Chapter 4

163 17 0
                                        

“Luka-luka ini akan hilang sebentar lagi, kok. Kau yang jadi saksinya, ya.”


Atmosfer yang mengelilingi kelima anak itu mendadak canggung dan semakin condong ke arah menakutkan.  Rasanya bagai di kutub utara. Bisa mati lama-lama jika keadaan seperti ini terus dibiarkan. Tak ada yang bicara. Saling melemparkan keputusan lewat pandangan kecuali Jennie yang sejak awal hanya diam dengan wajah datar dan Taehyung yang terus memonopoli wajah tanpa ekspresi—tapi menakutkan, itu dengan senyum terukir di wajahnya.

Ini akan jadi kerja kelompok paling menyeramkan bagi Yuju, Eunha, dan juga Joy. Sejak nama mereka disebutkan setelah nama kedua orang aneh di kelas mereka itu ketiganya mendadak berkeringat dingin. Terlebih ketika mereka akhirnya melakukan rapat untuk membahas tugas kelompok mereka.

Untuk yang ke lima kalinya Joy kembali sikut-menyikut dengan Yuju. Hendak mengorbankan salah satu di antara mereka yang  bersedia mati muda, tapi baik keduanya yang terbiasa banyak omong di kelas malah tak berani mencicit. Semua itu akhirnya disadari si mungil dalam kelompok mereka yang tak disangka-sangka akan begitu berani menginterupsi dua makhluk mengintimidasi itu.

“Ja-jadi begini,” Ya ... meskipun terbata-bata tapi pada akhirnya Eunha berhasil menarik atensi dua Kim di hadapannya. 

Dua sejoli itu akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Dari tadi mereka menanti keputusan. Sengaja tak katakan apaapa karena tak ingin menakuti tiga dara itu. Namun nampaknya yang mereka lakukan berdampak kebalikannya.

“Bagaimana kalau kita kerjakan tugasnya siang ini? Hari ini pulang cepat 'kan?” ujar Eunha lancar pada akhirnya.

“Lebih cepat lebih baik,” sahut Jennie.
Yuju dan Joy saling bertatapan. Tersenyum lega sekali. Bangga pada Eunha yang begitu pemberani.

“Lalu, di mana sebaiknya kita mengerjakannya?” Kini Yuju sudah berani masuk ke dalam obrolan.

“Jangan di kafe yang pasti. Uang jajanku tidak banyak,” jawab Taehyung. Tak lupa melirik Jennie jahil yang kebetulan sedang menatapnya juga.

Perempuan itu mendecih. Tahu saja kalau Jennie juga tak punya uang untuk nongkrong. Taehyung kerap sekali bertindak layaknya pahlawan, namun dia pasti memiliki motif terselubung.

“Kenapa kita tidak mengerjakannya di sekolah saja?” tanya Jennie.

Namun ia tahu tak ada yang setuju dengan pendapatnya sebab wajah-wajah tiga perempuan di hadapannya berubah masam sementara mendapati Taehyung menertawakannya dalam diam membuat Jennie kesal.

“Tidak perlu. Bagaimana kalau di rumahku saja? Kita bisa sambil bersantai dan minum jus,” sela Joy. “Kalian tahu rumahku 'kan?” imbuhnya ditujukan pada dua sejoli di hadapannya. 

Mereka saling tatap. Melihat Taehyung selalu menunggu keputusan Jennie, Joy merasa geli. Kelompok mereka akan jadi kelompok para gadis sesungguhnya.

“Aku tahu,” jawab Taehyung.

“Memangnya kita tidak pergi sama-sama?” tanya Jennie membuat ketiganya meringis.

“Kami naik motor Yuju.”

Taehyung yang mendecih kali ini. Hampir meledakkan tawa sampai mati-matian ia tahan. Tidak bisa bayangkan saja ketiganya berboncengan dengan rok pendek. Belum lagi itu berbahaya dan melanggar tata tertib lalu lintas.

“Kalian tidak takut ditilang? Yuju, memang kau punya SIM?” ledeknya membuat yang ditertawakan merengut.

“Bukan urusanmu juga, sih,” sahutnya ketus.

“Sudah-sudah,” Joy melerai. “Pokoknya pulang sekolah kalian harus ke rumahku.”

“Iya.” Taehyung menjawab malas.

Setelah kesepakatan tiga perempuan itu pun pergi dari hadapan Taehyung dan Jennie dengan perasaan lega luar biasa.
Taehyung tahu belajar kelompok di rumah Joy adalah kabar buruk, tentunya untuk Jennie. Taehyung, sih ikut-ikut saja selama ia bisa cantumkan nama untuk dapatkan nilai. Namun,
Jennie nampak begitu gelisah. Dia memang tidak menyukai kegiatan yang melibatkan diri untuk bekerja sama dengan orang lain. Kalau bukan demi nilai, ia lebih baik mengerjakan sendiri.

“Kau tahu rumah Joy?” interupsi Taehyung.

Tatapan tajam Jennie setelah itu menjawabnya. Tentu takkan tahu. Taehyung rasa perempuan ini bahkan tidak tahu siapa nama-nama tetangganya saking cueknya dia terhadap lingkungan sekitar.

“Bukannya kau akan mengajakku?”

“Aku belum kepikiran, sih. Tapi kau ingin sekali pergi denganku, ya?”

Cih.

Masih sempat-sempatnya mempermainkan Jennie di saat suasana hati perempuan itu tengah genting serupa medan perang. Meriam meluncur baru tahu rasa nanti.

