Semasa kecil dulu, seringkali Nessa mendapat pepatah seperti ini dari gurunya, "Kejarlah cita-citamu setinggi langit." Pepatah itu memberikan motivasi yang besar untuknya dalam mengejar mimpi-mimpi. Dia memiliki ambisi yang kuat untuk mewujudkan impian itu. Tak kenal lelah, apalagi sampai menyerah.
Kini, setelah Nessa menentukan pilihannya, dia mulai menyederhanakan mimpi-mimpi itu. Menyederhanakan tidak berarti membatasi, apalagi memadamkan. Dia masih memiliki impian-impian yang ingin diwujudkan. Bedanya, kini dia berusaha menyelaraskan impian itu agar bisa berjalan beriringan dengan apa yang menjadi prioritasnya sekarang.
"Beneran kamu nggak pa-pa kalau kita nikah dalam waktu dekat ini?" tanya Gibran suatu hari ketika dia kembali pulang ke Jakarta.
Menerima lamaran Gibran berarti Nessa harus siap kapan pun dia akan menikah dengan laki-laki itu. Dia memang berencana menikah setelah lulus S2 dan Gibran pulang mau menunggunya. Namun, saat ayah ibunya meminta untuk mempercepat waktu dari yang direncanakan, Nessa mulai mempertimbangkan pilihan itu. Pada akhirnya, dia menyetujui keputusan itu. Untuk kali ini, bukan karena dipaksa, melainkan hatinya telah yakin pada pilihannya.
"Bukan soal nggak pa-pa, tapi aku sudah yakin dengan pilihan ini."
Meski tidak menatap Gibran secara langsung, Nessa bisa merasakan keterkejutan dari raut wajah laki-laki itu karena jawaban tak terduga dari Nessa.
"Pada akhirnya aku punya pemikiran lain soal mimpi. Kita boleh punya mimpi setinggi langit. Tapi pas mengejarnya, kita nggak boleh terlalu ambisius tanpa mempertimbangkan hal-hal lain yang terkadang justru nggak baik untuk kita."
Dari sudut mata, Nessa bisa melihat Gibran yang duduk berjarak satu meter di sisi kanannya itu diam menyimak penjelasannya.
"Makanya, aku pilih menyederhanakan mimpi-mimpi. Aku pilih wujudin mimpi itu, tapi harus sejalan sama pilihanku sekarang. Aku nggak akan ngejar sesuatu tanpa memikirkan orang-orang berharga yang ada di dekatku saat ini. Karena aku nggak mau kehilangan momen berharga bersama mereka kalau terlalu ambisius ngejar mimpiku."
"Karena itulah kamu akhirnya milih lanjut kuliah di sini?"
"Itu salah satunya." Nessa terdiam sejenak sebelum kemudian kembali melanjutkan, "Dulu, aku malah kepikiran buat main curang. Habis lulus S2, aku pengin berkarir di sana. Karena di sana lebih menjanjikan ketimbang di sini."
"Tapi, kalau beasiswa yang dipilih LPDP, kamu harus balik lagi ke sini."
"Makanya, aku bilang, aku main curang."
"Emang bisa kamu main curang?"
Nessa menatap Gibran yang dibalas laki-laki dengan senyuman.
"Tadi kamu bilang, kamu nggak akan ngejar sesuatu tanpa memikirkan orang-orang berharga yang ada di dekatmu. Berarti ... aku termasuk di dalamnya?"
Perlu waktu beberapa detik bagi Nessa memroses apa yang ditanyakan Gibran barusan.
"Itu ...." Nessa menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan. Pipinya terasa menghangat. Dengan gugup dia bersuara, "Juga salah satunya."
Meski tidak menatap langsung, dia merasakan Gibran kini tengah tersenyum semringah karena jawabannya itu.
***
"Selama sebulan LDM, kalian biasa video call-an berapa kali sehari?" tanya Magani setelah pesawat yang mereka tumpangi menuju Pontianak berada pada fase cruising.
"Kita belum pernah video call-an."
Magani sontak terbengang. "Sekalipun belum pernah?"
"Paling cuma chats. Atau kalau dia mau telepon, ya cuma telepon suara. Bukan video call-an."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inertia (TAMAT - LENGKAP)
General FictionSelalu ada banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran seorang Gemintang Kanessa Adhitama. Apa? Mengapa? Lalu, bagaimana?Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya seakan seperti milyaran bintang yang mengelilingi pusat galaksi. Namun...
