Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku bertemu kembali dengan pemuda yang pernah kutolak cintanya lima tahun setelah aku hidup tanpa pernah melihat wajah atau mendengar kabarnya sama sekali.
Hwang Taehyung itu pemuda yang tampan. Namun, bukan jenis manusia yang ingin kau pacari karena tingkahnya. Dia dikenal sebagai ketua geng anak-anak nakal saat kami SMP. Penampilannya urakan, pun garang. Persis seperti preman. Aku belum pernah melihat Taehyung bersikap ramah bahkan ketika ia menyatakan perasaannya padaku dulu. Terkesan memaksa. Taehyung terlalu percaya diri akan diterima. Berpikir bahwa dia bisa mendapatkan gadis yang ia suka bermodalkan wajah tampan dan menebarkan rasa takut belaka.
Bahkan saat itu kupikir mungkin aku akan bernasib sama seperti Junko Furota.
Sampai hari ini aku bahkan masih bertanya-tanya, mengapa aku pernah menjadi gadis yang masuk ke dalam kriterianya. Maksudku, aku adalah gadis baik-baik yang memiliki segudang prestasi saat SMP. Bahkan, tiga tahun berturut-turut aku menjabat sebagai ketua kelas hingga dibenci karena terlalu kaku. Bagi anak-anak nakal, tipe sepertiku biasanya yang paling mereka hindari. Namun, setelah ditolak sekali, Taehyung tidak pernah datang lagi. Dia menerima penolakanku tanpa drama. Tak ada balas dendam yang kuterima di bangku SMP.
Namun, aku juga tidak pernah tahu apakah kala itu aku melukai perasaannya, karena aku yang dulu sangatlah angkuh. Ketika lima tahun kemudian kami bertemu kembali setelah sama-sama dewasa—bahkan karena suatu keadaan kami harus berbagi tempat tinggal, aku sadar bahwa Hwang Taehyung mungkin menyimpan dendam.
Aku agak terkejut bahkan pangling saat melihatnya kembali setelah jeda waktu yang lama. Hwang Taehyung di usia dua puluh dua terlihat lebih ramah dan ... sangat tampan. Dia tidak nampak urakan kendati rambutnya sedikit panjang. Dia berpakaian rapi nan bersih. Bahkan kuakui dia sangat wangi meski kami berdiri cukup jauh. Aku bisa merasakan aroma masa lalu di hidungku, kendati pandanganku tentang fisiknya telah berubah.
Masa depan memang tidak ada yang tahu, ya?
Menyadari bahwa penampilanku telah berubah amat jauh, berhadapan dengan Taehyung yang menjadi cemerlang, kusadari aku hanya terus menundukkan pandang. Meremas jemari saat Taehyung ajak bicara. Gagap ketika harus menjawab pertanyaannya yang amat gampang. Jika situasi saat SMP terulang di usia kami yang dewasa ini rasa-rasanya aku tidak akan berani menolaknya. Malah kurasa seorang Taehyung tidak akan pernah menyukai gadis seperti diriku versi dewasa.
“Kau banyak berubah, ya, Jennie?”
Hwang Taehyung telah mengulangi kalimat itu beberapa kali sejak pertemuan pertama kali. Entah apa tujuannya, nampaknya dia hanya ingin bilang bahwa kini nasib kami seolah tertukar.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Kalimat “oh, ya?” keluar sebagai tanggapan. Dan untuk pertama kalinya sejak lima tahun, aku melihat Taehyung tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang bercampur geli. Juga senyum termanis yang pernah kusaksikan dari siapa pun manusia yang pernah kutemui. Meski demikian, aku merasakan kengerian. Senyum Taehyung kali ini layaknya iblis yang tengah merayakan kemenangan.
“Dulu kau seperti barang impor di mataku. Kau mahal dan berkualitas tinggi. Sulit untuk didapatkan. Meski sakit hati kau tolak, aku merasa tidak berhak untuk membalasmu karena kita beda level sejak awal. Harusnya aku tahu diri kala itu," katanya membuatku merasa dilambungkan, tetapi juga diinjak secara bersamaan.
Pemuda itu lantas tergugu. Dia banyak tersenyum saat dewasa. Meski senyuman itu amat manis, dia tetap saja terlihat garang dan ... menakutkan.
“Kau masih cantik dengan gaya busana maupun rambutmu yang sekarang, Jennie,” sambungnya, “tetapi aku tidak pernah membayangkan bisa menyentuhmu hanya dengan membayar. Kau lebih suka uang, ya, dari pada perasaan yang tulus?"
Tanganku yang terkulai lemas di pangkuan bergetar. Taehyung menatapku lebih lekat, seolah ingin meneliti wajah juga eskspresiku, membuat pipiku merona, padahal sekarang baru wajahku saja yang ia tatap, sementara kami punya agenda yang lebih berani, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan olehku sama sekali, tetapi telah kusepakati. Meski tidak berani melihat wajahnya, aku tahu dari posisi kami sekarang bahwa dia sedang memandang lekat wajahku dan tertawa. Dia sedang meledekku.
“Tidak ada manusia yang bisa dipercaya,” jawabku membuat Taehyung tergugu.
Aku merasa bisa menerima hinaan semacam ini tanpa merasa sakit hati lagi sekarang, karena dulu pun aku berpikir masa depanku begitu cerah. Namun, Taehyung sedang membuktikan bahwa aku bukanlah siapa-siapa tanpa uang. Bahkan aku sedang menjual diriku padanya demi beberapa lembar uang.
“Jadi ... kita mulai dari mana dulu, Jennie?” tanyanya membuatku kontan menegang.
Aku mencoba tenang. Meski gemetar sekujur badan, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan Taehyung.
“Terserah,” jawabku.
“Kalau kau bilang terserah, maka ... buka bajumu!”