Selain Genta, tidak ada lagi yang tahu kalau semalam Aghya sempat demam. Pagi harinya pun dia diam saja dan sarapan seperti biasa. Berangkat sekolah bersama Genta lagi karena sudah baikan berkat interaksi semalam. Genta mulai bercanda lagi dengan Aghya sehingga perjalanan mereka ke sekolah tidak hening seperti kemarin-kemarin. Aghya pikir sekarang masalahnya sudah berkurang, setidaknya sampai dia ingat kalau hari ini ada pelajaran olahraga dan harus ambil nilai praktek.
Aghya itu tidak mahir dalam berolahraga. Saat bermain futsal ataupun basket, dia selalu jadi beban timnya. Selain karena stamina yang buruk, Aghya juga cepat menyerah kalau sudah sekali kalah. Oleh karena itu, dia cemas dengan nilai PJOKnya. Kondisi Aghya belum pulih sepenuhnya sehingga baru pemanasan saja dia sudah kewalahan. Saat nama satu persatu siswa dipanggil, Aghya sudah kehilangan lebih dari separuh tenaganya. Kali ini yang akan dinilai adalah dribble dan lay up. Aghya bodoh sekali kalau disuruh mempraktekkannya.
Berhubungan awalan nama pemuda itu adalah alfabet pertama, Aghya juga dapat giliran di awal. Dia berhasil melakukannya walaupun dia bisa mendengar dumelan guru PJOKnya. Aghya hanya nyengir kuda lalu duduk ke pinggir lapangan bersama teman-temannya yang lain. Dia merebahkan tubuh tanpa basa-basi. Mendadak ia merasa pengap.
"Biasa aja kali! Udah kaya abis maraton keliling Indonesia aja," cemooh Eros sambil menyenggol tubuh Aghya. Kemudian tertawa bersama Ben karena menurutnya Aghya itu lebay.
Aghya segera bangkit karena napasnya makin berat. Dia tidak sempat membalas ucapan Eros dan fokus mengembalikan tempo pernapasannya. Dia memang cepat sekali lelah, tetapi biasanya tidak sampai begini. Apakah karena semalam dia sakit? Semalam juga dia menderita sesak yang mirip seperti ini. Aghya mengernyit karena mulai panik akibat usahanya menormalkan napasnya tak membuahkan hasil. Lama kelamaan dia malah jadi dilanda sensasi pusing.
Sang kawan lantas menyenggolnya lagi. "Buset. Masih aja lu. Makanya kalo diajakin olahraga tuh jangan males, gini aja lo udah megap-megap."
"Gue beneran anying!" balas Aghya sembari menyikut Eros yang masih sempat-sempatnya nyinyir.
Dua temannya kemudian tersadar kalau sekarang bukan waktunya bercanda. Ben segera menuju gerombolan anak perempuan yang biasa membawa tumblr saat pelajaran PJOK. Dia lantas menyodorkan tumblr yang dia pinjam dari mereka. "Nih, nih, minum. Pelan pelan."
Beberapa teguk air putih ternyata tak terlalu berdampak. Aghya masih merasa sesak dan pusing. Dia sampai bersandar pada Eros karena makin lama makin seperti melayang. Aghya benci sekali sensasi tak nyaman ini. Dia tak bisa apa-apa sekarang. Bahkan saat Ben mengadu pada Pak Kevin bahwa Aghya sedang sakit pun Aghya tak bisa melarang. Saat ditanya bisa bangkit sendiri atau tidak pun dia hanya menggeleng. Alhasil Pak Kevin harus menggendong Aghya di punggungnya untuk sampai ke UKS.
Wajah Aghya pucat sekali ketika sampai di UKS. Tak ayal membuat dokter jaga yang ada di sana terkejut. Tubuh Aghya segera dibaringkan di atas ranjang dan dia ditawari untuk menggunakan bantuan oksigen. Aghya iya-iya saja selagi bisa meringankan penderitaannya saat ini. Dia pun terkulai lemas di atas ranjang UKS dengan mata setengah tertutup. Terlalu lelah untuk sekadar basa-basi dengan orang di sekitar.
"Kok bisa begini tadi kenapa awalnya?" tanya dokter jaga UKS setelah memasangkan selang oksigen pada Aghya. Aghya juga sudah ditawari minum, tetapi dia menolak.
"Tadi belajar kayak biasa aja, kok. Saya ambil nilai praktek basket terus tiba-tiba kata mereka Aghya sakit. Saya nggak ngeh kalau dia sakit karena dia memang kurang cakap kalau soal olahraga. Pantas aja tadi dia nggak bertenaga waktu praktek," jelas Pak Kevin selaras dengan yang ia ketahui. Pria itu tak menyangka ternyata Aghya sedang sakit.
"Saya juga nggak tau kalau dia sakit kok, Pak. Tadi pagi dia baik-baik aja, masih bercandaan sama saya sama Ben," timpal Eros mendukung pernyataan Pak Kevin.
