1. Lamaran Di Sela Ajal

272 19 0
                                        

1. Lamaran Di Sela Ajal

Hari ini Jennie akan melanggar sumpahnya.

Seoul itu mengerikan baginya kapan pun ia mendengar nama kota itu. Bukan tentang kepadatan penduduknya, atau hingar bingar yang menggelapkan mata, tetapi kota itu telah menorehkan luka batin yang tidak akan pernah sembuh seumur hidup.

Seoul telah merenggut nyawa ibunya. Di Seoul pula ayahnya kini membangun keluarga baru hanya sebulan setelah kematian ibu Jennie, sehingga  gadis itu pikir pria itu telah berkhianat jauh sebelumnya, terlebih orang yang secara hukum kini menjadi ibu tiri Jennie adalah mantan asisten ibunya dulu.

Sampai mati pun Jennie tidak berniat menginjakkan kembali kakinya ke Seoul setalah dirinya ditelantarkan, tetapi nyatanya saat ini ia tengah dalam perjalanan pesawat dari Jeju menuju daratan utama.  Alamat yang ia tuju adalah rumah masa kecilnya.

Biarlah, toh Jennie datang bukan untuk dirinya, tetapi demi memperjuangkan hidup orang yang saat ini paling berarti dalam hidupnya, neneknya. Satu-satunya keluarga Jennie yang masih ada, kendati ayahnya masih hidup. Jennie tidak ingin mengakui pria itu, tetapi ia bermaksud ke Seoul untuk menemui ayahnya. Karena hanya dengan cara itu neneknya bisa diselamatkan. Hanya dengan pergi ke Seoul dan mengambil hak warisan yang ditinggalkan ibunya, sang Nenek bisa tetap hidup dari penyakit jantung yang mengancam jiwanya.

Siapa yang tahu 'kan bahwa Jennie masih memiliki peninggalan harta senilai lima ratus juta won dari ibunya? Jennie pikir ibunya pergi begitu saja dan melupakannya, tetapi sampai mati hanya wanita itu yang mengkhawatirkan masa depannya. Karena kini usianya telah legal, sang Nenek mulai membuka apa-apa saja yang selama ini ia pendam, termasuk tentang peninggalan sang Ibu yang harusnya jadi milik Jennie. Rupanya, Choi Seungyoon tidak membawa aset berharga saat menikahi ibu Jennie kecuali hanya kelaminnya saja. Jennie harap pria itu tidak akan menyulitkannya nanti karena ia menikahi nenek sihir. Jennie harap semuanya akan berjalan lancar dan ia bisa segera kembali ke Jeju untuk menemani neneknya.

"Sudah sepuluh tahun, ya? Seperti apa Seoul saat ini?" gumamnya gelisah. Ia mencoba tidur di kursinya, tetapi ia berakhir hanya bergerak ke sana-kemari hingga menarik perhatian orang-orang yang duduk di dekatnya.

Itu penerbangan yang singkat, jadi Jennie hanya membawa dirinya saja. Lagi pula ia tidak berpikir untuk menginap. Tak akan ada yang menyuruhnya menginap juga mengingat ayah dan ibu tirinya memperlakukan Jennie layaknya Upik Abu di hari-hari terakhirnya di Seoul sepuluh tahun lalu. Bahkan bisa jadi kedatangan Jennie tidak pernah mereka harapkan. Terlebih, Jennie datang untuk uang.

Satu jam lebih setelah pesawat lepas landas, Jennie mendarat dengan selamat di bandara Seoul. Buru-buru ia membuka ponselnya dan menelepon sang Nenek. Memberinya kabar bahwa dirinya telah sampai dengan selamat.

"Kau masih ingat alamat rumah ayahmu, 'kan?" tanya neneknya.

Dari suara berat yang Jennie dengar itu neneknya pasti khawatir. Jennie tidak pernah bepergian jauh selama ini, kali ini malah pergi sendirian.

"Tentu masih ingat!" jawab Jennie meyakinkan.

Namun, setelah itu dadanya terasa pedih. Dulu ia menghafal alamat rumahnya susah payah hingga ingatan itu tertanam kuat bahkan hingga sepuluh tahun berlalu. Padahal, ia punya sumpah untuk tidak pernah datang lagi ke Seoul, tetapi ia bahkan masih ingat dengan alamat rumah masa kecilnya.

"Jika Chaerin memancing amarahmu, abaikan. Kalau ayahmu menolak memberikan uang itu, tunjukkan salinan surat wasiat mendiang ibumu. Kau tidak lupa membawanya, 'kan?"

"Ya. Aku membawanya di tasku. Mau kubelikan apa saat aku pulang nanti? Mau pizza?"

"Kau ingin dapat ceramah dokter Kim?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

TAINTED CINDERELLA (Available On Karyakarsa)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang