Butuh waktu berjam-jam sampai Aghya memutuskan untuk meminta maaf pada Genta. Demi menjaga rahasianya, Aghya harus baik-baik pada sang kembaran. Oleh karena itu, sepulang sekolah Aghya inisiatif membeli coklat untuk Genta. Walaupun kadang galak dan judes begitu, Genta suka makanan yang manis. Maka kali ini Aghya akan berusaha membujuknya dengan titik lemah tersebut. Peluang keberhasilan rencana Aghya ini tidak bisa dipastikan, tetapi dia berharap banyak. Dia bahkan rela keluar di tengah siang bolong yang panasnya amat menyengat.
Aghya buru-buru ke kamar Genta setelah mendapatkan berbagai macam coklat. Dia sudah merogoh kocek cukup dalam untuk membujuk Genta, jadi seharusnya berhasil. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu kamar sang kembaran dan menyelonong masuk karena Genta biasanya seharian berada di kamar.
“Buat lo!” Aghya menyodorkan kantong plastik yang dibawanya ke depan wajah Genta.
Mula-mula Genta melepaskan headset yang melekat di kepala. Saat ini dia sedang menonton live salah satu streamer kesukaannya. Dia menaikkan sebelah alisnya. “Tumben?”
“Permintaan maaf karena tadi siang ngajak lo berantem.”
“Makasih,” kata Genta tanpa banyak basa-basi. Dia memang sulit menolak godaan dari coklat. Sebuah senyum kecil ikut terbit di wajahnya. “Tapi bukan berarti gue langsung maafin lo gitu aja ya,” sambungnya kemudian. Aghya yang tadi sudah menghela napas lega pun kembali dibuat deg-deg ser.
“Maafin lah, Ge. Lo mau apa lagi? Gue beliin.”
Genta menggeleng. “Gue nggak mau barang.”
“Terus?”
>>>>>
[BACA LENGKAP DI KARYAKARSA]
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Aghya
Teen FictionHidup jadi Aghya pasti sangat menyenangkan, pikir orang-orang. Mereka selalu merasa kagum dengan Aghya yang datang dari keluarga kaya sekaligus memiliki saudara berprestasi. Tidak ada celah yang mereka lihat dari Aghya. Tanpa mereka tahu kalau Aghya...
