"Tadi kamu sudah makan?" tanya Arion ketika Nessa sudah duduk di sofa yang berada di ruangan kakak laki-lakinya itu.
Sehabis konsultasi dengan dosen pembimbingnya, Nessa memutuskan ke kantor Arion. Dia ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan kakaknya itu.
"Aku tadi sudah makan siang sama Gani di kantin kampus."
Arion mengangguk paham. "Sekarang minum dulu. Di kulkas cuma ada air putih," kata Arion seraya menyodorkan sebotol air mineral yang dia ambil dari kulkas di ruangannya ini.
Arion ikut duduk di dekat sofa yang diduduki Nessa. "Ada apa?" tanyanya setelah Nessa meneguk air mineral.
Nessa masih membisu, dia hanya memutar-mutar botol minum setelah menutupnya kembali. Dia sudah mengirimkan pesan sebelumnya, menanyakan apakah Arion ada di kantor siang ini. Tanpa memberitahu alasannya, Nessa yakin kakaknya itu tahu ada hal penting yang ingin dia katakan.
"Bang Rion ... bahagia nikah sama Mbak Vita?" tanya Nessa kemudian, tanpa menatap Arion.
Dari ujung mata, Arion tampak mengernyit heran. "Kenapa kamu nanya soal itu?"
"Bang Rion nikah karena dijodohkan. Apa Bang Rion bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Nessa lagi dengan kalimat yang lebih jelas.
Arion menghela napas panjang. "Sebenernya ada apa?" Alih-alih menjawab, Arion malah kembali bertanya.
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Aku belum bisa jawab kalau kamu belum bisa terus terang, Nessa."
Nessa menghela napas panjang. "Kenapa Ayah sama Ibu terus nyinggung-nyinggung soal pernikahan? Skripsiku saja bahkan belum selesai. Ayah bilang aku harus nikah dulu setelah lulus kuliah nanti. Ayah juga nggak setuju kalau aku lanjut S2 ke luar negeri. Ibu bilang, kalau aku tetap lanjut ke luar negeri, nanti LDR-an," ungkap Nessa mengeluarkan unek-unek di hatinya. Hanya pada Arion, Nessa bisa terbuka dengannya.
"Apa Ayah sama Ibu nggak mikir kalau aku lagi sibuk-sibuknya nyusun skripsi? Gimana aku bisa fokus kalau mereka terus nyinggung soal pernikahan? Ayah sama Ibu juga nggak pernah nanya apa aku setuju dengan perjodohan ini. Aku punya banyak mimpi, tapi Ayah sama Ibu justru mematahkan mimpi-mimpiku karena perjodohan ini."
Sebulir air mata tiba-tiba jatuh melewati pipi. Nessa segera menghapusnya dengan telapak tangan. Ketika Arion menyodorkan sekotak tisu kepadanya, Nessa menarik selembar tisu itu pelan, lalu mengusap air mata yang kembali menyembul keluar.
"Tadinya aku ngira Bang Rion bakal nolak perjodohan itu. Kalau Bang Rion nolak, seenggaknya aku bisa lebih berani untuk bicara sama Ayah sama Ibu kalau aku nggak setuju dengan perjodohan ini. Tapi, ternyata Bang Rion akhirnya nikah sama dia."
Meski masih ada beban di hatinya, setidaknya Nessa bisa mengeluarkan segala hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini pada Arion. Entah bagaimana tanggapan Arion, setidaknya beban di hatinya itu sedikit lebih berkurang sekarang.
Setelah memberikan kesempatan Nessa untuk berbicara, Arion kemudian bersuara, "Sekarang aku jadi tahu kalau kamu nggak setuju dengan rencana perjodohan itu." Arion mengusap bahu Nessa pelan, lalu kembali melanjutkan, "Besok aku sama Vita rencananya mau nginep di rumah Ayah. Mungkin aku bisa bicara soal ini ke Ayah sama Ibu."
Nessa sontak menatap Arion. Dia tidak menyangka Arion akan membicarakan soal kerisauannya ini kepada orang tuanya. Dia datang ke sini sekadar mencurahkan apa yang membebani pikirannya. Dia tidak berharap Arion akan membantunya menyuarakan keinginannya pada mereka.
"Kalau Bang Rion mau bicarain soal itu ke Ayah sama Ibu, nanti kalau mereka jadi ... kecewa gimana?" tanya Nessa ragu-ragu.
"Ayah sama Ibu nggak akan maksa kalau kamu nggak setuju, Sa. Ayah sama Ibu nggak bakal tahu kalau kamu nggak bicara soal ini ke mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inertia (TAMAT - LENGKAP)
General FictionSelalu ada banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran seorang Gemintang Kanessa Adhitama. Apa? Mengapa? Lalu, bagaimana?Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya seakan seperti milyaran bintang yang mengelilingi pusat galaksi. Namun...