“Tentu saja aku akan mengajakmu,” seru Taehyung kemudian, terlampau bersemangat. Tersenyum sambil menopang dagunya dengan tangan kiri. Siku bertumpu pada meja. Tatapan menyorot Jennie lekat.
Butakan saja mata Jennie. Dia tidak sanggup berlama-lama melihat wajah tampan itu. Terlalu menyilaukan mata.

“Naik motor juga, yuk,” katanya kemudian dengan aksen dan wajah sok imut. Kepalang imut.

“Memangnya kau punya motor?”


***


“Jimin, please... Sekali ini ... saja. Ini demi masa depan hubunganku dengan Jennie.”

Sebenarnya Jimin malas jika Taehyung sudah memohon padanya begini. Mereka sudah mengenal lama. Terlampau dekat sampai Jimin rela berikan apa pun untuk sahabatnya ini. Tapi itulah Kim Taehyung. Dia terlalu manis jadi orang sampai Jimin tak tega. Jimin memang tidak tegaan orangnya.

“Kalian mau kencan ke mana, sih sampai harus pinjam motorku?” tanya Jimin seraya menyerahkan kunci motornya pada Taehyung.

Pemuda itu langsung berbinar-binar. Jimin senang melihatnya. Akhir-akhir ini Taehyung banyak tersenyum. Dihitung-hitung setelah pemuda itu mengaku padanya naksir Jennie. Tidak sangka perempuan itu memberi banyak perubahan bagus untuk sahabatnya ini.

“Bukan kencan, tapi ada kerja kelompok di rumah Joy,” jelas Taehyung.

“Tapi aku tahu kau akan memanfaatkannya untuk berkencan dengan Jennie,” tebak Jimin.

“Mungkin.” Taehyung tidak tahu.

“Ingat pulang tepat waktu. Jangan keasyikan mentangmentang sedang kasmaran.”

Taehyung tertawa. “Telat sedikit tidak apa-apa, Jim. Aku 'kan harus mengantar Jennie pulang,” sahutnya. “ Tidak sabar ingin tahu rumahnya,” decak Taehyung kemudian.

Jimin tersenyum diam-diam. Senang mengetahui saat ini ada hal yang bisa membuat Taehyung merasa bahagia dan banyak tersenyum. Dia tidak sedang nampak menghibur diri. Taehyung menikmati hari-harinya semenjak ada Jennie. Membuat Jimin tidak tega jika terus mengingatkan bahwa Taehyung tidak boleh keras kepala. Jimin hanya khawatir. Namun kali ini mungkin tidak apa-apa.

“Awas, ya pulang terlambat. Nanti minta tolong tidak kubukakan pintu,” kata Jimin pura-pura marah. Tak lupa melipat wajah juga kedua tangannya di depan dada.
Taehyung mencebik lucu lantas merangkul bahu sahabatnya itu.

“Ayolah Jim. Kau satu-satunya penolongku.” Taehyung mulai merayu sambil mengikuti Jimin yang kembali berjalan menuju kelasnya.

Napas pemuda itu berembus berat sepanjang langkah mereka. Taehyung yang mulai bersenandung riang adalah hiburannya. Tak lama senyum Jimin kembali terbit. Mereka berjalan bersama melintasi lorong-lorong kelas dengan bercanda. Meski begitu, Jimin tidak pernah merasa tenang.

“Aku ini pengecut, Tae. Tidak pantas disebut sahabat olehmu.”

***

Muncul kekhawatiran ketika Jennie akhirnya menunggu Taehyung mengambil motor Jimin di luar gerbang sekolah. Tentu banyak kemungkinan buruk yang akan menimpanya jika ia bersama pemuda itu. Dicegat musuh Taehyung, misalnya.
Membayangkannya saja sudah ngeri. Lalu nanti Jennie dapatkan luka di wajahnya dan ibunya akan marah besar. Dia mungkin tidak perlu berangkat sekolah lagi, ayahnya akan mendatangkan guru ke rumah dan itu pasti membosankan.

Jennie menggeleng. Mencoba enyahkan pikiran itu. Dia diajarkan untuk selalu berpikiran positif sekali pun itu pada orang jahat. Tapi begitu presensi Taehyung muncul bersama motor vespa kuningnya, Jennie malah semakin khawatir.

“Ayo berangkat. Pakai helm-mu,” katanya seraya menyerahkan helm dengan warna senada pada Jennie.

Perempuan itu menerimanya setengah hati. “Mana helm untukmu?” tanyanya mendapati rambut panjang Taehyung kini terpampang nyata di hadapannya. Juga, Jennie tak lihat helm lain di sana.

“Oh ... itu? Helmnya cuma ada satu, jadi kau saja yang pakai,” jawabnya.

Jennie yang nyaris meloloskan kepala ke dalam tempurung itu pun menurunkannya kembali. Menatap Taehyung kaget.

“Jadi kau akan berkendara tanpa helm?”

“Bagaimana lagi?” Taehyung mengangkat bahu. “Ayo cepat. Langitnya mendung.”

Menatap ke atas sebentar, Jennie akhirnya memakai helm itu dan membonceng di belakang Taehyung meski ia khawatir. Mereka tidak akan jatuh, 'kan? Apa Taehyung punya SIM?

“Pegangan!”

Shireo.”

Menoleh ke belakang dengan wajah dingin, Kim Taehyung memaksa Jennie untuk berpegangan pada perutnya. Jennie tentu akan langsung menarik tangannya, namun Taehyung terlampau picik. Dia memiliki kelemahan Jennie. “Kau lepas, kita tidak berangkat dan nilaimu nol.” Oke. 

Hanya berpegangan. Tidak perlu gugup meski Jennie yakin kini Taehyung sedang tersenyum menang sambil menyetir.
Tak lama, gerimis turun.

Liu_

TAINTED CINDERELLA (Available On Karyakarsa)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang