Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Ketua kelas!”
Suara itu begitu khas hingga Jennie sudah tahu siapa orangnya bahkan sebelum matanya menemukan presensi pemilik suara berat itu. Jabatan sebagai ketua kelas membuatnya hafal semua orang di kelasnya, termasuk tipe suara mereka. Namun, khusus yang ini Jennie tidak menyukainya.
Namanya Hwang Taehyung. Pemuda yang sudah sejak satu semester pertama di kelas dua mulai jadi teman sekelas Jennie. Suaranya tidak jelek. Dia bahkan punya wajah yang enak dipandang. Kecuali tentang penampilannya yang mengubur pesona ketampanan itu. Pemuda yang kenakalannya dulu hanya Jennie dengar dari kabar angin, kini sudah jadi tontonan wajib dari Jumat hingga Senin. Yang terburuk, pemuda itu punya geng. Dan sejak dia ada di kelas yang sama dengan Jennie, gadis itu kini dikenal sebagai pemimpin kelas gangster.
Jennie masih tidak habis pikir, mengapa ia dimasukkan ke sarang anak-anak nakal sedangkan ia menjadi peringkat satu di kenaikan kelas?
“Hm?”
Khusus untuk pemuda ini beserta gengnya, Jennie malas bicara. Ia sudah sakit kepala hanya dengan memandang pemuda itu berjalan sampai ke tempatnya. Ia sudah berbesar hati mau mendengarkan apa yang ingin disampaikan Hwang Taehyung, kendati wajahnya memuakkan sekali. Dia bahkan bersikap begitu santai, padahal pagi ini sudah membuat Jennie naik darah karena menolak piket.
“Kau ada waktu?” tanyanya seolah punya urusan penting.
“Untuk?” tanya Jennie curiga. Ia punya firasat buruk.
“Ada yang ingin kubicarakan,” jawabnya cukup meyakinkan.
Namun, Jennie merasa tidak ingin tahu apa yang hendak pemuda itu sampaikan. “Katakan saja di sini,” katanya seraya kembali pada pekerjaan yang dititipkan wali kelas untuknya. Mengisi jurnal harian.
“Di tempat seramai ini?” protes Taehyung membuat Jennie menghela napas lelah.
“Lalu kenapa? Apa kau ingin mengatakan rahasia negara hingga perlu tempat sepi?”
“Ya. Ini tentang rahasia hatiku,” jawab Taehyung membuat Jennie menekan penanya terlalu dalam. Firasatnya makin positif mengarah pada hal buruk.
“Oh. Apa itu?” tanyanya penasaran.
“Aku menyukaimu, Ketua Kelas. Mau jadi pacarku?”
Dari banyaknya jenis bencana paling ekstrem yang bisa terjadi di dunia ini, mengapa Jennie ditimpa yang seberat ini?
“Aku baru empat belas tahun.”
Jennie tidak memiliki alasan untuk menerima pernyataan suka itu. Ia juga tidak bermaksud untuk berbasa-basi. Namun, Hwang Taehyung nampaknya tidak terima dengan jawaban Jennie dan malah meminta alasan. Padahal, bisa saja itu akan terdengar menyakitkan.
“Lalu kenapa?”
“Aku sedang sibuk belajar. Aku tidak terpikirkan untuk berpacaran. Tidak pernah sama sekali.”