Sebuah helaan napas menyambut pernyataan mereka. "Dek Aghya punya penyakit tertentu? Kalau dari yang saya perhatikan, kalau cuma karena olahraga nggak mungkin sampai seperti ini. Kecuali memang fisiknya lemah."
"Dia ada asam lambung, Dok."
"Asam lambung? Dia ngeluh mual atau sakit perut nggak tadi?"
Ben dan Eros kompak menggeleng. "Enggak."
"Biasanya kalau asam lambung dibarengi mual atau sakit perut. Kayaknya bukan asam lambung. Coba nanti Dek Aghya tolong disuruh periksa supaya jelas ada masalah apa. Saya mau berasumsi juga nggak bisa karena hanya melihat dari apa yang terjadi barusan."
"Baik, Dok. Nanti saya sampaikan ke anaknya."
Percakapan mereka tidak didengar oleh Aghya karena anak itu rupanya sudah menyelami alam mimpi dengan begitu cepat. Ben dan Eros pun kemudian pamit undur diri karena masih jam pelajaran. Sementara Pak Kevin berdiskusi sejenak dengan dokter jaga UKS untuk memastikan bahwa pelajarannya bukanlah faktor utama penyebab Aghya terbaring di sini. Setelah puas dengan jawaban dokter jaga UKS bahwa Aghya bisa saja memang memiliki kondisi khusus sehingga aktivitas yang tidak terlalu berat pun bisa memicu keadaan seperti ini.
Sementara itu di belahan dunia yang lain, alias di salah satu kelas yang juga masih berlangsung kegiatan belajar mengajar, Genta kedapatan beberapa kali melamun sampai ditegur teman sebangkunya. Dia terus gelisah tanpa sebab. Hingga akhirnya Genta memilih untuk izin ke toilet karena butuh pengalihan supaya tidak terus-terusan melamun.
Langkah Genta malah terhenti saat melihat Ben dan Eros berjalan menuju ke arah lapangan. Genta buru-buru menghadang mereka. "Kok gak sama Aghya?" tanyanya to the point. Mereka bertiga itu seperti perangko yang tidak bisa dipisahkan, jarang sekali personilnya hilang satu begini.
"Nganu." Ben dan Eros malah saling menyenggol satu sama lain.
"Apa? Ke mana tuh anak?"
"Anu … di UKS." Ben akhirnya berkata jujur. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Aura mengintimidasi Genta sangatlah kuat.
Firasat Genta memang tidak pernah salah. Dia segera berlari ke ruang UKS setelah mendapatkan informasi yang dia butuhnya. Tidak heran sejak tadi dia gelisah tanpa sebab. Sekarang Genta si paling teladan itu sampai rela mangkir dari kelas karena mendengar kabar bahwa sang adik ada di UKS. Seumur-umur baru kali ini Genta merasa sekhawatir ini. Sebab semalam dia melihat sendiri bagaimana kondisi Aghya dan pagi ini pun menurutnya Aghya masih belum pulih total.
Jantung pemuda jangkung itu hampir saja jatuh ke lambung ketika melihat Aghya terbaring dengan selang oksigen yang bertengger di hidungnya. Genta terkejut sekaligus terpukul melihat pemandangan di hadapannya. Kondisinya persis saat waktu itu Aghya dilarikan ke rumah sakit karena asam lambung dan mengalami sesak napas. Genta menggigit bibirnya kuat. Apa yang terjadi pada Aghya?
"Loh, Dek, kok ada di sini? Sakit juga?"
Mata Genta memerah. Dia mengangguk, terpaksa berbohong. "Saya nggak enak badan. Boleh istirahat sebentar?"
"Oh, boleh. Mau minum obat? Atau mau saya ambilkan air putih?" tawar dokter jaga di UKS.
Genta menggeleng. "Mau istirahat aja."
Dokter jaga pun tak banyak bertanya karena wajah Genta sangat meyakinkan. Dia juga kenal siapa Genta—anak berprestasi yang namanya sering disebut saat upacara bendera karena mencetak banyak prestasi untuk sekolah. Tidak mungkin, kan, anak sepintar itu berbohong hanya untuk bolos? Bisa jadi juga karena sesama anak kembar—semua orang di sekolah ini tahu kalau mereka saudara kembar, jadi saat satu sakit, yang satu juga ikut sakit.
[]
Cerita ini sudah tersedia sampai chapter 22 di KaryaKarsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Aghya
Ficção AdolescenteHidup jadi Aghya pasti sangat menyenangkan, pikir orang-orang. Mereka selalu merasa kagum dengan Aghya yang datang dari keluarga kaya sekaligus memiliki saudara berprestasi. Tidak ada celah yang mereka lihat dari Aghya. Tanpa mereka tahu kalau Aghya...
