05

326 30 3
                                        

Entah sudah berapa lama Aghya terlelap di UKS. Dia terbangun karena sempat ada beberapa orang masuk ke UKS dan berbisik-bisik dengan suara nyaring. Aghya pun terbangun lalu segera melepas selang oksigen yang berhasil mengantarkannya ke alam mimpi. Sesak napasnya sudah berkurang. Hanya tinggal lemas serta sedikit pusing karena baru bangun tidur. Dia kemudian menoleh ke samping lalu menemukan sang kembaran memandangnya begitu intens.

"Jir!" pekik Aghya sambil mengusap dada karena terkejut. "Sakit apaan lo?" tanyanya tanpa basa-basi.

Genta menggeleng. "Lo udah mendingan? Kalo tau bakal kayak gini mending tadi pagi gak usah gue bolehin lo sekolah."

"Jawab pertanyaan gue dulu. Lo sakit apa? Perasaan kemaren baik-baik aja." Tak ayal ada setitik rasa khawatir dalam diri Aghya. Ia takut Genta tertular penyakitnya semalam. Sebab semalam ia beberapa kali batuk di dekat Genta.

"Masih sempet, ya, ngekhawatirin orang lain. Padahal lo sendiri kondisinya kayak gini."

"Ck. Apa, sih? Gue gak pa-pa."

Jangan harap Genta akan percaya bualan murahan itu. Dia sama sekali tidak tertipu. Dia melihat sendiri tadi Aghya tertidur dengan tarikan napas yang agak berat. Itu pun sudah dibantu dengan oksigen, bagaimana jika tidak? Kekhawatiran Genta malah makin menjadi kalau Aghya bersikap begini. Anak itu cenderung blak-blakan kalau merasa tidak enak badan. Hampir tidak pernah dia menutupi kondisinya. Sekarang Aghya malah bertindak sebaliknya.

"Nanti pulang sekolah langsung ke rumah sakit aja. Biar gue yang telpon Mama sama Papa," putus Genta sepihak.

"Jangan!"


>>>>>>>

















[BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA]




[]

How to Be AghyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang