"Kau lepas, kita tidak berangkat dan nilaimu nol.”
“Dingin?”
Suara berat itu berhasil menyeret kembali nyawaku pada Realita. Menyaksikan teater hujan di depan mata membuat pikiranku terlempar menjelajahi banyak hal yang telah berlalu maupun masa depan yang kukhayalkan. Kini ketika kuputar sedikit kepalaku menyamping, kutemukan wajah penuh luka Kim Taehyung. Mata besarnya tengah memperhatikanku cemas. “Tidak,” jawabku lantas kembali menatap ke depan.
Setelahnya, tak ada lagi suara yang kudengar selain guyuran hujan yang makin deras. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat sehingga aku pun hanya bisa pasrah seandainya memang harus terjebak di sini bersama Taehyung lebih lama.
Kuembuskan napas lelah. Kelompok kami memang sudah bobrok dari awal. Hanya dengan adanya Kim Taehyung saja sudah pertanda buruk. Dan firasat itu sekarang benar terjadi. Baru semenit motor yang kami tumpangi melaju, hujan turun deras tanpa ancang-ancang. Dan karena tak membawa mantel hujan dan juga tidak mau sakit kalau memaksa hujan-hujanan, akhirnya kami berteduh di emperan toko yang kebetulan pemiliknya baik hati mengizinkan kami berteduh sementara.
Sebenarnya tidak nyaman. Tidak ada bangku di sini. Sejak tadi kami jongkok dengan punggung menempel pada tembok karena kami juga harus berbagi kanopi dengan motor butut yang membawa kami sampai sini. Lama-kelamaan dingin juga. Ini sudah terlalu lama.
“Kalau dingin bilang. Kenapa, sih kau selalu berpura-pura kuat?” tegur Taehyung setelah melihatku memeluk tubuhku sendiri.
“Kemarikan tanganmu,” katanya kemudian.
“Untuk apa?” Aku sedikit waspada.
“Aku tidak sedang modus. Kasihan saja bibirmu sampai
biru begitu.”
Lalu tanpa persetujuanku Taehyung meraih sebelah tanganku. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada knalpot motornya. Memegang benda itu tanpa penghalang membuatku melotot. Memangnya tidak panas? Tak lama kemudian dia menyentuh tanganku yang ada pada tangannya yang lain. Hangat. Kami kemudian saling menatap.
“Bagaimana?” tanyanya.
Buru-buru kutarik tanganku darinya. Memalingkan muka. Aku gugup luar biasa sampai rasa-rasanya pipiku mengeluarkan semburat merah.
Tak lama setelah itu sebuah kain menyergap tubuhku. Rasanya jauh lebih hangat dari tanganku yang disentuh Taehyung. Menyadari jaketnya kini tersampir di bahuku, aku merasakan jantungku memukul rongga dada dengan kuat.
Berisik seolah ada tawuran di sana.
“Taehyung, tidak perlu.”
“Sudah pakai saja.” Dia menahan jaketnya tetap di pundakku. “Aku tidak sedang sok romantis. Ini benar-benar dingin.”
Lalu Taehyung mencoba menghangatkan tubuhnya sendiri dengan knalpot motornya.
Sesaat aku memperhatikan. Baru sadar bahwa ini pertama kalinya Taehyung membuka jaketnya di hadapanku. Tidak seperti prasangka awalku yang mengira akan ada banyak kejutan di lengannya—seperti tato misalnya, aku malah dibuatnya melongo lagi-lagi karena di sana, kutemukan luka yang jauh lebih mengerikan dari yang ada di wajahnya.
Lengannya begitu kecil. Tak ada otot yang bisa dibanggakan. Tubuh Kim Taehyung lebih kurus dari perkiraanku, dan dia harus menerima pukulan yang mungkin berlangsung tiap harinya. Apa anak ini memiliki tulang sekuat besi? Ia bahkan masih sanggup bersikap biasa di sekolah dengan luka sebanyak itu seolah harinya berlalu sesuai dengan harapannya. Padahal, pastinya itu sakit sekali.
“Duh, 'kan, 'kan .... Kau akhirnya melihat lengan kurusku.” Dia terkekeh ketika menyadari aku memperhatikannya.
Lihat bagaimana dia tersenyum. Ini terasa janggal. Padahal aku yakin lukanya tidak cuma ada di tangan. Bisa jadi sekujur tubuh. Kenapa aku merasa peduli padanya sekarang? Padahal dia begitu juga karena kenakalannya yang tidak patut dibanggakan. Hanya saja melihat semua itu, seolah rasa sakitnya berpindah padaku.
“Taehyung, kau ini sebenarnya orang yang seperti apa?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Senyuman di wajah itu perlahan memudar. Tatapannya gamang. Aku tahu dia mengerti maksudku. Hingga tak lama ia nampak berhasil menguasai diri dan senyum ia berikan seraya menatapku.
“Mari kita saling mengenal lebih dalam. Aku juga penasaran kau ini orang yang seperti apa.” Oke.
Persiapkan dirimu, Jennie Kim.
***
Tok, tok, tok!
