aku udah pernah cerita, kan, kalau almarhumah mamaku pengin aku pakai hijab? Terus papaku juga selalu ngingetin aku soal kewajiban itu. T, ya, kupikir inilah saatnya." Setelah mengatakan itu, Magani buru-buru menambahkan, "Tapi, aku pakai hijab bukan karena almarhumah mamaku atau papaku, ya. Aku pakai hijab karena Allah. Makanya aku baru yakinnya sekarang."
Nessa tersenyum hangat. "Aku seneng kalau kamu pakai hijab, Gani," katanya begitu tulus.
"Emang harus gitu. Masa iya nggak seneng?"
Celetukan Magani itu sontak menciptakan tawa tanpa suara dari keduanya.
***
Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap. Baru pukul tiga sore, namun waktu seperti beranjak menuju petang. Kilatan cahaya muncul menjalar bak akar yang memanjang di angkasa. Reflek, jemari Nessa bergerak untuk menghitung. Pada hitungan ketiga, bunyi guntur terdengar menggelegar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inertia (TAMAT - LENGKAP)
Ficción GeneralSelalu ada banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran seorang Gemintang Kanessa Adhitama. Apa? Mengapa? Lalu, bagaimana?Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya seakan seperti milyaran bintang yang mengelilingi pusat galaksi. Namun...