Dua orang itu langsung menatap pintu depan begitu suara dari sana masuk pendengaran. Sesaat Jimin menatap wanita di hadapannya lantas meletakkan piring berisi lauk di tangannya ke atas meja.
“Biar aku yang buka, Bu.”
Sang wanita paruh baya tersenyum. Jimin melintas cepat meninggalkan meja makan untuk membukakan pintu bagi tamu mereka. Menerka siapa kiranya yang datang pada jam makan malam begini.
Ketika ia putar knop pintu dan melebarkannya, Jimin kaget karena tiba-tiba tubuh seseorang jatuh ke dalam. Jimin sontak memegangi orang itu dan ketakutan seketika melumuri perasaannya.
Jimin mulai berteriak memanggil ibunya. Ada yang sekarat di sini. Jimin takut kalau kali ini orang itu akan mati. Dia menutup mata dengan darah merembes dari poni-poninya. Tubuhnya sangat lemas. Tak lama ia terbatuk dan darah juga keluar dari mulutnya seperti lelehan sampo.
“Tae, bangun Tae!” Jimin mengguncang-guncang tubuh itu kesetanan.
“Tae ... TAEHYUNG!”
***
“Sampai jumpa di pertemuan minggu depan.”
Kelas mulai gaduh kembali setelah Guru Lee meninggalkan kelas. Semua orang mulai berhamburan ke luar untuk jam makan siang. Namun aku mendapati diriku mengemasi alat tulisku cukup lambat dari biasanya. Kuambil kotak bekalku dari dalam tas. Menaruhnya di atas meja. Kubuang napas keras sebelum menjatuhkan pandangan ke meja sebelah.
Kosong.
Tak ada Moon Bok karena pemuda jangkung itu memang tidak lagi duduk di sana sejak Taehyung kerap kali menyuruhnya pindah agar bisa mengusikku. Tapi hari ini sepertinya Taehyung akan berangkat lebih telat dari biasanya.
Kenapa aku gelisah begini?
Bahkan ketika akhirnya aku duduk di kantin, aku berharap Taehyung muncul seperti biasa. Aku sengaja membuat roti lapis lebih banyak hari ini. Hanya ingin berterima kasih karena dia mengantarku kemarin, meski begitu telat sampai Yuju, Eunha, juga Joy merengut ketika kami datang. Dia juga mengantarku pulang meski itu membuatku mendapat pukulan dari Ibu. Berpikir aku kelayapan dan pacaran yang mana tak ada izin bagiku untuk hal satu itu.
Sekali lagi tatapanku jatuh pada tanganku. Ada bekas sabetan lidi di sana. Kecil, sih. Tapi aku bersumpah itu sakit. Kemudian aku teringat luka- luka di tangan Taehyung. Aku mungkin akan mati jika dipukul separah itu.
Hari ini, apa Taehyung terluka lagi?
Acara makan bekalku benar-benar kacau. Selera makanku menguap pergi. Roti lapisku terasa hambar karena terus teringat Taehyung. Jadi kuputuskan untuk membersihkan jendela saja meski hari ini bukan jadwal piketku. Siapa tahu setelah ini aku bisa berhenti memikirkan Taehyung. Berhenti mengkhawatirkannya.
“Oi?”
Aku menoleh ke samping. Sedikit kaget ada anak lelaki berpipi gembil tengah membersihkan kaca jendela di sampingku. Kutoleh sekeliling karena sepertinya tadi ada yang memanggil tapi lelaki di sampingku tidak menatap ke arahku. Tapi apa yang dia lakukan di sini? Kurasa dia bukan anak dari kelasku kenapa dia membantuku?
“Aku temannya Taehyung.”
Aku terkesiap mendengar ucapan pemuda itu. Dia seolah mendengar apa yang kupertanyakan dalam batinku. Dia kemudian menoleh padaku. Mata kecilnya menatapku. Tak lama mata itu tinggal segaris saja akibat bibirnya yang tiba-tiba melengkung.
Ini aneh. Kenapa dia tiba-tiba tersenyum?
“Namaku Park Jimin,” katanya.
“O-oh?”
Aku bingung apakah perlu kusebutkan namaku juga karena kurasa dia pasti sudah tahu.
“Taehyung menyuruhku membantumu, jadi tidak perlu takut padaku,” katanya lagi.
“Aku tidak takut,” sahutku.
Jimin hanya tersenyum tanpa menatapku. Lalu kami mulai membersihkan jendela kembali dalam hening. Tidak ada yang bicara. Aku benar-benar tidak tahan dengan perasaan yang mendesak ini. Kucengkeram kanebo di tanganku erat sebelum menatap Jimin kembali.
“Itu ... kenapa hari ini Taehyung tidak berangkat?”
Park Jimin menatapku lagi. Sorot matanya begitu misterius. Aku mencium sesuatu yang tidak bagus di sini. Hingga jawabannya keluar.
“Taehyung sakit.”
Ah, apa karena hujan-hujanan kemarin?
“Sakit apa?”
Liu_
KAMU SEDANG MEMBACA
TAINTED CINDERELLA (Available On Karyakarsa)
FanfictionSpoiler E-book TreeLiu yang sudah terbit.
